Home Artikel Ilmu Padi, Rendah Hati Dan Manfaat

Ilmu Padi, Rendah Hati Dan Manfaat

10
0
SHARE
Ilmu Padi, Rendah Hati Dan Manfaat

Keterangan Gambar : Peribahasa “ilmu padi, makin berisi makin merunduk” mengandung pelajaran yang sangat dalam. Padi yang berisi akan merunduk karena beratnya bulir yang matang.

Perwirasatu.co.id, 10 Oktober 2026

Ilmu yang benar semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan. Semakin seseorang memahami luasnya pengetahuan, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya. Namun rendah hati bukan berarti menyembunyikan ilmu, apalagi memilih diam ketika kebenaran perlu disampaikan. Ilmu akan bernilai ketika diamalkan, dibagikan dengan adab, dan menjadi manfaat bagi sesama tanpa menjadikan kepandaian sebagai alasan untuk meninggikan diri.

Peribahasa “ilmu padi, makin berisi makin merunduk” mengandung pelajaran yang sangat dalam. Padi yang berisi akan merunduk karena beratnya bulir yang matang. Demikian pula manusia yang benar-benar berilmu semestinya semakin lembut sikapnya, semakin santun lisannya, dan semakin berhati-hati dalam menilai orang lain.

Allah SWT berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.”

(QS. Yusuf: 76)

Ayat ini mengajarkan bahwa setinggi apa pun ilmu seseorang, tetap ada pengetahuan yang berada di atasnya. Karena itu, ilmu seharusnya membuat seseorang semakin sadar akan kebesaran Allah dan keterbatasan dirinya, bukan merasa paling tahu dan paling benar.

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mencari kedudukan dan pujian. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)

Perhatikan bahwa tujuan ilmu dalam hadis tersebut bukan sekadar agar seseorang dipandang hebat, menang berdebat, memiliki banyak pengikut, atau mampu membuat orang lain merasa bodoh. Ilmu diarahkan menuju jalan keselamatan. Karena itu, ukuran keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu bukan hanya banyaknya informasi yang dikuasai, tetapi sejauh mana ilmu tersebut membentuk akhlaknya.

Di zaman sekarang, seseorang dapat dengan mudah berbicara di depan banyak orang. Sedikit pengetahuan dapat dikemas menjadi berbagai konten, seminar, ceramah, tulisan, atau perdebatan. Tidak ada yang salah dengan berbagi ilmu. Bahkan menyampaikan kebaikan merupakan amal yang mulia. Yang perlu dijaga adalah niat dan adabnya.

Rasulullah SAW bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.”

(HR. Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa ilmu tidak semestinya berhenti pada diri sendiri. Apa yang telah diketahui dan benar sumbernya boleh disampaikan kepada orang lain. Namun menyampaikan ilmu harus disertai kejujuran, kehati-hatian, dan kesadaran bahwa tidak semua hal harus dibicarakan apabila belum diketahui kebenarannya.

Rendah hati bukan berarti takut berbagi ilmu. Rendah hati berarti ketika berbagi ilmu, seseorang tidak menjadikan ilmu itu sebagai tangga untuk merendahkan orang lain. Ia menyampaikan kebenaran tanpa merasa dirinya pemilik kebenaran. Ia berani berkata “saya belum tahu” ketika memang belum tahu. Ia bersedia belajar ketika mendapatkan koreksi. Ia tidak malu memperbaiki kesalahan ketika bukti yang lebih kuat telah datang.

Allah SWT berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”

(QS. An-Najm: 32)

Inilah salah satu batas penting dalam berbagi ilmu. Jangan sampai seseorang sibuk menunjukkan bahwa dirinya berilmu, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri. Jangan sampai lidahnya mengajarkan kesabaran, sementara perilakunya penuh amarah. Jangan sampai ia berbicara tentang keikhlasan, tetapi setiap kebaikannya selalu membutuhkan pengakuan.

Padi yang merunduk bukan berarti tidak berguna. Justru padi yang telah berisi akan dipanen dan menjadi makanan bagi banyak manusia. Begitu pula orang berilmu. Kerendahan hati bukan alasan untuk menyimpan pengetahuan sendirian. Ilmu harus dibagikan agar menjadi manfaat, tetapi manfaat itu hendaknya diberikan dengan ketulusan dan akhlak yang baik.

Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”

(HR. Muslim)

Maka, jangan takut menjadi orang yang berilmu sekaligus rendah hati. Jangan pula merasa harus diam hanya karena ingin terlihat tawaduk. Sampaikanlah ilmu yang benar, tetapi sampaikan dengan kasih sayang. Tegakkan kebenaran, tetapi jangan merendahkan manusia. Berbicaralah ketika bermanfaat dan diamlah ketika ucapan hanya akan melahirkan kesombongan.

Sebab ilmu yang sejati tidak berhenti di kepala. Ia turun ke hati, lalu tampak dalam akhlak dan perbuatan. Semakin seseorang berisi ilmu, semestinya semakin ia merunduk di hadapan Allah, semakin menghormati sesama, semakin haus belajar, dan semakin banyak memberikan manfaat.

Padi merunduk bukan karena kosong, melainkan karena berisi. Begitu pula manusia yang benar-benar berilmu: ia tidak perlu meninggikan dirinya untuk menunjukkan ketinggiannya. Biarlah ilmu, akhlak, dan manfaat yang berbicara. Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak kita terlihat pintar yang akan menjadi ukuran, melainkan seberapa banyak ilmu itu membawa kita semakin dekat kepada Allah dan menjadi kebaikan bagi kehidupan orang lain.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home