Belajar Tunduk Dari MusibahMusibah banjir, longsor, dan letusan gunung bukan sekadar peristiwa alam yang datang silih berganti, melainkan pesan ilahi yang menggugah kesadaran manusia

$rows[judul] Keterangan Gambar : Dari bencana banjir, longsor, dan gunung meletus kita belajar bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Setinggi apa pun ilmu, sebanyak apa pun harta, dan sekuat apa pun teknologi, semuanya dapat runtuh dalam sekejap ketika Allah ? berkehendak.

Perwirasatu.co.id - 31 Desember 2025.

Musibah banjir, longsor, dan letusan gunung bukan sekadar peristiwa alam yang datang silih berganti, melainkan pesan ilahi yang menggugah kesadaran manusia. Ia menyingkap kelemahan, membongkar kesombongan, dan mengingatkan kefanaan dunia. Dari sana, iman diuji, hati disentuh, dan akal diajak merenung agar hidup kembali lurus menuju ridha Allah ﷻ.

Dari bencana banjir, longsor, dan gunung meletus kita belajar bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang lemah. Setinggi apa pun ilmu, sebanyak apa pun harta, dan sekuat apa pun teknologi, semuanya dapat runtuh dalam sekejap ketika Allah ﷻ berkehendak. Al-Qur’an menegaskan hakikat ini dengan sangat jelas:

وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisā’: 28).

Ayat ini bukan untuk melemahkan mental manusia, tetapi untuk menundukkan kesombongan. Kesadaran akan kelemahan adalah pintu awal menuju ketawadhuan, karena hanya orang yang sadar lemah yang akan bergantung penuh kepada Rabb-nya.

Musibah juga mengajarkan bahwa hidup ini tidak pernah benar-benar aman. Ajal dapat datang kapan saja dan di mana saja, tanpa menunggu kesiapan manusia. Allah ﷻ berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.” (QS. An-Nisā’: 78).

Ayat ini mematahkan ilusi rasa aman palsu. Kaya atau miskin, muda atau tua, sehat atau sakit, semuanya berada dalam antrean yang sama menuju kematian. Maka betapa ruginya orang yang terus bermaksiat sambil merasa masih punya banyak waktu.

Rasulullah ﷺ menguatkan peringatan ini dalam sabdanya:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. At-Tirmidzi).

Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup suram, tetapi agar hidup menjadi terarah. Orang yang ingat mati akan lebih jujur, lebih berhati-hati, dan lebih serius mempersiapkan bekal akhiratnya.

Dari musibah pula kita belajar tentang hakikat harta. Rumah yang megah, kendaraan yang mahal, dan tabungan yang melimpah dapat lenyap dalam hitungan menit. Al-Qur’an mengingatkan:

وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

“Berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia berikan kepadamu.” (QS. An-Nūr: 33).

Ayat ini menegaskan bahwa harta sejatinya adalah milik Allah, sedangkan manusia hanyalah pemegang amanah. Karena itu, tidak layak harta dibanggakan secara berlebihan, apalagi dijadikan alat untuk menindas dan melupakan akhirat.

Ketika musibah datang, barulah manusia menyadari betapa rapuhnya sandaran dunia. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Āli ‘Imrān: 185).

Musibah adalah tabir yang disingkapkan Allah agar manusia melihat dunia apa adanya. Ia fana, sementara akhiratlah yang kekal dan abadi.

Karena itu, musibah seharusnya melahirkan muhasabah, bukan sekadar keluhan. Kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: masihkah dunia menjadi tujuan utama hidup kita? Masihkah harta membuat kita lalai dari salat, zakat, dan kepedulian sosial? Rasulullah ﷺ bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi).

Kecerdasan sejati bukan pada kepintaran duniawi, tetapi pada kesadaran akhirat.

Jika musibah disikapi dengan iman, ia akan melahirkan ketakwaan. Allah ﷻ berfirman:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155).

Sabar bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan keteguhan hati untuk tetap taat, saling menolong, dan memperbaiki diri. Semoga setiap bencana yang terjadi menjadi guru yang jujur, menuntun kita untuk hidup lebih rendah hati, lebih peduli, dan semakin bertakwa kepada Allah ﷻ, hingga kelak kita kembali kepada-Nya dalam keadaan diridhai.

( Red )

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)