Sepertiga Malam dan Tanda Tangan

Sepertiga Malam dan Tanda Tangan Keterangan Gambar : Langit masih gelap ketika alarm sahur bergetar pelan di meja kayu dekat ranjang. Udara dini hari menggigit, menyusup lewat celah jendela yang tak pernah benar benar rapat. Arga membuka mata dengan berat, menatap langit langit kamar yang retaknya seperti peta garis hidupnya sendiri.


Perwirasatu.co.id - Senin 13 April 2026. Langit masih gelap ketika alarm sahur bergetar pelan di meja kayu dekat ranjang. Udara dini hari menggigit, menyusup lewat celah jendela yang tak pernah benar benar rapat. Arga membuka mata dengan berat, menatap langit langit kamar yang retaknya seperti peta garis hidupnya sendiri. Ramadhan datang lagi, dan bersama itu bangkit pula sesuatu yang selama ini ia kubur dalam diam.

Ia duduk di tepi ranjang beberapa detik, membiarkan kesadaran terkumpul. Dari dapur terdengar bunyi air dipanaskan. Ibunya sudah lebih dulu bangun. Perempuan tua itu selalu mendahuluinya dalam hal ibadah, seakan tak pernah lelah oleh usia.

Sahur membuktikan kita bisa bangun di sepertiga malam bahkan untuk salat Subuh. Kalimat itu tertempel di dinding dapur, ditulis tangan dengan tinta biru yang mulai pudar. Arga menatapnya sambil menyendok nasi. Dulu ia sering menertawakan kalimat kalimat semacam itu sebagai motivasi musiman. Kini kalimat itu seperti teguran yang lembut.

Seusai makan, ia mengambil wudu. Air yang menyentuh wajahnya membuatnya terjaga sepenuhnya. Ia membentangkan sajadah di ruang tamu. Suara napas ibunya terdengar pelan di belakang. Dalam sujud yang lebih lama dari biasanya, ia mencoba mengucapkan sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan dengan jujur.

Di kantor, ia dikenal sebagai karyawan yang tenang. Tidak banyak bicara, jarang terlibat perdebatan. Namun ketenangan itu bukan karena ia tidak punya gejolak. Ia hanya pandai menyembunyikannya.

Tiga tahun lalu, di ruang rapat berpendingin udara yang terlalu dingin, ia duduk berhadapan dengan atasannya, Pak Rendra. Map cokelat diletakkan di depannya.

“Tinggal tanda tangan kamu saja, Ga. Supaya laporan ini bisa cepat naik,” kata Pak Rendra waktu itu sambil tersenyum tipis.

Arga membuka berkas itu. Angka angka di dalamnya tampak rapi, tetapi ada satu pos anggaran yang membuat alisnya berkerut. Ia tahu nominal itu lebih besar dari seharusnya.

“Pak, ini anggaran proyek A kenapa naiknya jauh sekali,” tanyanya hati hati.

Pak Rendra menatapnya beberapa detik, lalu bersandar. “Sudah dibicarakan di atas. Kamu tidak perlu pusing. Ini hanya penyesuaian.”

Ia tahu kalimat itu berarti jangan bertanya lagi. Di kepalanya terlintas wajah ibunya yang waktu itu masih bolak balik rumah sakit. Tagihan menumpuk. Ia menelan ludah, lalu menandatangani halaman yang ditunjukkan. Bukan halaman akhir, hanya lembar persetujuan awal.

Sejak hari itu, ada sesuatu yang terasa ganjil setiap kali ia melihat tanda tangannya sendiri.

Tarawih membuktikan bahwa kita mampu berdiri lebih lama dalam ibadah. Malam malam Ramadhan, ia berdiri di saf tengah masjid kampungnya. Karpetnya berbau campuran debu dan minyak wangi murah. Imam membaca panjang, ayat ayat tentang kejujuran dan amanah mengalir pelan. Kakinya pegal, tetapi yang lebih berat adalah dadanya.

Dalam sujud, bayangan ruang rapat itu muncul lagi. Map cokelat. Senyum tipis. Tanda tangan.

Puasa membuktikan bahwa kita bisa punya kendali atas diri sendiri. Di kantor, ketika rekan sekubikelnya mengeluh soal target dan menyalahkan tim lain, Arga hanya diam. Dulu ia mudah tersulut. Kini ia belajar menahan. Menahan lapar lebih mudah daripada menahan rasa bersalah.

Suatu siang, bagian audit internal datang meminta dokumen lama. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia membantu mencari berkas, berusaha terlihat biasa saja. Sejak itu, setiap dering telepon dari nomor tak dikenal membuat telapak tangannya berkeringat.

Membaca Al Qur'an membuktikan bahwa waktu selalu ada, hanya saja kita terlalu sibuk memprioritaskan dunia. Sore hari menjelang berbuka, ia duduk di teras rumah membaca beberapa lembar. Anak anak kecil berlarian menunggu azan. Ibunya duduk di sampingnya, merapikan tasbih.

“Ga,” suara ibunya pelan, “kamu kelihatan capek akhir akhir ini.”

Arga tersenyum tipis. “Kerjaan, Bu.”

Ibunya menatapnya lama. “Kalau ada yang bikin hati berat, jangan dipikul sendiri. Allah tidak suka hamba yang pura pura kuat.”

Kalimat itu membuatnya menunduk. Untuk pertama kalinya, ia merasa ingin bercerita. Tetapi kata kata tersangkut di tenggorokan.

Sepuluh malam terakhir Ramadhan datang bersama sunyi yang berbeda. Seusai tarawih, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di sudut masjid, memandangi lampu yang berayun pelan. Ia sadar selama ini ia rajin beribadah, tetapi belum tentu jujur sepenuhnya.

Malam itu, setelah tahajud, ia membuka laptop di meja makan. Lampu dapur menjadi satu satunya cahaya. Ia mengetik email panjang kepada pimpinan perusahaan. Ia ceritakan kronologi rapat tiga tahun lalu, keraguannya, tanda tangan yang ia bubuhkan di lembar awal. Ia lampirkan salinan dokumen yang masih ia simpan.

Tangannya gemetar ketika menekan tombol kirim.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Bisa jadi ia dipanggil. Bisa jadi ia kehilangan pekerjaan. Tetapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, napasnya terasa lebih lapang.

Malam takbiran tiba lebih cepat dari dugaannya. Suara takbir bersahutan dari pengeras suara masjid. Langit di atas kampungnya berkilau oleh kembang api. Ibunya tersenyum di ruang tamu, melipat mukena.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Pak Rendra.

“Ga, besok setelah libur kamu datang ke kantor. Audit menemukan beberapa kejanggalan. Kita perlu klarifikasi.”

Jantungnya berdegup keras. Ia membaca ulang pesan itu beberapa kali. Belum sempat ia membalas, pesan lain masuk dari nomor bagian audit.

“Pak Arga, berdasarkan pemeriksaan dokumen final, tanda tangan persetujuan pencairan bukan milik Bapak. Ada indikasi pemalsuan pada halaman akhir.”

Ia terpaku. Ia membuka kembali salinan dokumen yang dulu ia simpan. Ia baru menyadari sesuatu yang selama ini terlewat. Tanda tangan yang ia bubuhkan hanya ada di lembar draft. Versi final memiliki tanda tangan yang sekilas mirip, tetapi goresannya berbeda.

Selama tiga tahun, ia hidup dalam bayang bayang dosa yang bahkan tidak sepenuhnya ia lakukan.

Namun yang membuatnya lebih terdiam bukan fakta itu. Melainkan kesadaran lain yang menyusul perlahan. Andai pun tanda tangan itu benar miliknya, ia tetap sudah siap mengaku. Ia sudah siap menanggung akibatnya.

Takbir menggema semakin keras. Ibunya memanggil dari dalam rumah, mengajaknya makan sedikit sebelum tidur.

Arga mematikan layar ponsel. Ia menatap langit yang sesekali menyala oleh cahaya kembang api. Ia sadar, yang selama ini mengurungnya bukanlah kemungkinan hukuman, melainkan ketakutannya sendiri untuk bersikap jujur.

Ramadhan membuktikan banyak hal. Bahwa ia mampu bangun di sepertiga malam. Bahwa ia mampu berdiri lama dalam ibadah. Bahwa ia mampu menahan lapar dan amarah. Tetapi malam itu, ia memahami satu hal yang lebih dalam. Ibadah bukan hanya soal menahan diri dari yang halal, melainkan keberanian menghadapi yang salah.

Keesokan paginya, sebelum berangkat salat Id, ia membuka lemari kecil di kamarnya. Di dalamnya masih tersimpan map cokelat yang sama dari tiga tahun lalu. Ia mengeluarkannya, menatapnya sebentar, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja.

Apa pun hasil klarifikasi nanti, ia tidak lagi ingin bersembunyi di balik asumsi dan ketakutan.

Di luar, gema takbir belum benar benar reda. Arga melangkah menuju masjid bersama ibunya. Wajahnya tenang, bukan karena ia bebas dari masalah, tetapi karena untuk pertama kalinya ia memilih menghadapi semuanya tanpa lari.

Dan di antara langkah langkah pagi Id itu, ia tahu satu hal yang mengejutkan dirinya sendiri. Ramadhan tidak mengubah takdirnya. Ramadhan hanya membuka tirai, memperlihatkan bahwa keberanian itu sebenarnya sudah lama ada, menunggu ia bangun di sepertiga malam dan berhenti bersembunyi dari tanda tangannya sendiri.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)