Home Daerah El Nino Menguji Ketahanan Pangan 2027

El Nino Menguji Ketahanan Pangan 2027

14
0
SHARE
El Nino Menguji Ketahanan Pangan 2027

Keterangan Gambar : El Niño tidak berhenti sebagai persoalan cuaca. Ketika kekeringan mengganggu produksi dan pasokan pangan, dampaknya dapat menjalar ke harga dan daya beli.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - El Niño tidak berhenti sebagai persoalan cuaca. Ketika kekeringan mengganggu produksi dan pasokan pangan, dampaknya dapat menjalar ke harga dan daya beli. Data DEN menunjukkan tekanan harga sejumlah komoditas hortikultura telah meningkat, sementara BMKG memperingatkan musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di banyak wilayah. Kini, kemampuan pemerintah mengantisipasi risiko tersebut diuji menjelang 2027.

Peringatan itu bukan tanpa dasar. Dewan Ekonomi Nasional dalam Laporan Inflasi September 2026, 4 September 2026, mencatat inflasi IHK Agustus mencapai 3,19 persen secara tahunan, naik dari 2,88 persen pada Juli. Inflasi volatile food juga meningkat menjadi 4,06 persen. DEN menyebut kendala produksi hortikultura dan El Niño sebagai sebagian faktor yang mendorong tekanan pangan.

Tekanan tersebut terlihat lebih nyata pada cabai. Dalam Pemantauan Harga Pangan Minggu Kedua September 2026, 15 September 2026, DEN mencatat harga cabai rawit naik 37,8 persen secara bulanan dan cabai merah 26,8 persen. Secara tahunan, cabai rawit meningkat 65,2 persen dan cabai merah 13,9 persen. DEN mengaitkan kenaikan itu dengan krisis ketersediaan air akibat cuaca sangat panas dan El Niño.

Namun, membaca seluruh kenaikan harga pangan hanya sebagai akibat El Niño akan terlalu sederhana. DEN juga mencatat faktor permintaan, kendala produksi dan harga komoditas global. Artinya, El Niño lebih tepat dipahami sebagai guncangan pasokan yang dapat memperbesar tekanan ketika bertemu dengan persoalan produksi, distribusi dan stok.

Dari sisi iklim, risikonya memang meningkat. BMKG pada 22 September 2026 menyatakan El Niño berada pada intensitas sangat kuat. Anomali suhu muka laut Nino3.4 pada akhir Agustus mencapai plus 2,83, sedangkan indeks ENSO Juli-Agustus-September mencapai plus 2,63. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia.

Kondisi itu membuat sektor pangan menghadapi jendela pemulihan yang lebih sempit. BMKG juga mencatat 556 Zona Musim, mencakup 61,91 persen luas daratan Indonesia, masih mengalami musim kemarau. Untuk sektor pangan, BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas berumur pendek, penghematan air dan penguatan pengelolaan sumber daya air.

Masalahnya kemudian bukan sekadar berapa banyak hujan yang turun, tetapi seberapa cepat sistem pangan beradaptasi. Cadangan pangan, irigasi, distribusi dan keputusan tanam harus bergerak berdasarkan informasi iklim sebelum kekurangan pasokan muncul di pasar. Jika tindakan baru dilakukan setelah harga melonjak, ruang untuk mencegah gejolak menjadi lebih sempit.

Cadangan beras memberi ruang intervensi. DEN pada 4 September 2026 mencatat Cadangan Beras Pemerintah mencapai sekitar 5,1 juta ton per 25 Agustus. Tetapi besarnya stok tidak otomatis menyelesaikan persoalan pangan. Distribusi, lokasi stok, waktu pelepasan dan kemampuan menjangkau daerah defisit sama pentingnya dengan volume cadangan itu sendiri.

Bank Indonesia pada 23 September 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dan sasaran inflasi 2,5 persen plus-minus 1 persen untuk 2026 dan 2027. BI juga menegaskan koordinasi dengan pemerintah melalui TPIP dan TPID untuk mengendalikan inflasi pangan, termasuk mengantisipasi gangguan cuaca El Niño. Pesannya jelas: stabilitas harga tidak dapat ditangani dengan kebijakan moneter saja.

Ada pula pelajaran dari komoditas yang pasarnya bersifat global. Bisnis.com pada 29 September 2026 melaporkan risiko El Niño terhadap produksi kopi Indonesia muncul ketika harga kopi juga dipengaruhi melimpahnya pasokan global. Kasus ini menunjukkan bahwa gangguan produksi domestik tidak otomatis menghasilkan kenaikan harga. Harga komoditas tetap ditentukan oleh pertemuan antara pasokan, permintaan, stok dan perdagangan dunia.

Karena itu, risiko 2027 sebaiknya tidak dibaca sebagai ramalan bahwa seluruh harga pangan pasti melonjak. Yang lebih tepat adalah melihat El Niño sebagai faktor yang dapat memperbesar kerentanan sistem pangan. Dampaknya akan berbeda antar-komoditas dan antarwilayah, tergantung kondisi produksi, cadangan, distribusi serta kemampuan petani memperoleh air dan sarana produksi.

Di sinilah peringatan DEN menjadi penting. Mitigasi harus dilakukan sebelum kekeringan berubah menjadi gangguan produksi dan gangguan produksi berubah menjadi kelangkaan. Pemerintah perlu menghubungkan prakiraan BMKG dengan keputusan pertanian, cadangan pangan, distribusi, perlindungan daya beli dan kebijakan perdagangan.

Tantangan sebenarnya bukan menemukan tanda bahaya. Data sudah menunjukkannya. Tantangannya adalah mengubah peringatan menjadi tindakan lebih cepat daripada perubahan harga. El Niño mungkin tidak dapat dihentikan, tetapi dampak ekonominya dapat diperkecil jika produksi, stok, distribusi dan kebijakan bekerja berdasarkan peringatan dini, bukan menunggu krisis muncul di pasar.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home