Pendidikan Tinggi Tidak Selalu Menjamin Pekerjaan Profesional

Pendidikan Tinggi Tidak Selalu Menjamin Pekerjaan Profesional Keterangan Gambar : Foto seorang anggota satuan pengamanan yang tersenyum sambil memegang piagam penghargaan dan medali membawa cerita yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian pribadi. Di balik seragam satpam yang dikenakan setiap hari oleh Khoirul Anam, tersimpan perjalanan panjang pendidikan dan tulisan ilmiah yang matang.

Perwirasatu.co.id - Kisah seorang satpam bank bergelar tinggi ini memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu menjamin akses otomatis pada pekerjaan profesional yang berpenghasilan dan bergengsi sesuai kompetensi. Fenomena ini menjadi cermin realitas struktur pasar kerja nasional di mana kemampuan akademik sering kali bertumpuk tanpa jaminan kesempatan kerja yang sepadan dan layak. 

Foto seorang anggota satuan pengamanan yang tersenyum sambil memegang piagam penghargaan dan medali membawa cerita yang lebih dalam daripada sekadar pencapaian pribadi. Di balik seragam satpam yang dikenakan setiap hari oleh Khoirul Anam, tersimpan perjalanan panjang pendidikan dan tulisan ilmiah yang matang. Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang diterimanya bukan hanya soal gelar. Ia tercatat sebagai satpam yang menghasilkan karya ilmiah terbanyak di antara sesama profesinya meskipun jabatan yang dipegang tidak mencerminkan prestasi akademisnya secara langsung. 

Keputusan untuk menjadi satpam di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok oleh pria berusia 28 tahun ini bukan soal ketidakmampuan atau kurang kompeten. Anam telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang Magister (S2) Manajemen serta dua gelar Sarjana (S1) di bidang Manajemen dan Pendidikan Agama Islam. Selain itu, ia telah menerbitkan delapan buku ber-ISBN dan menghasilkan setidaknya 13 karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional dan internasional sehingga meraih pengakuan rekor pada 30 Januari 2026.

Dalam wawancara yang dilaporkan sejumlah media pada awal Februari 2026, Anam menyatakan bahwa profesi satpam dijalani sambil memupuk cita-cita menjadi pengajar atau dosen di masa depan. Ia mengaku belum menemukan kesempatan yang tepat untuk masuk ke dunia akademik atau pendidikan formal sebagai tenaga pengajar. Pilihan ini menunjukkan bahwa gelar akademik tinggi bukanlah jaminan langsung untuk masuk ke profesi yang diimpikan.

Kisah Anam memunculkan pertanyaan lebih luas di tengah masyarakat tentang relevansi dan nilai ekonomi pendidikan tinggi di pasar kerja Indonesia saat ini. Banyak lulusan perguruan tinggi tingkat sarjana dan pascasarjana yang masih menghadapi tantangan besar dalam mendapatkan pekerjaan sesuai bidang keilmuan mereka. Angka pengangguran terdidik dan pekerja dengan kualifikasi berlebih yang menempati posisi non-profesional mengindikasikan ketidakseimbangan antara keterampilan yang diajarkan dan kebutuhan nyata dunia kerja. 

Realitas bahwa profesi seperti satpam sering kali mensyaratkan pendidikan hanya tingkat SMA atau setara sementara penghasilan yang diterima berada di kisaran upah minimum regional, membuat lulusan berpendidikan tinggi memikirkan kembali pilihan karier mereka dalam jangka pendek. Menurut data lowongan pekerjaan yang berlaku di Indonesia pada tahun ini rata-rata gaji satpam umumnya berada dalam rentang dua hingga lima juta rupiah per bulan, meskipun ada perbedaan tergantung lokasi dan perusahaan. 

Para pengamat tenaga kerja menilai bahwa permasalahan ini berkaitan dengan struktur pasar kerja yang belum sepenuhnya mampu menyerap lulusan berpendidikan tinggi ke dalam posisi yang sepadan. Hal ini termasuk tingginya persaingan untuk jumlah lowongan yang terbatas, ketidaksesuaian kurikulum perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, serta kurangnya kesempatan untuk pengembangan profesional di luar jalur formal. 

Narasi pengalaman Anam pun telah memicu diskusi publik yang beragam. Di satu sisi, banyak yang memandang perjalanan hidupnya sebagai inspirasi tentang semangat belajar sepanjang hayat meskipun menghadapi tantangan ekonomi. Di sisi lain, fenomena ini dipandang sebagai cerminan kendala struktural yang membutuhkan intervensi kebijakan dari pemerintah dan sektor swasta agar dapat menciptakan peluang kerja yang lebih adil dan sesuai kompetensi bagi lulusan pendidikan tinggi. 

Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa identitas profesi seperti satpam bukan sekadar status pekerjaan tetapi bagian dari struktur ekonomi yang kompleks. Satuan Pengamanan yang diatur secara formal di Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan ketertiban di berbagai sektor publik dan privat, namun profesi ini sering kali tidak dilihat sebagai jenjang karier yang menghormati prestasi akademis yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan. 

Dengan latar belakang pendidikan yang begitu tinggi, kisah Anam pada akhirnya lebih mencerminkan realitas yang dihadapi oleh banyak pekerja muda berpendidikan tinggi: ketika pasar kerja formal tidak menyediakan cukup akses atau peluang sesuai kompetensi, individu harus menyeimbangkan antara kebutuhan ekonomi saat ini dan cita-cita jangka panjang mereka. Kisah ini bukan sekadar anekdot, tetapi menjadi refleksi penting tentang bagaimana sistem pendidikan tinggi dan struktur kesempatan kerja di Indonesia saling berinteraksi dan sering kali belum berjalan selaras. 

Pengakuan yang ia terima, baik secara akademik maupun prestasi tulisannya, seharusnya menjadi pengingat bahwa potensi manusia tidak semestinya diukur dari jabatan pekerjaan saat ini, tetapi juga dari kontribusi, dedikasi, dan karya yang dihasilkan dalam konteks yang lebih luas. Cerita Anam membuka ruang perbincangan tentang bagaimana merumuskan kembali nilai pendidikan tinggi dan peran struktur pekerjaan yang layak bagi setiap individu yang berpendidikan tinggi.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)