Retak Rumah Tangga Karena Lalai
Keterangan Gambar : Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, tetapi akad suci yang dipenuhi amanah. Ia bukan hanya kontrak dunia, melainkan perjanjian yang disaksikan Allah. Karena itu, ketika rumah tangga retak, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar hubungan dua manusia, tetapi juga melemahnya penjagaan terhadap amanah langit.
Perwirasatu.co.id - Jum,at 3 April 2026. Rumah tangga tidak pernah runtuh hanya karena satu badai besar. Ia lebih sering hancur oleh hal kecil yang dibiarkan terus menerus, hingga cinta menjadi dingin dan hormat berubah menjadi luka. Islam tidak hanya memerintahkan suami memberi nafkah, tetapi juga memimpin dengan iman, dan memerintahkan istri menjaga kehormatan. Semua bermula dari hati yang tidak dijaga.
Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, tetapi akad suci yang dipenuhi amanah. Ia bukan hanya kontrak dunia, melainkan perjanjian yang disaksikan Allah. Karena itu, ketika rumah tangga retak, sesungguhnya yang runtuh bukan sekadar hubungan dua manusia, tetapi juga melemahnya penjagaan terhadap amanah langit. Banyak pasangan menyangka kehancuran rumah tangga terjadi karena perselingkuhan atau kemiskinan, padahal sering kali awalnya hanya kelalaian kecil yang dianggap remeh, lalu menumpuk menjadi luka yang membatu.
Islam mengenal istilah nusyuz, yaitu sikap pembangkangan dalam rumah tangga, baik dari istri maupun suami. Namun dalam realitas kehidupan, sikap nusyuz sering muncul bukan tiba tiba, melainkan lahir dari suasana yang tidak sehat. Ketika cinta tidak lagi dipupuk, ketika hati tidak lagi dipeluk dengan kasih, maka seseorang bisa berubah. Allah mengingatkan bahwa rumah tangga harus dibangun di atas sakinah, mawaddah, dan rahmah, bukan sekadar rutinitas nafkah dan kewajiban formal.
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: “Dan di antara tanda tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan pasangan dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rum: 21)
Ayat ini menjadi landasan bahwa pernikahan adalah tempat berlabuhnya ketenteraman. Namun ketenteraman tidak hadir otomatis. Ia perlu dijaga. Bila suami tidak hadir sebagai imam, bila istri tidak merasa dihargai, bila komunikasi berubah menjadi senjata, maka ketenteraman itu pelan pelan hilang. Lalu yang tersisa hanya tubuh yang tinggal serumah, namun jiwa yang berjalan sendiri sendiri.
Pertama, suami tidak hadir sebagai imam.
Banyak lelaki menyangka menjadi imam berarti keras, memerintah, atau menuntut istri patuh tanpa memberi teladan. Padahal imam dalam Islam berarti pemimpin yang bertanggung jawab, melindungi, membimbing, dan memuliakan. Ketika suami kehilangan ketegasan yang adil, kehilangan visi, dan tidak menjadi rujukan moral, maka rasa hormat istri bisa memudar. Istri tidak lagi merasa dipimpin, melainkan sekadar disuruh.
Allah berfirman:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
Artinya: “Kaum laki laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Maka wanita yang saleh ialah yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Wanita wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya maka nasihatilah mereka, pisahkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang tidak menyakiti). Kemudian jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisa: 34)
Ayat ini sering disalahgunakan oleh sebagian orang untuk membenarkan kezhaliman. Padahal intinya adalah tanggung jawab. Qawwam bukan berarti penguasa yang semena mena, tetapi pemimpin yang memikul beban. Jika suami tidak menghidupkan shalat, tidak menjaga lisannya, tidak menjadi pelindung spiritual, maka bagaimana rumah tangga bisa kokoh?
Kedua, hati istri terlalu lama diabaikan.
Ada suami yang rajin bekerja, tetapi lupa bahwa istri bukan mesin rumah tangga. Ia manusia yang memiliki perasaan, lelah, dan ingin dipahami. Nafkah adalah kewajiban, tetapi perhatian adalah kebutuhan. Jika istri berkali kali berbicara namun tidak didengar, berkali kali menangis namun dianggap lebay, maka perlahan hatinya akan menutup. Ia hidup bersama suami, tetapi merasa sendiri. Dan kesepian dalam pernikahan adalah luka yang paling sunyi.
Rasulullah ﷺ adalah contoh suami terbaik. Beliau tidak hanya memberi nafkah, tetapi juga memberi perhatian. Dalam hadis disebutkan:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: “Sebaik baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi)
Kebaikan kepada keluarga bukan hanya memberi uang. Ia meliputi kelembutan, mendengar keluh kesah, memberi rasa aman, dan menenangkan hati. Jika seorang suami ingin istrinya taat, maka jadilah lelaki yang layak ditaati, bukan lelaki yang hanya ingin dimengerti namun enggan mengerti.
Ketiga, komunikasi yang melukai.
Ucapan adalah pintu hati. Jika suami membiasakan kata kata kasar, merendahkan, membentak, atau memojokkan, maka komunikasi menjadi racun. Dan jika istri membalas dengan kata kata pedas, sindiran, atau cemoohan, maka rumah tangga berubah menjadi arena perang. Padahal Islam memerintahkan kelembutan dalam bicara, bahkan kepada musuh, apalagi kepada pasangan.
1 spasi
Allah berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
Artinya: “Dan ucapkanlah kata kata yang baik kepada manusia.” (QS. Al Baqarah: 83) Dan Allah juga berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18)
Jika setiap kata dicatat, maka suami istri harus sadar bahwa kalimat yang menyakitkan bisa menjadi saksi di hadapan Allah. Betapa banyak pasangan yang menyesal karena satu kalimat emosi yang melukai harga diri, lalu luka itu tidak pernah sembuh meski sudah minta maaf.
Keempat, perlakuan yang tidak adil.
Rumah tangga retak ketika istri merasa tidak aman. Ketika suami menuntut banyak namun tidak memberi penghargaan. Ketika suami mudah marah tetapi sulit mengapresiasi. Ketika suami membandingkan istri dengan wanita lain. Ketidakadilan semacam ini menumbuhkan perasaan bahwa istri tidak dicintai. Dan bila hati kehilangan rasa dicintai, maka ketaatan pun mudah luntur.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 90)
Adil dalam rumah tangga bukan hanya soal materi, tetapi juga adil dalam perhatian, adil dalam pembagian waktu, adil dalam menilai kesalahan, dan adil dalam menahan emosi. Bila suami hanya ingin dilayani tetapi tidak mau melayani, maka rumah tangga akan timpang.
Kelima, kurangnya ilmu agama.
Ini adalah akar yang paling dalam. Karena ketika rumah tangga tidak dibangun di atas ilmu, maka suami istri berjalan dengan hawa nafsu. Ketika emosi naik, mereka tidak punya rem. Ketika konflik datang, mereka tidak punya petunjuk. Padahal Islam sudah mengajarkan adab suami, adab istri, adab marah, adab mendidik, bahkan adab meminta maaf.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya: “Wahai orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At Tahrim: 6)
Ayat ini menunjukkan bahwa suami memiliki tanggung jawab menjaga keluarganya dari neraka. Caranya bukan hanya dengan melarang, tetapi dengan mengajari. Ilmu rumah tangga harus dipelajari sebagaimana orang belajar berdagang dan bekerja. Sebab rumah tangga adalah investasi akhirat.
Namun wahai para istri, Islam juga memerintahkan agar engkau menjaga sikap kepada suami. Sebab suami adalah pintu besar yang bisa mengantarkanmu ke surga atau menjerumuskanmu ke neraka jika engkau mengkhianati amanah rumah tangga. Dalam sebuah hadis disebutkan:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
Artinya: “Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya, dan taat kepada suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan untuk menindas perempuan, tetapi untuk menunjukkan betapa besar pahala kesetiaan dan ketaatan dalam rumah tangga. Namun ketaatan yang dimaksud adalah dalam kebaikan, bukan dalam maksiat. Karena Rasulullah ﷺ menegaskan:
لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
Artinya: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.” (HR. Ahmad)
Maka bila suami salah, istri tetap harus menasihati dengan cara yang baik. Bila istri salah, suami juga wajib membimbing dengan adab, bukan dengan penghinaan. Sebab rumah tangga adalah tempat saling memperbaiki, bukan tempat saling membinasakan.
Kalimat yang sering dilupakan adalah: rumah tangga tidak hancur dalam satu hari. Ia retak perlahan. Kadang dimulai dari suami yang pulang tanpa salam. Dari istri yang menjawab ketus. Dari percakapan yang berubah menjadi sindiran. Dari perhatian yang makin jarang. Dari doa yang tidak lagi dipanjatkan bersama. Lalu setan masuk di sela sela kelalaian itu, memperbesar masalah kecil menjadi jurang besar.
Karena itu, jika engkau suami, kembalilah menjadi imam. Jangan hanya menuntut istri shalihah, sementara engkau sendiri jauh dari shalat dan Al Qur’an. Jangan hanya memerintah, tetapi tuntunlah. Jangan hanya mencari hormat, tetapi layakkan dirimu dihormati dengan akhlak yang baik.
Dan jika engkau istri, jagalah lisanmu. Jangan remehkan dosa kata kata. Jangan biasakan menolak dengan keras. Jangan menghinakan suami di depan anak anak. Sabar bukan berarti lemah, tetapi sabar adalah kekuatan yang dicintai Allah. Jika suami salah dan engkau menahan diri dari kata kata menyakitkan, itu bukan kerugian, melainkan tabungan amal yang akan Allah balas.
Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: “Sesungguhnya orang orang yang bersabar akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
Akhirnya, rumah tangga akan kembali hangat jika dua pihak sama sama sadar bahwa pernikahan bukan arena menang kalah, tetapi jalan panjang menuju ridha Allah. Suami dan istri bukan musuh, melainkan dua jiwa yang diuji bersama. Jika salah satu jatuh, yang lain mengangkat. Jika salah satu lelah, yang lain menenangkan. Dan jika keduanya sama sama kembali kepada Allah, maka retak itu bisa disatukan oleh rahmat Nya.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar