Home Tokoh Guruh Soekarnoputra dan Identitas Seni Indonesia

Guruh Soekarnoputra dan Identitas Seni Indonesia

7
0
SHARE
Guruh Soekarnoputra dan Identitas Seni Indonesia

Keterangan Gambar : Guruh Soekarnoputra meninggal pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Guruh Soekarnoputra meninggal pada Sabtu, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB. Kepergiannya bukan hanya kabar duka bagi keluarga dan dunia seni, tetapi juga momentum untuk melihat kembali perjalanan seorang anak Soekarno yang berusaha membangun identitasnya sendiri melalui musik, tari, koreografi, dan pertunjukan. Pertanyaan pentingnya bukan sekadar siapa ayahnya, melainkan apa yang ditinggalkan Guruh bagi kebudayaan Indonesia.

Kompas.com, 26 September 2026, melaporkan Guruh meninggal setelah sebelumnya menjalani perawatan intensif di RS Siloam Semanggi. Sehari sebelumnya, sejumlah media memberitakan kondisinya kritis. Kumparan, 25 September 2026, menyebut Guruh sebelumnya sekitar empat pekan dirawat di RS Medistra. Detik, pada hari yang sama, juga melaporkan informasi tentang perawatan Guruh, sementara iNews memberitakan kondisi kesehatannya mengalami penurunan dalam sekitar satu tahun terakhir.

Fakta-fakta tersebut cukup untuk menjelaskan suasana menjelang kepergiannya. Namun, feature tentang Guruh seharusnya tidak berhenti sebagai berita kesehatan atau obituary. Yang lebih menarik adalah perjalanan seorang seniman yang sejak kecil hidup di bawah bayang-bayang nama besar Soekarno, tetapi kemudian membangun panggungnya sendiri.

ANRI mencatat Guruh lahir di Jakarta, 13 Januari 1953, sebagai anak bungsu Soekarno dan Fatmawati. Ketika berusia lima tahun, ia telah belajar tari Jawa, Sunda, dan Bali, bermain piano, serta tampil di panggung. Masa kanak-kanak itu menjadi awal dari perjalanan panjang yang kemudian membawanya ke musik dan seni pertunjukan.

Salah satu titik pentingnya adalah Guruh Gipsy yang dirilis pada 1975. Karya tersebut mempertemukan musik modern dengan unsur gamelan Bali. Di sinilah posisi Guruh menjadi menarik. Ia tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi mencoba membawa unsur tradisi masuk ke dalam bahasa seni zamannya.

ANRI mencatat Guruh kemudian mendirikan Swara Maharddhika pada 27 Maret 1977. Dua tahun kemudian lahir Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I. Setelah itu menyusul Untukmu Indonesiaku pada 1980, Cinta Indonesia, dan Gilang Indonesia Gemilang pada 1986. Rangkaian itu menunjukkan bahwa perhatian Guruh terhadap kebudayaan tidak berhenti pada penciptaan lagu, tetapi berkembang menjadi konsep pertunjukan yang memadukan musik, tari, kostum, gerak, dan tata panggung.

Di titik ini, menyebut Guruh hanya sebagai putra bungsu Soekarno terasa terlalu sederhana. Nama keluarga memang memberikan posisi simbolik yang kuat, tetapi nama tidak otomatis melahirkan karya. Guruh harus membangun legitimasi melalui proses kreatifnya sendiri.

Jejaknya juga melebar ke perfilman. Kumparan, 25 September 2026, mencatat keterlibatannya sebagai ilustrator musik dalam Ali Topan Anak Jalanan, Gita Cinta dari SMA, dan Puspa Indah Taman Hati. Ia juga pernah tampil sebagai pemeran dalam film Sembilan Wali. Artinya, medan ekspresinya tidak pernah berhenti pada satu cabang seni.

Guruh kemudian memasuki wilayah politik. Namun, bagian tersebut sebaiknya tidak menenggelamkan identitasnya sebagai seniman. Politik adalah salah satu fase hidupnya, sedangkan seni merupakan ruang yang telah ia bangun sejak usia dini. Memisahkan keduanya secara proporsional penting agar warisannya tidak direduksi menjadi sekadar bagian dari dinasti keluarga atau identitas partai.

Persoalan yang justru layak diwariskan adalah bagaimana karya-karya tersebut dirawat. ANRI memiliki inventaris arsip Guruh yang mencatat berbagai materi musik, pertunjukan, film, dan aktivitas keseniannya. Ini penting karena seni pertunjukan mudah hilang ketika panggung selesai. Tanpa dokumentasi, generasi berikutnya hanya akan mengenal nama, bukan proses kreatif yang melahirkannya.

Karena itu, kepergian Guruh seharusnya menjadi momentum untuk membuka kembali arsip, rekaman, karya musik, koreografi, dokumentasi pertunjukan, dan pemikiran kebudayaannya. Penghormatan kepada seniman tidak cukup melalui ucapan belasungkawa. Warisan yang lebih penting adalah memastikan karya tersebut tetap dapat dipelajari, dikritik, dan ditafsirkan oleh generasi baru.

Guruh Soekarnoputra memang lahir dari keluarga sejarah. Tetapi sejarah tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan seseorang dikenang. Setelah nama Soekarno ditempatkan di belakang namanya, masih ada pertanyaan yang lebih penting: apa yang benar-benar dibangun Guruh atas namanya sendiri?

Jawabannya ada pada musik, tari, pertunjukan, dan gagasan kebudayaan yang ia tinggalkan. Guruh telah pergi, tetapi pertanyaan mengenai bagaimana Indonesia merawat warisan seni dan identitas kebudayaannya masih terbuka. Di situlah kepergian Guruh tidak semestinya menjadi akhir sebuah cerita, melainkan awal dari pembacaan kembali terhadap karya dan gagasannya.

Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home