Home Artikel China Membawa Data Center ke Laut

China Membawa Data Center ke Laut

42
0
SHARE
China Membawa Data Center ke Laut

Keterangan Gambar : China mengoperasikan pusat data bawah laut yang menampung hampir 2.000 server, memanfaatkan laut sebagai pendingin dan energi angin lepas pantai

Perwirasatu.co.id - Di lepas pantai Shanghai, masa depan kecerdasan buatan justru bergerak ke dasar laut. China mengoperasikan pusat data bawah laut yang menampung hampir 2.000 server, memanfaatkan laut sebagai pendingin dan energi angin lepas pantai. Eksperimen ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan pertaruhan besar tentang listrik, air, lingkungan, keamanan, dan arah baru pembangunan infrastruktur digital global pada era ledakan AI.

Sekitar 10 kilometer dari pesisir Lingang, Shanghai, fasilitas berkapasitas rencana 24 megawatt itu telah memasuki operasi komersial sejak Mei 2026. China Daily, 1 Juni 2026, melaporkan proyek tersebut menghubungkan pusat komputasi bawah laut langsung dengan pembangkit angin lepas pantai. Lebih dari 95 persen kebutuhan listriknya dirancang berasal dari energi terbarukan.

Logikanya sederhana: server menghasilkan panas, sedangkan laut menyediakan sumber pendinginan alami. Pengembang mengklaim sistem itu dapat memangkas konsumsi listrik 22,8 persen, menghilangkan penggunaan air tawar untuk pendinginan dan mengurangi kebutuhan lahan lebih dari 90 persen. PUE fasilitas tersebut ditargetkan sekitar 1,15, angka yang menunjukkan sebagian besar listrik dapat diarahkan untuk komputasi.

Efisiensi menjadi semakin penting ketika ledakan AI membuat data center menjadi infrastruktur rakus energi. South China Morning Post, 14 April 2026, mencatat proyek Lingang merupakan bagian upaya China mengatasi kebutuhan komputasi yang melonjak. Laut, dengan ruang luas, pendinginan alami dan kedekatan dengan pembangkit angin, mulai diperlakukan sebagai frontier baru infrastruktur digital.

Namun China bukan penemu gagasan ini. Pada 2018, Microsoft menenggelamkan Project Natick berisi 855 server di perairan Orkney, Skotlandia. Eksperimen itu justru menghasilkan temuan mengejutkan: tingkat kegagalan server bawah laut hanya seperdelapan dibanding kelompok kontrol di darat. Data Center Dynamics, 17 Juni 2024, melaporkan Microsoft kemudian memastikan Project Natick tidak lagi aktif.

Di sinilah cerita menjadi menarik. Microsoft tidak menghentikannya karena eksperimen itu gagal. Perusahaan menyatakan memperoleh banyak pelajaran mengenai operasi dan keandalan server bawah laut, tetapi memilih tidak membangun pusat data subsea. China justru mengambil jalan berbeda: membawa konsep serupa menuju skala komersial dan menghubungkannya dengan kebutuhan AI serta energi terbarukan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah server dapat bekerja di dasar laut. Microsoft telah membuktikannya. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah model tersebut ekonomis, mudah diperluas dan cukup aman untuk beroperasi bertahun-tahun. Tom's Hardware, 18 Mei 2026, mencatat tantangannya mencakup pemeliharaan, korosi air asin dan tekanan. Kerusakan perangkat di bawah laut jelas tidak sesederhana mengganti server di gedung data center.

Persoalan lingkungan juga belum selesai. Pendinginan alami memang menghemat listrik dan air tawar, tetapi panas dari komputer tetap dilepaskan ke lingkungan. Karena itu, dampak termal dan ekologis proyek berskala besar membutuhkan pemantauan independen dalam jangka panjang. Efisiensi digital tidak boleh sekadar memindahkan biaya lingkungan dari daratan ke lautan.

Eksperimen Shanghai akhirnya merupakan pertaruhan lebih besar daripada menenggelamkan 2.000 server. China sedang mencoba menjawab pertanyaan yang ditinggalkan Microsoft: apakah data center bawah laut bukan hanya mungkin secara teknis, tetapi juga layak secara ekonomi dan ekologis dalam skala industri.

Persaingan AI pada akhirnya mungkin tidak hanya ditentukan oleh siapa memiliki chip tercepat atau model paling pintar. Pemenangnya juga bisa ditentukan oleh siapa yang paling efisien menyediakan listrik, pendinginan, air dan ruang bagi jutaan mesin yang menjalankannya. Ketika dunia berlomba membangun otak digital, China sedang menguji satu kemungkinan radikal: sebagian infrastrukturnya mungkin justru berada di dasar laut.

Sumber

(Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home