Home Artikel Jangan Meremehkan Hak Sesama

Jangan Meremehkan Hak Sesama

21
0
SHARE
Jangan Meremehkan Hak Sesama

Keterangan Gambar : Dalam ajaran Islam, persoalan terbesar bukan sekadar banyaknya orang yang tidak menyukai seseorang, melainkan banyaknya hak manusia yang dilanggar

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Di tengah kehidupan, banyak luka lahir bukan karena kekurangan harta, melainkan karena buruknya hubungan dengan sesama. Ada ucapan yang menyakiti, hak yang dirampas, janji yang diingkari, dan kesalahan yang tidak pernah diselesaikan. Islam mengingatkan bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan bersama akhlak kepada manusia, sebab kezaliman terhadap sesama dapat menjadi beban berat di akhirat kelak yang tidak ringan sama sekali.

Ungkapan bahwa orang yang paling menderita pada hari kiamat adalah orang yang memiliki banyak masalah dengan manusia perlu dipahami secara hati hati. Dalam ajaran Islam, persoalan terbesar bukan sekadar banyaknya orang yang tidak menyukai seseorang, melainkan banyaknya hak manusia yang dilanggar, kezaliman yang dilakukan, permusuhan yang dipelihara, serta kesalahan yang tidak diselesaikan dengan meminta maaf dan mengembalikan hak.

Rasulullah ﷺ memberikan peringatan yang sangat tegas tentang orang yang secara lahiriah memiliki banyak amal, tetapi ternyata kehilangan pahala karena buruknya hubungan dengan manusia. Beliau bersabda:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak mempunyai harta benda.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi ia datang setelah mencaci orang ini, menuduh orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Maka diberikanlah kebaikannya kepada orang ini dan kebaikannya kepada orang itu. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum selesai semua tuntutan atas dirinya, dosa dosa mereka diambil lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hadis ini menggambarkan betapa seriusnya persoalan hak manusia. Seseorang mungkin rajin salat, tekun berpuasa, gemar bersedekah, dan banyak melakukan amal saleh. Namun, apabila pada saat yang sama ia senang menyakiti, merendahkan, memfitnah, menipu, mengambil hak, atau melakukan kekerasan terhadap orang lain, seluruh persoalan itu tidak boleh dianggap ringan.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

Artinya: “Dan orang orang yang menyakiti orang orang mukmin laki laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 58)

Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak hanya bertanya, “Sudahkah aku banyak beribadah kepada Allah?” tetapi juga bertanya, “Sudahkah aku menjaga lisan dan tanganku dari menyakiti manusia?” Sudahkah hutang dikembalikan? Sudahkah amanah ditunaikan? Sudahkah kesalahan diakui? Sudahkah orang yang pernah kita sakiti memperoleh permintaan maaf yang tulus?

Allah juga memuji orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan manusia:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Yaitu orang orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134)

Ayat dan hadis tersebut mengajarkan bahwa kesalehan bukan hanya hubungan vertikal antara manusia dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama. Semakin dekat seseorang kepada Allah, semestinya semakin lembut lisannya, semakin aman tangannya, semakin jujur perbuatannya, dan semakin berhati hati ia menjaga perasaan serta hak orang lain.

Jika pernah berbuat salah kepada manusia, jangan menunggu hari tua untuk memperbaikinya. Jika masih ada kesempatan, mintalah maaf. Jika ada hak yang diambil, kembalikan. Jika ada hutang, tunaikan. Jika pernah memfitnah, luruskan kesalahan tersebut. Jika pernah merendahkan seseorang, perbaiki ucapan dan sikap. Sebab sebelum datang hari ketika dinar dan dirham tidak lagi berguna, yang tersisa hanyalah pahala dan dosa.

Jangan sampai kita dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tetapi meninggalkan banyak luka di hati manusia. Jangan sampai kesalehan kita terlihat di masjid, tetapi kezaliman kita dirasakan oleh keluarga, tetangga, sahabat, bawahan, rekan kerja, atau orang yang berada dalam posisi lemah.

Pada akhirnya, keselamatan bukan hanya tentang seberapa banyak amal yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan setiap hak yang pernah bersentuhan dengan kehidupan kita. Maka selagi masih ada waktu, mari berdamai, meminta maaf, memaafkan, mengembalikan hak, menjaga lisan, dan menghentikan kezaliman. Sebab manusia yang paling beruntung bukanlah yang tidak pernah bersalah, melainkan yang segera kembali kepada Allah dan sungguh sungguh memperbaiki kesalahannya kepada sesama.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home