
Keterangan Gambar : Cak Nun sebagai budayawan, penyair, esais, dramawan, dan intelektual Muslim.
Perwirasatu.co.id , Yogyakarta - Di sebuah ruang perawatan RSUP Dr Sardjito, Yogyakarta, Juli 2023, kehidupan Emha Ainun Nadjib memasuki babak yang jauh dari panggung, puisi, musik, dan riuh jemaah. Cak Nun menjalani perawatan intensif. Di sisinya ada Novia Kolopaking, perempuan yang lebih dari seperempat abad menjadi istrinya. Pada usia senja, keluarga memperlihatkan maknanya yang paling sederhana: hadir ketika kehidupan sedang rapuh.
Publik mengenal Cak Nun sebagai budayawan, penyair, esais, dramawan, dan intelektual Muslim. Lahir di Jombang, 27 Mei 1953, ia bergerak melintasi sastra, teater, musik, agama, kebudayaan, hingga kritik sosial. Bersama KiaiKanjeng dan forum Maiyah, ia menjadi sosok yang didengar ribuan orang. Namun seorang tokoh publik tetaplah manusia yang pulang kepada keluarga.
Jauh sebelum Novia mendampinginya, perjalanan keluarga Cak Nun telah melewati jalan yang tidak lurus. Pada 1978 ia menikah dengan Neneng Suryaningsih. Setahun kemudian lahir Sabrang Mowo Damar Panuluh, yang kelak dikenal sebagai Noe, vokalis Letto. Pernikahan itu berakhir pada 1985.
Setelah orang tuanya berpisah, Sabrang tinggal bersama ibunya di Lampung sebelum kembali ke Yogyakarta saat SMA. Ia kemudian menempuh pendidikan di University of Alberta, Kanada, dan membangun jalannya sendiri melalui musik serta aktivitas intelektual. Sabrang tidak menghapus hubungannya dengan Cak Nun, tetapi juga tidak selamanya hidup sebagai "anak Cak Nun".
Di sinilah perceraian tidak cukup dibaca sebagai kegagalan mutlak. Hubungan suami-istri dapat berakhir, tetapi hubungan orang tua dan anak bergerak dalam garis waktu berbeda. Meski demikian, publik tidak mengetahui seluruh dinamika keluarga mereka. Apa yang dapat dibaca hanyalah jejak yang terverifikasi, bukan dugaan mengenai kehidupan di balik pintu rumah.
Lebih dari satu dasawarsa setelah pernikahan pertamanya berakhir, Cak Nun memasuki babak baru. Ia mengenal Novia Kolopaking sekitar 1995 dan menikahinya pada 22 Maret 1997. Novia bukan sosok yang baru dikenal setelah menjadi istri Cak Nun. Ia telah memiliki identitas sendiri sebagai penyanyi dan aktris, antara lain melalui Siti Nurbaya dan Keluarga Cemara.
Pernikahan kedua itu membawa sejarah masing-masing. Cak Nun telah memiliki Sabrang, sementara Novia datang dengan perjalanan hidup dan kariernya sendiri. Dari pernikahan mereka kemudian tumbuh generasi keluarga berikutnya. Karena itu, kehidupan keluarga ini lebih menarik dibaca sebagai proses bertumbuh daripada cerita tentang "istri pertama" dan "istri kedua".
Kolase keluarga yang beredar di media sosial tidak cukup untuk menjelaskan perjalanan tersebut. Label istri, anak, menantu, atau cucu memang memudahkan orang membaca silsilah, tetapi keluarga bukan tabel administrasi. Di belakang setiap label terdapat sejarah, kehilangan, pertumbuhan, dan ruang pribadi yang tidak seluruhnya menjadi hak publik.
Makna keluarga itu terlihat kembali pada 2023. Ketika Cak Nun dirawat intensif, kunjungan dibatasi dan Novia berada di dekatnya. Sejumlah tokoh datang menjenguk. Namun rumah sakit mempunyai cara menghapus banyak atribut sosial: gelar, popularitas, karya, dan pengaruh menjadi kurang berarti ketika manusia berhadapan dengan tubuh yang membutuhkan pertolongan.
Orang yang selama puluhan tahun berbicara kepada ribuan orang itu untuk sementara harus berhenti dari panggung. Ketika panggung sunyi, yang tersisa adalah lingkaran jauh lebih kecil: keluarga.
Perjalanan Cak Nun karena itu tidak membutuhkan vonis tentang kegagalan pernikahan pertama atau kesempurnaan pernikahan kedua. Ada pernikahan yang berakhir, anak yang terus tumbuh, kehidupan baru, pertambahan usia, dan keluarga yang hadir ketika kesehatan melemah.
Pada akhirnya, setelah panggung sepi dan mikrofon dimatikan, manusia kembali kepada lingkaran paling kecil: orang-orang yang mengenalnya bukan dari apa yang ia katakan di depan publik, melainkan dari bagaimana ia hadir dalam kehidupan sehari-hari.
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY