
Keterangan Gambar : Gunung Ili Lewotolok kembali erupsi di Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat malam, 2 Oktober 2026. Kolom abu setinggi 300 meter di atas puncak disertai aliran lava segar sejauh 500 meter ke sektor tenggara.
Perwirasatu.co.id, 03 Oktober 2026
Gunung Ili Lewotolok kembali erupsi di Lembata, Nusa Tenggara Timur, Jumat malam, 2 Oktober 2026. Kolom abu setinggi 300 meter di atas puncak disertai aliran lava segar sejauh 500 meter ke sektor tenggara. Peristiwa ini bukan kejadian yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari aktivitas vulkanik yang berlangsung dan menuntut pembacaan risiko secara lebih cermat oleh warga serta pengunjung di kawasan.
Erupsi terjadi pukul 21.41 WITA. Menurut laporan Badan Geologi yang diberitakan ANTARA pada 2 Oktober 2026, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke barat. Erupsi terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 19 milimeter dan berlangsung sekitar satu menit 14 detik. Pengamatan visual juga mengonfirmasi aliran lava segar dari bibir kawah utama menuju sektor tenggara sejauh 500 meter.
Angka-angka itu penting, tetapi tidak cukup dibaca sebagai ukuran tunggal besarnya ancaman. Aktivitas Ili Lewotolok sudah berlangsung dalam pola yang lebih panjang. ANTARA pada 23 September 2026 melaporkan Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok mencatat 5.350 gempa erupsi selama 1–15 September. Pada periode yang sama terjadi pula ribuan gempa hembusan, ratusan gempa guguran, serta aktivitas tremor dan gempa vulkanik.
Yang juga penting adalah perubahan tubuh gunung itu sendiri. Berdasarkan laporan yang sama, aliran lava telah keluar menuju sektor selatan sejak 18 Agustus dengan jarak mencapai 1.800 meter. Pada 4 September, aliran lava baru teramati menuju timur laut sejauh 500 meter di atas endapan lava lama. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik bukan sekadar rangkaian letusan yang muncul sesekali, melainkan proses yang terus dipantau melalui perubahan kegempaan, lava, abu, dan material pijar.
Sehari sebelum erupsi terbaru, aktivitas bahkan sempat menunjukkan penurunan. Media Indonesia pada 2 Oktober 2026 melaporkan 183 erupsi tercatat pada 1 Oktober, turun dari 248 erupsi pada 29 September. Namun, penurunan frekuensi tidak berarti aktivitas berhenti. Pada hari yang sama, erupsi tetap terjadi dengan ketinggian kolom 100–500 meter. Status gunung juga tetap Level II atau Waspada.
Di sinilah risiko gunung api sering disalahpahami. Angka aktivitas yang turun dapat dengan mudah dibaca sebagai tanda keadaan membaik, sementara letusan yang kembali terjadi memperlihatkan bahwa dinamika gunung tidak berjalan lurus. Penilaian keselamatan tidak dapat bergantung pada satu hari dengan aktivitas lebih rendah. Yang lebih penting adalah kecenderungan keseluruhan dan evaluasi terus-menerus dari instrumen serta pengamatan petugas.
Laporan Global Volcanism Program Smithsonian Institution dan US Geological Survey untuk periode 24–30 September 2026 juga mencatat aktivitas erupsi Ili Lewotolok masih berlangsung. Kolom abu kelabu mencapai 400–700 meter di atas puncak dan aliran lava aktif di sisi tenggara mencapai sekitar 500 meter. Status Level 2 tetap dipertahankan, dengan rekomendasi menjauh dari radius dua kilometer dan perluasan tiga kilometer pada sektor selatan dan tenggara.
Rekomendasi tersebut kembali ditegaskan Badan Geologi setelah erupsi 2 Oktober. ANTARA melaporkan masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak memasuki radius dua kilometer dari pusat aktivitas serta zona sektoral tiga kilometer ke arah selatan dan tenggara. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi guguran atau longsoran lava dan awan panas pada sejumlah sektor. Kata “potensi” penting: laporan tersebut bukan menyatakan awan panas telah terjadi dalam erupsi 2 Oktober.
Abu vulkanik menghadirkan persoalan lain. Material yang tampak ringan dari kejauhan dapat mengganggu kualitas udara dan mencemari tempat penampungan air. Karena itu, Badan Geologi mengimbau warga menggunakan masker pelindung hidung dan mulut ketika terjadi hujan abu serta menutup sarana penampungan air bersih. Mitigasi pada akhirnya bukan hanya soal menjauh dari kawah, tetapi juga mengurangi paparan setelah material vulkanik mencapai permukiman.
Ili Lewotolok memperlihatkan mengapa risiko vulkanik harus dibaca sebagai sesuatu yang bergerak. Pada satu periode, aktivitas dapat menurun; pada periode lain, lava dapat berkembang di sektor tertentu dan erupsi kembali terjadi. Karena itu, angka 300 meter atau 500 meter bukan sekadar angka pemberitaan. Keduanya menjadi bagian dari peta perubahan yang harus diterjemahkan melalui pemantauan ilmiah dan keputusan keselamatan.
Bagi masyarakat Lembata, tantangannya bukan menghentikan aktivitas gunung, melainkan memastikan perubahan itu selalu diikuti keputusan yang tepat. Selama status Waspada masih berlaku, batas zona bahaya bukan sekadar informasi administratif. Ia adalah garis keselamatan yang harus dipahami warga, pengunjung, dan wisatawan.
Erupsi 2 Oktober akhirnya memberi pelajaran yang sederhana tetapi penting: aktivitas yang menurun tidak sama dengan aktivitas yang berakhir. Ili Lewotolok masih berada dalam sistem vulkanik yang dinamis. Karena itu, cara paling rasional menghadapi letusan bukan dengan membesar-besarkan ancaman, tetapi juga bukan dengan menganggap remeh perubahan. Risiko harus dibaca dari data, dipantau dari waktu ke waktu, dan diterjemahkan menjadi tindakan sebelum bahaya mendekat.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY