Membaca Perlawanan Dari Sukmadji Indro Tjahjono ke Rismon Sianipar
Keterangan Gambar : Sukmadji adalah caretaker Dewan Mahasiswa ITB. Ia diadili karena mengkritik dwifungsi ABRI. Ia aktivis tahun ’78, diadili pada 1979. Karena sikapnya, ia masuk terali besi, dikerangkeng oleh pemerintahan Orde Baru.
Perwirasatu.co.id - Di masa awal menjadi mahasiswa, saya membaca buku pledoi Sukmadji Indro Tjahjono di pengadilan. Entah buku itu saya dapat dari mana; yang jelas, tak ada satu pun toko buku yang menjualnya.
Sukmadji adalah caretaker Dewan Mahasiswa ITB. Ia diadili karena mengkritik dwifungsi ABRI. Ia aktivis tahun ’78, diadili pada 1979. Karena sikapnya, ia masuk terali besi, dikerangkeng oleh pemerintahan Orde Baru.
Buku itu saya baca hingga tuntas. Saya membacanya di kamar, tak pernah saya bawa ke mana-mana. Ia lahir dari rasa ingin tahu seorang mahasiswa baru yang ingin mengerti apa yang pernah dilakukan para senior sebelumnya, tentang keberanian, tentang risiko, tentang harga sebuah sikap.
Sukmadji dipenjara karena mengkritik kekuasaan. Karena memilih bersuara di tengah ketakutan yang dirawat negara.
Hari ini suasananya terasa ganjil.
Ramai soal ijazah SMA Gibran yang diragukan. Rismon Sianipar, yang sebelumnya meneliti ijazah Jokowi dan skripsinya yang seolah dikirim oleh mesin waktu dari masa depan, kini ikut disorot.
Buku Rismon adalah hasil penelitian. Ia dilaporkan. Terancam dipenjara.
Buku Sukmadji adalah pledoi dari ruang sidang. Ia adalah pembelaan dari seorang mahasiswa terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang.
Di masa Sukmadji, tekanan datang terutama dari aparat. Kekuasaan tampil telanjang sebagai algojo.
-Kini berbeda.
Kekuasaan tak lagi bekerja sendirian. Ia dibantu oleh barisan kutubusuk, para hamba yang dengan sukarela menjadi penjaga gerbang kekuasaan, menyerang siapa pun yang dianggap mengganggu kenyamanan penguasa.
Di masa Orde Baru, aktivis melawan pemerintah.
Di masa kini, aktivis melawan pemerintah dan para laron lapar yang siap melaporkan, memenjarakan, dan mengorbankan siapa pun demi sejumput kedekatan dengan kuasa.
Zaman berganti. Wajah kekuasaan berubah. Tetapi wataknya tetap sama.
Menekan, membungkam, dan menakuti.
Hanya caranya kini lebih rapi, lebih ramai, dan lebih munafik.
( Red )
Geisz Chalifah, 5 Februari 2026
Tulis Komentar