Menjaga Hubungan Dengan Allah Dan Manusia

Menjaga Hubungan Dengan Allah Dan Manusia Keterangan Gambar : Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menjumpai orang yang sangat rajin beribadah, tekun menghadiri majelis ilmu, fasih berbicara tentang agama, tetapi masih mudah menyakiti hati sesama. Sebaliknya, ada pula orang yang dikenal santun, dermawan, ringan tangan menolong siapa saja, menghormati tetangga, serta menjaga perasaan orang lain, meskipun pengetahuan agamanya belum mendalam.

Perwirasatu.co.id, Rabu 17 Juni 2026.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menjumpai orang yang sangat rajin beribadah, tekun menghadiri majelis ilmu, fasih berbicara tentang agama, tetapi masih mudah menyakiti hati sesama. Sebaliknya, ada pula orang yang dikenal santun, dermawan, ringan tangan menolong siapa saja, menghormati tetangga, serta menjaga perasaan orang lain, meskipun pengetahuan agamanya belum mendalam. Fenomena inilah yang sering melahirkan perenungan tentang pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama.

Ungkapan, “Orang yang habluminallah-nya baik belum tentu habluminannas-nya baik. Tapi yang habluminannas-nya baik suatu saat pasti habluminallah,” sejatinya mengandung pesan agar seseorang tidak merasa cukup hanya dengan ritual keagamaan semata. Sebab agama yang diturunkan Allah bukan hanya mengatur hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, tetapi juga mengatur bagaimana ia memperlakukan manusia, hewan, alam, dan seluruh makhluk di sekitarnya.

Islam mengajarkan bahwa kesalehan tidak boleh berhenti pada sajadah. Kesalehan harus menjelma menjadi akhlak. Shalat yang benar melahirkan kejujuran. Puasa yang benar melahirkan kesabaran. Zakat yang benar melahirkan kepedulian. Haji yang benar melahirkan kerendahan hati. Ketika ibadah tidak berpengaruh terhadap perilaku, maka ada sesuatu yang perlu dievaluasi dalam penghayatan ibadah tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketakwaan yang dicintai Allah tidak membuat seseorang menjauh dari manusia, melainkan mendorongnya untuk mengenal, menghargai, dan berbuat baik kepada sesama. Semakin tinggi ketakwaan seseorang, seharusnya semakin baik pula akhlaknya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya:

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikan bahwa ketika menjelaskan identitas seorang muslim, Rasulullah ﷺ tidak langsung menyebut banyaknya shalat sunnah, panjangnya bacaan Al-Qur'an, atau lamanya ibadah malam. Beliau justru menekankan keamanan dan kenyamanan yang dirasakan orang lain dari lisan dan perbuatannya. Ini menunjukkan betapa pentingnya dimensi kemanusiaan dalam agama.

Namun demikian, ungkapan “humanity over religiousity” perlu dipahami secara proporsional. Dalam pandangan Islam, kemanusiaan dan keberagamaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru agama yang benar melahirkan kemanusiaan yang luhur. Islam tidak mengajarkan memilih antara Allah atau manusia. Islam mengajarkan berbakti kepada Allah dengan cara berbuat baik kepada manusia.

Ketika seseorang membantu orang miskin, menghormati orang tua, menyantuni anak yatim, menolong tetangga yang kesusahan, atau menghibur hati yang sedang terluka karena mengharap ridha Allah, maka pada saat itu habluminallah dan habluminannas berjalan beriringan.

Allah bahkan mengecam orang yang rajin beribadah tetapi lalai terhadap kepedulian sosial. Dalam Surah Al-Ma'un Allah berfirman:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ۝ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ۝ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ ۝ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

Artinya:

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat, yaitu mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan memberikan bantuan yang berguna.” (QS. Al-Ma'un: 1–7)

Ayat ini sangat menggugah. Allah mengaitkan kualitas keberagamaan seseorang dengan sikapnya terhadap anak yatim dan orang miskin. Ini menjadi peringatan bahwa ibadah ritual yang tidak melahirkan kasih sayang sosial belum mencapai tujuan yang dikehendaki syariat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ath-Thabrani)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya pada apa yang ia lakukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan orang lain karena kehadirannya. Orang yang membuat orang lain merasa aman, terbantu, dihargai, dan dimuliakan telah menempuh jalan yang dicintai Allah.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya selalu melakukan muhasabah. Jangan sampai kita merasa dekat dengan Allah tetapi masih mudah merendahkan manusia. Jangan sampai kita rajin berzikir tetapi gemar menyebarkan kebencian. Jangan sampai kita tekun beribadah tetapi enggan meminta maaf ketika berbuat salah. Sebab salah satu tanda diterimanya ibadah adalah semakin lembutnya hati dan semakin baiknya akhlak.

Di sisi lain, mereka yang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi juga tidak boleh berhenti pada nilai-nilai kemanusiaan semata. Kebaikan yang tulus pada akhirnya akan mengantarkan hati untuk mencari sumber segala kebaikan, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika seseorang terbiasa mencintai makhluk, menghargai kehidupan, menegakkan keadilan, dan menolong sesama dengan hati yang bersih, ia sedang berjalan menuju pintu-pintu hidayah yang luas.

Islam mengajarkan keseimbangan yang indah. Hubungan dengan Allah menguatkan hubungan dengan manusia. Hubungan dengan manusia menjadi bukti nyata hubungan dengan Allah. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Ibarat dua sayap seekor burung, keduanya harus sama-sama kuat agar perjalanan menuju ridha Allah dapat berlangsung dengan sempurna.

Maka marilah kita memperbaiki shalat sekaligus memperbaiki akhlak. Memperbanyak doa sekaligus memperbanyak kepedulian. Mendekat kepada Allah tanpa menjauh dari manusia. Sebab kesalehan yang paling indah adalah ketika seseorang dicintai Allah karena ibadahnya dan dicintai manusia karena akhlaknya. Di situlah agama hadir bukan sekadar sebagai identitas, melainkan sebagai rahmat yang menenangkan hati, memuliakan sesama, dan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia serta akhirat.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)