Resign Rezeki dan Jalan Pulang Baru
Keterangan Gambar : Cerita Arga bermula tiga belas tahun lalu. Hari ketika ia berdiri tegak mengenakan seragam cokelat, menyalami atasan, dan menerima ucapan selamat. Ayahnya menepuk bahu dengan bangga. Ibunya tersenyum sambil berbisik, sekarang hidupmu aman. Kata aman itu melekat lama, seperti cap yang tak mudah pudar.
Perwirasatu.co.id - Hujan turun tipis ketika Arga Pramana menurunkan papan kayu bertuliskan Tutup di depan kios kecilnya. Lampu bohlam menggantung rendah, berayun pelan, memantulkan bayangannya di kaca etalase. Di saku celana, ponsel bergetar tanpa henti. Video itu masih beredar, menumpuk komentar, memecah pendapat, dan menempelkan namanya pada ribuan layar yang tak pernah ia kenal.
Arga menarik napas panjang. Ada yang memuji keberanian, ada yang menuduhnya bodoh, ada pula yang berkata ia hanya mencari sensasi. Ia membaca sekilas lalu mengunci layar. Malam ini ia ingin pulang lebih cepat. Sinta Lestari, istrinya, menunggu dengan teh hangat dan kabar yang selalu sederhana namun menenangkan.
Cerita Arga bermula tiga belas tahun lalu. Hari ketika ia berdiri tegak mengenakan seragam cokelat, menyalami atasan, dan menerima ucapan selamat. Ayahnya menepuk bahu dengan bangga. Ibunya tersenyum sambil berbisik, sekarang hidupmu aman. Kata aman itu melekat lama, seperti cap yang tak mudah pudar.
Tahun demi tahun berlalu. Arga mengenal jam kantor yang panjang, rapat yang berulang, dan meja kerja yang berpindah. Ia belajar menahan lelah, menunda pulang, dan menyimpan rindu. Sinta sering menunggu dengan piring yang mendingin. Mereka jarang bertengkar, justru itu yang membuat jarak kian terasa.
Suatu malam, Sinta bertanya pelan, tanpa nada menyalahkan. Kapan terakhir kita makan tanpa menunggu jam? Pertanyaan itu sederhana, namun membuat Arga terdiam. Ia membuka kalender, menghitung hari, lalu menyadari betapa banyak waktu yang telah ia tukarkan dengan kepastian.
Keputusan tidak datang cepat. Arga berbicara dengan orang tuanya, dengan mertuanya, dengan rekan kerja. Seorang senior menatapnya tajam. Kamu sadar apa yang kamu tinggalkan? Status, pensiun, masa depan. Arga mengangguk. Ia sadar. Justru karena itu ia ingin memilih.
Tekanan datang bertubi. Grup keluarga ramai. Tetangga berbisik. Rekan kerja mengirim pesan panjang yang diakhiri kalimat sinis, nanti juga menyesal. Arga tetap menimbang. Ia menuliskan angka di kertas, menghitung modal, mengukur risiko. Di sampingnya, Sinta berkata singkat, kita jalani bersama.
Surat pengunduran diri akhirnya ditandatangani. Tangan Arga bergetar, bukan karena ragu, melainkan karena beratnya satu fase hidup yang ditutup dengan sadar. Ia pulang tanpa seragam, membuka dapur kecil, mencoba resep, gagal, mencoba lagi. Hari hari pertama berdagang terasa panjang dan sunyi, meski kata itu tak pernah ia ucapkan.
Video itu direkam tanpa rencana. Arga berdiri di kios, berkata jujur tentang perjalanan tiga belas tahun yang terasa singkat ketika telah dilalui. Ia mengunggahnya, lalu kembali mengaduk wajan. Esoknya, layar ponsel dipenuhi notifikasi. Kiosnya mendadak ramai. Ada yang datang membeli, ada yang datang menilai.
Seorang pembeli bertanya sambil tertawa, Mas yang viral itu ya? Arga tersenyum kaku. Yang lain berbisik, sayang sekali, padahal sudah mapan. Ada pula yang memeluknya dan berkata terima kasih sudah berani. Viralitas membawa rezeki sekaligus beban. Setiap geraknya seakan diawasi.
Malam malam menjadi waktu paling jujur. Arga duduk di ruang tamu sempit, membaca komentar yang menuduhnya mengkhianati negara. Sinta mengambil ponsel itu, meletakkannya terbalik. Kamu tidak berutang hidup pada siapa pun, katanya. Arga mengangguk, namun dadanya sesak.
Hujan kembali turun malam ini. Arga menutup kios lebih awal. Di rumah, Sinta menyodorkan teh dan senyum yang tak pernah absen. Besok kita buka lebih pagi, katanya. Arga setuju. Ia membuka laci, mengeluarkan map cokelat berisi surat lama. Ada satu dokumen yang tak pernah ia ceritakan di video mana pun.
Pagi berikutnya, kios dibuka. Seorang pria berseragam lama berhenti di depan. Pak Arga, katanya ragu. Arga mengenal wajah itu. Mantan bawahan. Mereka saling tersenyum canggung. Pria itu membeli sarapan, lalu berkata pelan, terima kasih dulu sudah membimbing saya. Arga terdiam.
Di situlah kenyataan mengejutkan itu terasa utuh. Kios kecil Arga berdiri tepat di depan kantor lama tempat ia mengabdi. Setiap hari ia melayani orang orang yang sama, tanpa seragam, tanpa jabatan. Ia memang meninggalkan status, tetapi tidak meninggalkan pengabdian.
Saat matahari naik, Arga menyadari sesuatu yang tak pernah muncul di kolom komentar. Jalan pulang bukan tentang kembali ke masa lalu, melainkan tentang menemukan makna di tempat yang sama dengan cara yang berbeda. Rezeki tetap mengalir. Dan untuk pertama kalinya, Arga tahu, ia benar benar sampai.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.
Tulis Komentar