.jpg)
Keterangan Gambar : Tukokno kiwi, Yah. Siji ae
Perwirasatu.co.id , Jakarta - "Tukokno kiwi, Yah. Siji ae."
Permintaan sederhana itu membuat lelaki di samping anak perempuan tersebut memasukkan tangannya ke saku celana untuk kedua kalinya. Ia seperti berharap dompet yang tertinggal di rumah tiba tiba muncul di sana, meski sejak awal ia tahu saku itu kosong. Aku yang sedang memilih buah di sebelah mereka pura pura tidak mendengar, tetapi kalimat pendek itu terlanjur menetap di kepala.
"Ini apa, Yah?" Anak itu menunjuk buah berbulu cokelat yang tersusun rapi di dalam kotak pendingin.
Ayahnya membungkuk, lalu menunjuk tulisan kecil di atasnya. "Hayo, itu tulisannya apa?"
Anak itu mengeja dengan hati hati, seperti sedang mengerjakan tugas membaca di sekolah. "K I W I. Kiwi, Yah."
"Iya," jawab ayahnya. "Sudah, ayo."
Anak itu belum bergerak. Ia masih memandangi buah tersebut dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Tukokno kiwi, Yah. Siji ae."
Ayahnya tersenyum, tetapi senyum itu hanya bertahan sebentar. Ia mengusap kepala putrinya dan berkata pelan, "Dompet e Ayah ketinggalan. Mengko ae yo, Ayah tumbasno."
Anak itu mengangguk. Tidak menangis, tidak merengek, bahkan tidak bertanya lagi. Ia hanya memandang kiwi sekali lagi sebelum menggandeng tangan ayahnya.
Entah mengapa, justru sikap diam anak itu yang membuatku tidak nyaman. Ada permintaan anak yang begitu kecil, tetapi bagi orang dewasa di sampingnya ternyata cukup berat untuk dipenuhi. Aku melihat lelaki itu berjalan dua langkah, lalu kembali menoleh ke arah kiwi sebelum akhirnya memaksa dirinya pergi.
Aku segera menyusul.
"Pak," bisikku ketika sudah cukup dekat. "Tolong jangan tersinggung."
Lelaki itu berhenti dan menoleh dengan wajah bingung. Aku bicara lebih pelan agar putrinya tidak mendengar.
"Saya ingin beliin putri Bapak kiwi. Tapi jangan bilang saya kasihan, ya."
Wajahnya berubah. Ada sesuatu yang seperti hendak menolak, tetapi sebelum ia sempat membuka mulut, aku tersenyum dan berkata lebih keras.
"Eeeh, Pak, apa kabar?"
Ia semakin bingung.
"Saya kan punya utang ke Bapak," lanjutku sambil tertawa kecil. "Boleh ya saya nyaur pakai buah kiwi?"
Lelaki itu menatapku beberapa detik. Aku bisa melihat harga dirinya sedang berperang dengan kebutuhan anaknya. Akhirnya ia tersenyum tipis dan mengangguk.
"Kalau begitu, matur nuwun," katanya.
Aku berjongkok di dekat putrinya.
"Nduk, suka kiwi?"
Anak itu menatap ayahnya lebih dahulu sebelum menjawab. "Suka, tapi belum pernah makan."
Aku menunjuk kiwi yang tadi ia lihat.
"Kalau begitu kita coba. Yang ini juga ada yang warna kuning. Kiwi gold namanya. Rasanya lebih manis dan wanginya enak."
Matanya langsung tertuju pada buah yang kutunjuk. Namun tangannya belum bergerak.
"Ayo ambil kantong plastik," kataku.
Aku menggandengnya menuju tempat kantong plastik, lalu membukakan satu untuknya. Ia menerima kantong itu dengan kedua tangan dan kembali berdiri di depan rak buah.
"Sudah, ambil saja. Mau berapa?"
"Siji ae," jawab ayahnya dari belakang.
Aku menoleh.
"Pak, jangan satu."
Ia tertawa kecil. "Nanti kebanyakan."
Anak itu mengambil tiga buah kiwi, kemudian berhenti. Ia memandang ayahnya seperti sedang meminta keputusan terakhir.
"Ambil lagi," kataku.
Ia masih ragu.
"Enggak apa apa. Ini kan utang saya."
Anak itu tersenyum. Kali ini ia mengambil beberapa buah lagi. Aku menambahkan beberapa kiwi gold ke dalam kantong sampai jumlahnya cukup untuk membuatnya tersenyum puas.
Di sebelahnya ada strawberry. Aku mengambil satu dan mengangkatnya.
"Mau ini juga?"
Ia mengangguk cepat.
"Kalau yang ini?"
Aku menunjuk beberapa buah lain. Ia mulai tertawa setiap kali menemukan buah yang belum pernah dicobanya. Ayahnya berdiri di belakang sambil memperhatikan, dan untuk pertama kalinya sejak aku mendekati mereka, wajahnya terlihat lebih santai.
"Jangan banyak banyak, Nak," katanya.
Anaknya menoleh. "Boleh, Yah?"
Aku menjawab sebelum ayahnya sempat berkata apa apa.
"Boleh. Ayahmu sudah bilang boleh."
Anak itu tertawa. Ia memasukkan beberapa strawberry ke dalam kantong, lalu memeluknya sebentar seperti menemukan harta karun.
Aku melihat ayahnya tersenyum sambil menggeleng. Namun ketika putrinya tidak melihat, lelaki itu mengusap sudut matanya dengan cepat.
Kami kemudian berjalan menuju kasir. Aku masih harus membayar beberapa barang belanjaanku sendiri, sedangkan lelaki itu berdiri sedikit menjauh sambil menggandeng putrinya. Sesekali anak itu melihat kantong buah di tangannya dan tersenyum sendiri.
Ketika semua buah selesai dihitung, D datang menghampiriku.
"Yang ini sekalian," kataku sambil menunjuk belanjaan buah.
D mengangguk dan membayar semuanya.
Lelaki itu segera mendekat. "Jangan, Pak. Yang kiwi saja."
Aku menggeleng.
"Sudah, Pak. Tadi kan utang."
Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya diam. Putrinya berdiri di sampingnya sambil memegang kantong buah dengan kedua tangan.
D kemudian memberikan sejumlah uang tunai kepada anak itu.
"Ini buat kamu."
Anak itu memandang ayahnya. Setelah mendapat anggukan, ia menerima uang tersebut dengan sopan.
"Matur nuwun."
Ia lalu menyalami tangan D.
Ayahnya mengusap mata lagi. Kali ini ia tidak sempat menyembunyikannya.
Setelah itu lelaki tersebut mendekatiku. Tangannya menjabat tanganku cukup lama.
"Matur nuwun, Pak," katanya. "Semoga Allah membalas."
Aku tersenyum.
"Enggak usah dipikirkan. Saya cuma bayar utang."
Ia tertawa kecil. "Saya tidak pernah merasa pernah meminjam apa apa dari panjenengan."
Aku ikut tertawa.
"Namanya juga utang. Kadang orang yang berutang tidak tahu kepada siapa harus membayarnya."
Ia menatapku sebentar, lalu mengangguk meski mungkin tidak sepenuhnya memahami maksudku.
Mereka kemudian berjalan menuju pintu keluar. Anak itu melangkah dengan ringan, sesekali mengangkat kantong buahnya seperti ingin memastikan semua kiwi masih ada. Ayahnya menggandeng tangan anak itu dengan erat.
Aku memperhatikan mereka sampai hampir menghilang di balik pintu.
"Pak."
Suara D membuatku menoleh.
"Kenapa?" tanyaku.
D tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah pintu tempat lelaki dan anak itu baru saja keluar.
"Bapak tadi benar benar punya utang sama dia?"
Aku tertawa.
"Enggak. Saya cuma mengarang supaya dia tidak malu."
D tersenyum.
"Berarti bagus."
Aku mengernyit. "Bagus bagaimana?"
D memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Karena utang itu memang ada."
Aku terdiam.
D kemudian bercerita bahwa beberapa bulan sebelumnya ia pernah mengalami masalah di jalan. Mobilnya mogok ketika hujan turun cukup deras. Ia sudah mencoba meminta bantuan beberapa orang, tetapi tidak ada yang berhenti.
Sampai seorang lelaki datang.
Lelaki itu adalah ayah yang baru saja pergi bersama putrinya.
Ia membantu D memperbaiki mobil tanpa meminta bayaran. Ketika D hendak memberikan uang, lelaki itu menolak.
"Kalau suatu hari sampeyan bisa membantu orang lain, bantu saja," katanya waktu itu. "Tidak usah dikembalikan kepada saya."
D mengingat kalimat tersebut.
Ia bahkan tidak pernah tahu nama lengkap lelaki itu. Ia hanya mengingat wajahnya, sampai hari ini melihatnya berdiri di depan rak kiwi bersama seorang anak kecil.
"Jadi sejak tadi kamu sudah mengenal dia?" tanyaku.
D mengangguk.
"Kenapa tidak langsung bilang?"
D tersenyum.
"Karena kalau saya bilang, mungkin dia akan menolak."
Aku kembali memandang pintu keluar.
Tiba tiba aku teringat kalimat yang tadi kuucapkan kepada lelaki itu.
"Saya kan punya utang ke Bapak."
Aku mengatakannya sebagai alasan agar ia tidak merasa dikasihani. Aku mengira itu hanya kebohongan kecil untuk menyelamatkan harga diri seseorang.
Ternyata aku tidak sedang mengarang.
Aku hanya belum tahu bahwa utang itu memang ada.
Aku menoleh kepada D.
"Berarti sekarang sudah lunas?"
D menggeleng.
"Belum."
"Kenapa?"
Ia tersenyum sambil melihat ke arah anak kecil yang dari kejauhan masih terlihat menggenggam kantong buahnya.
"Karena orang baik biasanya tidak pernah benar benar dibayar."
Aku diam.
D melanjutkan, "Kita cuma meneruskan."
Di luar, anak itu tiba tiba melompat kecil sambil menunjukkan sesuatu kepada ayahnya. Mungkin sebuah kiwi gold yang baru pertama kali akan dicobanya.
Ayahnya tertawa.
Aku berdiri di dekat kasir sambil memandangi mereka.
Pagi itu aku datang ke Hypermart untuk membeli buah.
Aku pulang dengan membawa sesuatu yang tidak ada di daftar belanja.
Sebuah pelajaran sederhana tentang utang yang tidak selalu harus dibayar kepada orang yang sama.
Kadang utang kebaikan hanya perlu diteruskan.
Dan mungkin, satu kiwi yang hampir tidak jadi dibeli seorang anak adalah cara kecil dunia mengingatkan bahwa kebaikan selalu menemukan jalan untuk pulang.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY