Kopi Asap dan Harga Sebuah KeyakinanCerpen Kehidupan

Kopi Asap dan Harga Sebuah Keyakinan

Perwirasatu.co.id, Sabtu 16 Mei 2026.

Pagi itu warung kopi kecil di ujung gang masih setengah terjaga, seperti pemiliknya yang duduk santai sambil menyalakan rokok pertama. Di tempat itulah percakapan sederhana sering berubah menjadi perenungan panjang tentang hidup. Orang datang bukan hanya untuk minum kopi, tetapi juga untuk berbagi beban yang tak selalu terlihat. Di antara kepulan asap dan suara sendok beradu gelas, saya mulai memahami bahwa keyakinan bisa lebih mahal dari sekadar uang.

Pak Dawam selalu menjadi pusat perhatian meski ia tidak pernah berusaha mencolok. Caranya tertawa, cara ia menyapa orang, hingga caranya memandang hidup terasa ringan seolah tidak ada beban yang benar benar menekannya. Ia sering datang lebih pagi dari siapa pun, duduk di kursi kayu yang sama, dan memesan kopi hitam tanpa gula. Rokoknya hampir tidak pernah padam, seakan menjadi bagian dari napasnya sendiri.

Suatu hari saya mencoba menggoda sekaligus menegurnya dengan nada santai. Saya bilang, jika ia berhenti merokok, mungkin cicilan rumahnya sudah lunas. Ia tidak tersinggung, malah tertawa lebar seperti mendengar lelucon terbaik pagi itu. Matanya menyipit, lalu ia menjawab bahwa kalau logika itu dipakai, berhenti makan mungkin sudah membuatnya punya hotel.

Tawa kami pecah, tetapi kalimat itu tertinggal lebih lama di kepala saya. Ada sesuatu yang terasa benar sekaligus keliru di dalamnya. Ia seperti menolak cara berpikir hemat yang selama ini dianggap aman oleh banyak orang. Baginya, hidup tidak seharusnya dihabiskan untuk menahan diri, melainkan untuk memperbesar kemungkinan.

Obrolan kemudian bergeser ke soal uang dan cara mencarinya. Pak Dawam berkata bahwa terlalu berhemat bisa merusak keberanian seseorang. Ia percaya bahwa yang perlu diperbaiki bukan pengeluaran, melainkan cara mendapatkan pemasukan. Jika satu tempat tidak memberi hasil, menurutnya, maka pindah adalah pilihan yang wajar karena rezeki tidak pernah diam di satu titik.

Saya mulai melihatnya bukan sekadar sebagai pelanggan warung kopi, tetapi sebagai seseorang yang sedang membangun narasi hidupnya sendiri. Cara bicaranya penuh keyakinan, meski tidak selalu didukung bukti nyata. Ia seolah berdiri di antara optimisme dan pengingkaran. Dan saya, tanpa sadar, mulai ikut mempercayai sebagian dari kata katanya.

Beberapa hari kemudian ia mengajak saya melihat sebuah ruko kecil di pinggir jalan yang cukup ramai. Ia mengatakan bahwa tempat itu akan menjadi warung kopi miliknya sendiri. Ruangannya masih kosong, dindingnya kusam, dan lantainya berdebu, tetapi ia berbicara seolah tempat itu sudah penuh pelanggan. Saya melihat harapan yang tumbuh di ruang yang bahkan belum layak disebut usaha.

Dalam waktu singkat, warung itu benar benar berdiri meski sederhana. Meja dan kursinya tidak seragam, lampunya sedikit redup, dan papan namanya ditulis tangan. Namun Pak Dawam hadir setiap hari dengan semangat yang sama seperti saat ia berbicara tentang rencana itu. Ia menyeduh kopi sendiri, menyapa setiap orang, dan memperlakukan pengunjung seperti tamu penting.

Hari hari pertama terasa menjanjikan, meski tidak ramai. Beberapa orang mulai datang, sebagian karena penasaran, sebagian karena kenal dengannya. Ia tampak bahagia, bahkan lebih hidup dari sebelumnya. Saya mulai berpikir bahwa mungkin keyakinannya tidak sepenuhnya keliru.

Namun waktu berjalan tanpa kompromi. Pengunjung tidak bertambah signifikan, bahkan cenderung berkurang. Malam malam di warung itu mulai terasa panjang dan sunyi. Suara sendok yang dulu ramai kini hanya sesekali terdengar, digantikan oleh bunyi korek api dan tarikan napas panjang.

Pak Dawam tetap bertahan, tetapi ada perubahan yang sulit disembunyikan. Senyumnya masih ada, namun tidak lagi utuh. Ia berbicara lebih sedikit, dan rokoknya semakin sering menyala tanpa jeda. Warung itu masih berdiri, tetapi harapan di dalamnya mulai retak perlahan.

Suatu malam saya datang dan mendapati ia duduk sendirian di sudut. Lampu kuning redup membuat bayangannya tampak lebih tua dari biasanya. Ia menyambut saya tanpa banyak kata, hanya menyodorkan secangkir kopi yang terasa lebih pahit dari biasanya. Kami duduk lama tanpa percakapan, seolah masing masing sedang berdialog dengan pikirannya sendiri.

Akhirnya ia bercerita, bukan dengan semangat seperti dulu, tetapi dengan nada yang lebih jujur. Ia mengaku bahwa ruko itu didapat dari pinjaman yang cukup besar. Ia juga mengakui bahwa selama ini ia sering berpindah pekerjaan bukan karena mencari peluang, tetapi karena tidak pernah benar benar bertahan. Semua yang ia katakan dulu ternyata lebih merupakan harapan daripada kenyataan.

Saya merasa seperti ditarik kembali ke awal percakapan kami di warung kopi lama. Kalimat tentang berhemat dan mencari uang tiba tiba terdengar berbeda. Ia bukan sedang mengajarkan sesuatu, melainkan sedang meyakinkan dirinya sendiri agar tidak takut. Keyakinan yang dulu terdengar kuat ternyata dibangun di atas keraguan yang tidak pernah ia akui.

Ketika saya bertanya apakah ia menyesal, ia menggeleng pelan. Ia berkata bahwa mencoba tetap lebih baik daripada tidak sama sekali. Namun kali ini tidak ada tawa yang menyertainya. Hanya ada kelelahan yang ia simpan rapi di balik wajahnya.

Beberapa minggu kemudian warung itu tutup tanpa tanda apa pun. Tidak ada pengumuman, tidak ada penjelasan. Hanya pintu yang terkunci dan debu yang mulai kembali menempel di kaca. Orang orang berhenti bertanya setelah beberapa waktu, seolah keberadaan warung itu memang hanya singgah sebentar.

Berbulan bulan kemudian saya melihatnya di sebuah kafe besar di pusat kota. Ia mengenakan seragam rapi dan bekerja dengan gerakan yang terlatih. Tangannya cekatan meracik kopi, senyumnya profesional, dan tatapannya lebih tenang. Ia terlihat seperti orang yang berbeda, tetapi juga sama dalam cara yang sulit dijelaskan.

Kami sempat saling pandang, tetapi tidak ada percakapan yang terjadi. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali melayani pelanggan. Saat itu saya menyadari sesuatu yang tidak pernah saya pahami sebelumnya. Bukan warungnya yang gagal, melainkan cerita yang ia bangun tentang dirinya sendiri.

Dan yang paling mengejutkan, saya mulai melihat diri saya di dalam dirinya. Tanpa sadar, saya telah menggunakan kalimat kalimatnya untuk membenarkan keputusan keputusan saya sendiri. Saya juga pernah memilih untuk tidak berhemat dengan alasan mencari peluang yang lebih besar. Saya juga pernah berpindah dengan keyakinan bahwa tempat baru pasti lebih baik.

Di tengah hiruk pikuk kafe itu, saya akhirnya mengerti bahwa Pak Dawam bukan sekadar teman yang gagal membuka usaha. Ia adalah cermin yang selama ini saya abaikan. Dan pada saat itu, saya tidak lagi yakin apakah saya sedang belajar dari kisahnya, atau justru sedang berjalan menuju akhir cerita yang sama.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)