Home Olahraga Dari Sentul Mengejar Mimpi Barcelona

Dari Sentul Mengejar Mimpi Barcelona

20
0
SHARE
Dari Sentul Mengejar Mimpi Barcelona

Keterangan Gambar : Pada usia 11 tahun, Arfa Senopati Ibrahim akan membawa sepatu bolanya dari Bekasi menuju Barcelona

Perwirasatu.co.id , Bogor - Pada usia 11 tahun, Arfa Senopati Ibrahim akan membawa sepatu bolanya dari Bekasi menuju Barcelona. Ia bukan pemain akademi FC Barcelona dan perjalanan ini bukan tiket otomatis menuju sepak bola profesional. Namun, dari sebuah lapangan latihan di Sentul, mimpi seorang anak perlahan menemukan bentuknya.

Ibra, begitu ia akrab disapa, dijadwalkan berangkat ke Barcelona pada 3 Oktober 2026. Selama sepuluh hari, ia akan mengikuti program Barca Academy Clinics setelah terpilih dalam proses evaluasi pada Barca Academy Camps Jakarta 2026 di Sentul, Bogor, yang berlangsung Juni hingga Juli.

Kesempatan itu datang setelah Ibra berlatih bersama ratusan pesepak bola muda dari berbagai daerah. Kemampuannya diamati dan dievaluasi oleh tim pelatih. Sang ayah, Iwan Ardiawan, mengatakan penentuan pemain dilakukan berdasarkan penilaian langsung di lapangan.

“Dari ratusan peserta, pelatih dari Barca melakukan penilaian langsung di lapangan. Alhamdulillah, Ibra jadi salah satu anak yang dilirik dan terpilih,” kata Iwan.

Bagi anak seusianya, Barcelona mungkin selama ini lebih dikenal melalui layar televisi, jersey, dan nama-nama pemain yang menjadi idola. Kini, Ibra mendapat kesempatan melihat langsung lingkungan sepak bola yang selama ini berada jauh dari kesehariannya.

Tetapi nilai perjalanan itu bukan semata soal terbang ke Spanyol. Yang lebih penting adalah apa yang dipelajari seorang anak ketika kesempatan bertemu dengan proses.

FC Barcelona menjelaskan Barça Academy sebagai model pembinaan bagi anak dan remaja yang menggabungkan pengembangan kemampuan sepak bola dengan pembentukan pribadi. Model tersebut menekankan permainan yang proaktif, kolektif dan kreatif, disertai nilai rasa hormat, kerja keras, ambisi, kerja sama dan kerendahan hati.

Barca Academy Clinics juga perlu ditempatkan secara proporsional. Program ini merupakan pengalaman pembinaan sepak bola di lingkungan FC Barcelona, bukan berarti peserta otomatis menjadi pemain akademi klub atau bagian dari La Masia. Karena itu, perjalanan Ibra lebih tepat dilihat sebagai kesempatan belajar dan mengembangkan diri.

Justru di sinilah cerita Ibra menjadi menarik.

Sepak bola usia dini sering kali dipenuhi mimpi besar. Anak-anak ingin menjadi pemain profesional, bermain di stadion besar, atau mengenakan jersey klub yang mereka kagumi. Namun mimpi tidak cukup hanya dengan keberanian membayangkannya. Ia membutuhkan latihan, disiplin, evaluasi, pendidikan dan kesempatan untuk belajar dari lingkungan yang berbeda.

Ibra mulai berlatih sepak bola sejak masih kecil. Perjalanannya menuju Barcelona juga tidak terjadi dalam satu malam. Ada latihan yang berulang, proses seleksi, dukungan keluarga dan keberanian untuk terus berada di lapangan.

Sepuluh hari di Barcelona karena itu bukan garis akhir. Bahkan bukan jaminan masa depan.

Setelah program selesai, Ibra akan kembali ke lapangan yang lebih dekat dengan rumahnya. Di sana, pengalaman di Barcelona harus diterjemahkan menjadi kebiasaan baru. Teknik yang lebih baik, pemahaman permainan yang lebih luas, kedisiplinan, kemampuan menerima evaluasi dan kemauan bekerja sama dengan rekan setim.

Bagi orang tua, tantangannya juga tidak sederhana. Anak berusia 11 tahun tetap membutuhkan sekolah, keluarga, waktu bermain dan ruang untuk menikmati olahraga yang dicintainya. Dukungan terhadap mimpi berbeda dengan memaksakan ambisi.

Karena itu, keberhasilan Ibra sebaiknya tidak diukur dari seberapa cepat ia menjadi terkenal. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah ia pulang.

Apakah ia menjadi lebih disiplin? Apakah ia memahami permainan dengan lebih baik? Apakah ia semakin mampu menerima kritik? Dan apakah kecintaannya kepada sepak bola tumbuh tanpa kehilangan kegembiraan sebagai seorang anak?

Barcelona dalam cerita ini bukan tujuan akhir. Ia adalah satu titik dalam perjalanan panjang.

Dari Sentul, seorang anak Bekasi memperoleh kesempatan untuk belajar di tempat yang selama ini hanya ada dalam bayangannya. Setelah itu, tantangan sebenarnya menunggu di lapangan sendiri.

Di sanalah mimpi bertemu rutinitas.

Di sanalah cita-cita diuji oleh disiplin.

Dan di sanalah Ibra akan belajar bahwa menjadi pemain yang lebih baik tidak ditentukan oleh pernah berlatih di Barcelona, melainkan oleh apa yang dilakukan setelah kembali ke rumah.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home