
Keterangan Gambar : Buku metodologi penelitian biasanya menemani mahasiswa menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Namun, bagi Prof. Sugiyono, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebagian hasil penjualan buku justru mengalir ke sebuah masjid di kampung halamannya, Banyumas, Jawa Tengah.
Perwirasatu.co.id, 26 Oktober 2026
Buku metodologi penelitian biasanya menemani mahasiswa menyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Namun, bagi Prof. Sugiyono, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebagian hasil penjualan buku justru mengalir ke sebuah masjid di kampung halamannya, Banyumas, Jawa Tengah. Dari halaman buku menuju ruang ibadah, kisah ini menghadirkan pertanyaan penting: bagaimana keberhasilan intelektual dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat?
Sugiyono dikenal melalui buku-buku metodologi penelitian dan statistik yang digunakan mahasiswa lintas disiplin. UNY pada 17 September 2022 mencatat, ia telah menulis 25 buku, dengan 20 di antaranya membahas metodologi penelitian dan statistik. Karya-karyanya memperlihatkan bagaimana pengetahuan akademik dapat menjangkau pembaca di luar ruang kuliah dan menjadi panduan dalam proses penelitian.
Produktivitas tersebut juga mengantarkannya meraih tiga penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Menurut catatan UNY, penghargaan itu mencakup kategori penulis buku metode penelitian terbanyak pada 2018, penulis buku metode penelitian berpredikat best seller terbanyak pada 2019, serta narasumber tunggal webinar dengan peserta terbanyak pada 2020. Prestasi itu menunjukkan jangkauan karyanya, meski kualitas ilmu tetap harus dinilai dari ketepatan, kegunaan, dan tanggung jawab dalam penerapannya.
Kisah Sugiyono memperoleh dimensi sosial ketika sebagian royalti penjualan bukunya digunakan untuk membangun Masjid Prof. Dr. Sugiyono Rusti di Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Banyumas. Dalam wawancara yang diterbitkan detikJateng pada 28 Oktober 2022, ia menjelaskan bahwa rencana pembangunan dimulai pada 2015, sedangkan pekerjaan fisik dimulai pada September 2019. Masjid tersebut diresmikan pada 28 Agustus 2022 oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi saat itu, Abdul Halim Iskandar.
Pembangunan masjid itu bukan proyek kecil. detikJateng pada 29 Oktober 2022 melaporkan biaya yang mencapai sekitar Rp2 miliar berdasarkan keterangan Sekretaris Desa Cindaga, Dwi Prasetyo. Bangunan seluas sekitar 350 meter persegi tersebut berdiri di atas lahan seluas 1.300 meter persegi. Menurut keterangan perangkat desa yang diberitakan media itu, pembangunan tidak meminta sumbangan dari warga. Angka biaya tersebut merupakan informasi pemberitaan, bukan hasil audit keuangan independen.
Di balik bangunan itu terdapat hubungan menarik antara ilmu dan nilai ekonomi. Buku yang ditulis untuk membantu mahasiswa memahami penelitian menghasilkan royalti, lalu sebagian hasilnya dialihkan untuk kepentingan masyarakat. Sugiyono juga menjelaskan kepada detikJateng bahwa honor kegiatan webinar selama pandemi ikut membantu pembiayaan ketika penjualan buku menghadapi ketidakpastian. Dengan demikian, pembangunan masjid tidak hanya bertumpu pada penjualan buku, tetapi juga pada pendapatan kegiatan akademik.
Kisah ini patut diapresiasi, tetapi tidak perlu berhenti pada pujian terhadap kedermawanan seorang profesor. Nilai sebuah karya intelektual tidak hanya ditentukan oleh jumlah buku yang terjual atau penghargaan yang diterima. Dalam dunia akademik, buku metodologi semestinya membantu mahasiswa berpikir kritis, menguji bukti, mengolah data secara jujur, dan menghasilkan penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan. Popularitas buku bukan jaminan otomatis bagi mutu penelitian penggunanya.
Demikian pula, manfaat pembangunan masjid tidak semata-mata terletak pada biaya dan kemegahan bangunan. Keberlanjutan manfaat bergantung pada pengelolaan, pemeliharaan, kegiatan keagamaan, dan keterlibatan masyarakat. Dalam pemberitaan detikJateng pada 29 Oktober 2022, perangkat desa menyebut masjid tersebut telah digunakan warga untuk beribadah. Hal itu memberi gambaran tentang manfaat langsungnya, meski dampak sosial jangka panjang memerlukan pengamatan lebih lanjut.
Kisah Sugiyono akhirnya mengajak kita melihat keberhasilan akademik dari perspektif yang lebih luas. Gelar, publikasi, dan penghargaan merupakan pencapaian penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran kontribusi. Ketika hasil kerja intelektual dapat membantu mahasiswa sekaligus mendukung fasilitas masyarakat, terbuka kemungkinan bahwa ilmu tidak hanya memperkaya pemikiran, tetapi juga memperluas manfaat sosial.
Dari buku menuju masjid, pelajarannya bukan sekadar tentang seorang profesor yang menyumbangkan hasil karyanya. Lebih jauh, kisah ini menunjukkan bahwa pengetahuan dapat menjadi sumber daya untuk kepentingan bersama. Warisan intelektual akan semakin bermakna ketika mendorong orang berpikir lebih baik, bertindak lebih bertanggung jawab, dan menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi kehidupan masyarakat.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY