Perwirasatu.co.id, 02 November 2026
BAPAK Kapolri yang terhormat,
Slogan, anda sendiri yang instruksi untuk digaungkan di setiap dinding Polres, di setiap spanduk, di setiap upacara: Polisi Bersama Masyarakat. Polri Buat Masyarakat. Presisi: Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan. Lalu, bagaimana dengan yang terjadi di Mojolaban, Sukoharjo, 27 Oktober 2026 jam 03.20 WIB?!
12 santriwati putri usia 10-16 tahun sedang tidur lelap di Ponpes Hamalatul Qur'an. Didobrak pintu kamar mereka oleh aparat laki-laki bersenjata laras panjang. Ditarik keluar saat belum berjilbab. Ditodong. Dibentak. Digelandang ke Polsek lalu Polres. Baru dipulangkan maghrib karena; 'Tidak Terbukti Bersalah' terkait pembakaran Warung Mi Babi Tepi Sawah.
Komnas HAM pun sudah bilang: Tidak proporsional, tidak sensitif gender. Mabes Polri sendiri, juga sudah menyampaikan empati. Pertanyaan publik untuk Pak Kapolri; "Dimana 'Bersama Masyarakatnya' di sini?"
Bersama masyarakat itu, artinya; melindungi nenek di pasar seperti di gambar kiri poster ini. Mengayomi anak sekolah, seperti di gambar tengah. Menjabat tangan tokoh pesantren dengan hormat, seperti yang terlihat di gambar kanan. Bukan menodongkan senjata ke santriwati 10 tahun yang sedang tidur.
Kami di For-WIN tidak benci Polri. Kami justeru cinta Polri. Karena itu, kami ingatkan:
Jika slogan Polri yang bapak usung hanya jadi stiker di mobil patroli, tapi di lapangan yang terjadi adalah ketakutan di ponpes-ponpes kecil, maka percaya atau tidak, kepercayaan publik yang sudah mulai terbangun akan runtuh!.
Kami For-WIN menuntut 3 hal:
1. Buktikan Slogan Tersebut: Jadikan kasus Sukoharjo ini momentum reformasi SOP. Wajibkan Polwan, tokoh agama, dan UPTD PPA hadir dalam setiap penggeledahan ponpes putri.
2. Larang penggeledahan jam 22.00-06.00 kecuali terorisme yang mengancam nyawa detik itu juga.
3. Berikan Trauma Healing: untuk 12 santriwati yang menjadi korban. Mereka adalah generasi Qur'ani, bukan teroris.
4. Evaluasi Kapolda Jateng dan Kapolres Sukoharjo Secara Transparan: Biar publik tahu bahwa Polri tidak melindungi anggotanya yang salah prosedur.
Ingat Pak, seragam yang Bapak pakai itu dibiayai dari uang rakyat. Bukan dari konglomerat. Senjata yang ditodongkan itu dibeli dari pajak rakyat. Seharusnya untuk melindungi rakyat, bukan untuk menakuti rakyat.
"Jadilah Pelindung, Pengayom, Pelayan Masyarakat — seperti yang Bapak tulis sendiri di setiap doktrin Polri!"
(Red)
Oleh: FC-Goest (Inisiator For-WIN)

















LEAVE A REPLY