Sepotong Daging di Ujung Diskon

Sepotong Daging di Ujung Diskon Keterangan Gambar : Di tangan Jabir ibn Abdullah tergenggam bungkusan kecil berisi daging segar. Ia berjalan pulang dengan langkah ringan, membayangkan kuah hangat yang akan mengepul di rumahnya malam itu. Tidak ada yang istimewa, hanya keinginan sederhana yang terpenuhi.

Perwirasatu.co.id - Rabu 1 April 2026. Suatu sore di Madinah, angin berdebu berputar pelan di antara lorong pasar yang riuh. Di tangan Jabir ibn Abdullah tergenggam bungkusan kecil berisi daging segar. Ia berjalan pulang dengan langkah ringan, membayangkan kuah hangat yang akan mengepul di rumahnya malam itu. Tidak ada yang istimewa, hanya keinginan sederhana yang terpenuhi.

Umar bin Khattab melihatnya dari kejauhan. Tatapannya tajam tetapi tenang. Ia mendekat dan bertanya, “Apa yang engkau bawa itu, wahai Jabir?”

“Sepotong daging. Aku membelinya karena aku ingin memakannya,” jawab Jabir apa adanya.

Umar terdiam sesaat. Lalu ia berkata pelan, “Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya?”

Pertanyaan itu tidak keras, tetapi terasa berat. Beberapa pedagang yang lewat tidak menyadari bahwa di antara dua lelaki itu sedang berlangsung percakapan yang akan melintasi zaman.

Jabir tidak marah. Ia tidak tersinggung. Ia hanya merasa seperti sedang bercermin. Bukankah daging itu halal. Bukankah uangnya sendiri. Namun ia tahu, Umar tidak sedang berbicara tentang hukum makanan.

Ia berjalan pulang dengan pikiran penuh. Di rumahnya yang sederhana, ia membuka bungkusan itu, memandangi serat merah yang masih segar. Ia bisa saja langsung memasaknya. Tetapi pertanyaan itu mengendap dalam dadanya.

Apakah setiap keinginan harus dipenuhi.

Malam itu, daging itu tidak ia masak untuk dirinya sendiri. Ia membaginya kepada tetangga yang lebih membutuhkan. Ia tetap makan roti dan kurma seperti biasa. Tidak ada yang memaksanya. Ia hanya ingin memastikan bahwa dirinya masih menjadi tuan atas keinginannya.

Tahun berganti. Generasi berlalu. Pasar berubah rupa.

Kini pasar tidak lagi berupa lorong tanah dan tenda kain. Ia hadir di layar ponsel, di ruang berpendingin udara, di antara kilatan lampu dan musik lembut pusat perbelanjaan. Keinginan tidak perlu berjalan jauh. Ia datang dalam bentuk notifikasi.

Faris hidup di zaman itu. Usianya belum empat puluh, kariernya menanjak, penghasilannya stabil. Ia tinggal di apartemen tinggi dengan jendela lebar yang memantulkan cahaya kota setiap malam. Lemarinya penuh pakaian bermerek. Rak sepatunya tersusun rapi seperti etalase kecil.

Setiap bulan ia menghadiahi dirinya sesuatu. Jam tangan baru. Gawai terbaru. Makan malam di restoran mahal dengan lampu temaram. Ia merasa pantas mendapatkannya. Ia bekerja keras untuk semua itu.

Namun setiap kali barang baru datang, rasa puas itu hanya bertahan sebentar. Esoknya, muncul keinginan lain. Ia mulai menyadari ada ruang kosong yang tidak pernah benar benar terisi.

Suatu malam di bulan Ramadan, Faris duduk sendirian di meja makan. Di depannya tersaji makanan lengkap. Ia lapar setelah seharian berpuasa. Azan belum terdengar. Tangannya hampir meraih gelas.

Tidak ada orang lain di apartemen itu. Ia bisa saja minum lebih dulu. Tidak ada yang akan tahu.

Ia menahan diri.

Dalam jeda beberapa detik itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Bukan sekadar menahan haus, melainkan merasakan kendali. Ia mampu tidak melakukan sesuatu yang ia inginkan.

Setelah berbuka, ia membuka ponselnya. Sebuah notifikasi besar muncul di layar. Diskon terbatas. Barang yang sudah lama ia incar. Hanya malam itu.

Gambar sepatu itu muncul tajam dan mengilap. Harga yang tertera jauh lebih rendah dari biasanya. Ia membayangkan memakainya di kantor. Ia membayangkan pujian rekan kerja.

Uangnya ada. Kesempatan terbuka.

Tiba tiba ia teringat kisah yang pernah ia dengar di sebuah kajian. Tentang Umar dan Jabir. Tentang sepotong daging di pasar Madinah. Tentang sebuah pertanyaan sederhana yang menggetarkan.

Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung membelinya.

Faris tersenyum tipis. Ia menatap tombol beli sekarang yang berwarna mencolok. Jempolnya melayang beberapa detik di atas layar.

Ia menutup aplikasi itu.

Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Kota masih ramai oleh cahaya dan suara kendaraan. Ia merasa lega, seolah baru saja memenangkan pertempuran kecil yang tidak terlihat siapa pun.

Hari hari berikutnya ia mulai mencoba memberi jeda setiap kali ingin membeli sesuatu. Ia bertanya pada dirinya sendiri, ini kebutuhan atau sekadar dorongan sesaat. Beberapa kali ia tetap membeli. Beberapa kali ia menahan diri. Ia belajar perlahan.

Suatu siang, Faris duduk di ruang kerjanya yang luas. Di dinding tergantung sertifikat dan penghargaan. Di atas meja tergeletak laporan keuangan perusahaan yang baru saja ia pimpin.

Ia baru saja memutuskan sesuatu yang besar. Ia menyetujui proyek ekspansi agresif yang berisiko tinggi. Semua orang memujinya berani. Ia merasa bangga.

Sore itu, saat sendirian, ia membuka kembali laporan tersebut. Matanya berhenti pada angka angka yang terlalu optimistis. Ia menyadari bahwa keputusan itu bukan semata karena kebutuhan perusahaan, melainkan karena ia ingin diakui sebagai pemimpin visioner.

Dadanya mendadak sesak.

Ia teringat bagaimana ia dengan bangga menutup aplikasi belanja beberapa malam lalu. Ia merasa telah menaklukkan keinginan. Ia merasa telah merdeka.

Namun kini ia sadar, keinginan tidak selalu datang dalam bentuk sepatu atau diskon.

Ia bisa datang dalam bentuk ambisi. Dalam bentuk pujian. Dalam bentuk gengsi yang lebih halus.

Faris bersandar di kursinya. Pertanyaan itu kembali terdengar, kali ini lebih dalam dan lebih tajam.

Apakah setiap kali engkau menginginkan sesuatu, engkau langsung mengambilnya.

Tangannya gemetar kecil saat meraih telepon. Ia menghubungi direksi dan meminta rapat ulang. Keputusan ekspansi itu ditinjau kembali. Beberapa orang kecewa. Beberapa menganggapnya ragu ragu.

Untuk pertama kalinya, ia tidak peduli pada penilaian mereka.

Malamnya, ia duduk sendiri di apartemennya yang luas. Ia memandangi lemari penuh barang mahal yang dulu ia banggakan. Ia tersenyum getir.

Selama ini ia mengira musuhnya adalah diskon dan belanja impulsif.

Ternyata musuhnya jauh lebih sunyi.

Ia bukan sekadar keinginan untuk memiliki.

Ia adalah keinginan untuk terlihat.

Di situlah Faris benar benar terkejut. Sepotong daging di pasar Madinah ternyata bukan tentang makanan. Bukan tentang uang. Bukan tentang barang.

Ia tentang siapa yang duduk di singgasana hati.

Faris mematikan lampu ruang tamu dan membiarkan apartemennya gelap. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak sedang kehilangan apa pun ketika tidak memenuhi keinginannya.

Dan dalam keheningan itu, ia menyadari sesuatu yang mengguncang dirinya sendiri.

Selama ini ia bangga karena mampu membeli hampir semua yang ia mau.

Padahal kebebasan yang sesungguhnya baru ia rasakan saat ia mampu tidak membeli, tidak mengambil, dan tidak mengejar apa yang ia mau.

Sepotong daging di tangan Jabir berabad lalu telah menjelma menjadi pertanyaan yang lebih besar dalam hidupnya.

Bukan lagi tentang apa yang bisa ia miliki.

Melainkan tentang siapa yang sebenarnya memiliki dirinya.

( Red )

Sumber: Dwi Taufan Hidayat 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)