Home Artikel KETIKA SISA MAKANAN SEKOLAH MENJADI BISNIS

KETIKA SISA MAKANAN SEKOLAH MENJADI BISNIS

13
0
SHARE
KETIKA SISA MAKANAN SEKOLAH MENJADI BISNIS

Keterangan Gambar : Bau nasi basi itu pertama kali tercium sebelum matahari benar benar tinggi. Dari balik pagar bambu, puluhan ayam berdesakan mematuki makanan yang oleh manusia dianggap tak layak lagi disentuh.

Perwirasatu.co.id, 07 September 2026

Bau nasi basi itu pertama kali tercium sebelum matahari benar benar tinggi. Dari balik pagar bambu, puluhan ayam berdesakan mematuki makanan yang oleh manusia dianggap tak layak lagi disentuh. Tak seorang pun di desa tahu siapa yang pertama membawa sisa makanan sekolah ke kandang itu. Yang mereka tahu, setiap pagi, jumlahnya selalu bertambah.

Kandang itu milik Darma, seorang peternak ayam potong yang sudah bertahun tahun hidup dari suara kokok, bau kotoran, dan harga pakan yang tak pernah bersahabat. Sebelum mengenal sisa makanan sekolah, ia sering mengeluh karena biaya pakan bisa menghabiskan sebagian besar hasil penjualan ayam. Sejak beberapa bulan terakhir, keluhannya berubah menjadi senyum karena sesuatu yang dahulu dianggap sampah datang ke kandangnya hampir setiap pagi.

“Kalau semua orang membuang makanan seperti ini, peternak seperti saya bisa kaya,” kata Darma suatu pagi sambil tertawa. Ia menunjuk sebuah bak besar yang penuh nasi, sayuran, potongan lauk, dan kuah yang telah berubah warna. Menurutnya, makanan itu berasal dari beberapa sekolah di sekitar desa, dikumpulkan setelah jam makan selesai, lalu dibawa ke kandang oleh orang yang sudah biasa mengambilnya.

Aku mengira Darma sedang bercanda. Namun ia segera menunjukkan sebuah buku kecil yang disimpannya di dekat gudang pakan. Di dalamnya terdapat tanggal, jumlah wadah yang diterima, serta tanda tangan seseorang pada beberapa halaman terakhir. “Saya tidak tahu siapa yang pertama kali membuat catatan ini,” katanya, “saya cuma diminta membubuhkan tanda tangan kalau barang sudah sampai.”

Aku membuka salah satu halaman dan melihat angka yang berbeda setiap hari. Ada hari ketika hanya beberapa wadah datang, tetapi ada pula hari ketika jumlahnya berlipat ganda. Darma mengatakan semakin banyak makanan yang tersisa, semakin ringan biaya pakan ayamnya. Ia bahkan pernah bergurau bahwa anak sekolah yang tidak menghabiskan makanan secara tidak langsung sedang membantu usaha ternaknya.


Gurauan itu membuatku tidak nyaman.


Aku lalu bertanya mengapa makanan tersebut bisa tersisa sebanyak itu. Darma mengangkat bahu dan mengatakan ia hanya mendengar cerita dari orang lain bahwa sebagian anak tidak menyukai menu tertentu, sebagian membawa pulang makanan, dan sebagian memilih tidak menyentuhnya karena khawatir kualitas makanan kurang baik. Ia sendiri tidak pernah memeriksa makanan itu ketika masih berada di sekolah, sehingga tidak tahu apakah makanan tersebut memang rusak atau sekadar tidak habis.


Di warung dekat kandang, cerita tentang makanan sekolah berkembang menjadi berbagai versi. Ada yang mengatakan makanan pernah berbau, ada yang mengaku melihat lauk berubah warna, sementara yang lain mengatakan persoalannya hanya karena anak anak terlalu memilih makanan. Tidak ada seorang pun yang memiliki penjelasan lengkap. Anehnya, semakin sedikit orang yang mengetahui fakta sebenarnya, semakin banyak pula cerita yang beredar.


Suatu siang aku bertemu seorang ibu bernama Sari yang anaknya bersekolah tidak jauh dari kandang Darma. Ia tidak mengatakan anaknya pernah keracunan, tetapi ia mengaku beberapa kali menerima cerita bahwa anaknya tidak menghabiskan makanan yang diberikan. Menurut Sari, yang paling membuat orang tua gelisah bukan sekadar soal rasa makanan, melainkan ketidakjelasan mengenai bagaimana makanan itu disimpan dan apa yang dilakukan terhadap makanan setelah tidak dimakan.


“Kami tidak menolak makanan untuk anak,” katanya. “Kami cuma ingin tahu apakah yang masuk ke perut mereka benar benar aman.”


Kalimat itu sederhana, tetapi terus mengikutiku sepanjang perjalanan pulang.


Aku mulai memperhatikan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan. Orang selalu menghitung berapa banyak makanan yang berhasil dibagikan kepada anak, tetapi hampir tidak pernah membicarakan berapa banyak yang benar benar dimakan. Padahal sebuah kotak makanan yang dibagikan belum tentu sama dengan satu porsi gizi yang diterima seorang anak. Di antara dua angka itu terdapat ruang yang penuh pertanyaan.


Beberapa hari kemudian aku melihat sesuatu yang membuatku semakin penasaran. Sebuah kendaraan kecil datang ke kandang Darma menjelang sore, ketika ayam ayam mulai tenang. Seorang lelaki turun membawa beberapa lembar kertas, berbicara sebentar dengan Darma, kemudian meletakkan dokumen tersebut di atas meja kayu. Setelah kendaraan pergi, Darma buru buru memasukkan kertas itu ke dalam tas.


“Daftar biasa,” katanya ketika kutanya.


Aku tidak mendesaknya.


Namun sejak hari itu, aku mulai memperhatikan bahwa pengambilan sisa makanan ternyata berlangsung teratur. Ada jadwal tertentu, ada wadah yang digunakan berulang kali, dan ada orang yang tampaknya sudah mengetahui berapa banyak makanan yang tersedia pada hari tertentu. Ini bukan lagi seperti peternak yang kebetulan menemukan limbah makanan lalu membawanya pulang. Ada pola yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.


Darma sendiri tampak tidak terlalu peduli. Baginya, selama ayam kenyang dan biaya pakan berkurang, ia tidak ingin terlalu banyak bertanya. Ia bukan orang kaya dan tidak pernah membayangkan bahwa makanan yang dibuang orang lain suatu hari bisa membantu membayar sekolah anaknya. Baginya, memanfaatkan sesuatu yang akan menjadi sampah bukan kejahatan.


“Kalau saya tidak ambil, juga dibuang,” katanya.


Aku tidak punya jawaban untuk kalimat itu.


Di desa sebelah, aku mendengar cerita lain. Seorang peternak bebek bernama Jono juga menerima sisa makanan dari sekolah. Ia bahkan mengatakan bebek lebih mudah diberi makan daripada ayam karena tidak terlalu memilih. Menurutnya, selama makanan tidak bercampur benda berbahaya, sisa nasi dan sayuran masih bisa dimanfaatkan.


“Bebek itu tidak banyak bertanya,” katanya sambil tertawa. “Kalau ada makanan, dimakan.”


Aku memperhatikan bebek bebek itu bergerak di sekitar kolam. Mereka menyelam, muncul lagi, lalu berebut makanan yang dilemparkan ke air. Pemandangan itu terlihat lucu, tetapi tiba tiba terasa menyedihkan. Di tempat lain, anak anak sedang diberi makanan dengan harapan tumbuh sehat, sementara makanan yang tidak mereka makan justru menjadi sumber penghidupan bagi hewan.


Aku tidak tahu siapa yang salah.


Darma tidak mencuri makanan. Jono juga tidak. Para pekerja yang membawa sisa makanan mungkin hanya menjalankan pekerjaan mereka. Sekolah mungkin hanya ingin halaman tetap bersih. Dapur mungkin hanya ingin mengurangi limbah. Bahkan anak anak yang tidak menghabiskan makanan mungkin mempunyai alasan sendiri.


Tidak ada satu orang pun yang tampak seperti penjahat.


Justru itulah yang membuat persoalan tersebut terasa lebih rumit.


Aku kembali menemui Darma pada suatu pagi. Kali ini aku bertanya tentang buku catatan yang pernah diperlihatkannya. Ia sempat diam, lalu mengambilnya dari bawah tumpukan karung pakan. Beberapa halaman telah ditambahkan sejak pertemuan kami sebelumnya. Di samping jumlah wadah, kini terdapat angka lain yang belum pernah kulihat.


“Apa ini?” tanyaku.


Darma mengusap kertas itu dengan ibu jarinya.


“Saya juga tidak terlalu paham.”


Aku membaca kolom tersebut dengan teliti. Ternyata selain jumlah makanan yang diterima, ada angka yang menunjukkan nilai setiap pengambilan. Jumlahnya tidak besar, tetapi jika dikalikan dengan frekuensi dan jumlah wadah, nilainya menjadi cukup berarti. Aku bertanya kepada Darma apakah ia membayar makanan tersebut.


“Kadang iya, kadang tidak,” jawabnya.


Jawaban itu membuatku semakin bingung.


Jika makanan itu memang sampah, mengapa ada nilainya?


Jika makanan itu masih mempunyai nilai, mengapa disebut sampah?


Darma hanya tertawa kecil. “Saya juga tidak tahu. Saya cuma peternak.”


Untuk pertama kalinya aku melihat bahwa Darma mungkin bukan orang yang paling diuntungkan dalam cerita ini. Ia hanya berada di ujung rantai yang panjang, menerima sesuatu yang tidak lagi diinginkan oleh orang lain. Ia memperoleh pakan murah, tetapi tidak tahu dari mana sistem itu berasal dan siapa yang menentukan harga.


Aku meminta izin melihat halaman paling belakang buku tersebut. Darma ragu, tetapi akhirnya menyerahkannya.


Di halaman terakhir terdapat satu kalimat yang ditulis dengan huruf kapital.


SISA MAKANAN UNTUK PEMANFAATAN LANJUTAN.


Tidak ada nama perusahaan. Tidak ada tanda tangan pejabat. Tidak ada keterangan bahwa makanan itu sengaja disisakan. Hanya kalimat tersebut dan sederet angka.


Aku merasa kecewa sekaligus lega.


Ternyata tidak ada bukti mengenai konspirasi besar seperti yang dibayangkan orang orang di warung. Tidak ada catatan yang menyebut makanan sengaja dibuat berlebih. Tidak ada pula bukti bahwa anak anak sengaja dibiarkan tidak makan agar peternak memperoleh pakan murah.


Yang ada hanyalah sebuah mekanisme yang berjalan dari hari ke hari.


Makanan dibuat.


Makanan dibagikan.


Sebagian dimakan.


Sebagian tidak.


Sisa dikumpulkan.


Sisa diberi nilai.


Nilai itu berpindah tangan.


Dan pada akhirnya, makanan yang semula dimaksudkan untuk anak sekolah berubah menjadi barang yang dapat menghidupi usaha lain.


Aku mulai memahami sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada cerita tentang makanan basi.


Sebuah sistem tidak selalu membutuhkan orang jahat untuk menghasilkan keadaan yang buruk.


Kadang sistem hanya membutuhkan banyak orang baik yang menjalankan tugas masing masing tanpa pernah melihat keseluruhan gambar.


Guru hanya membagikan makanan.


Petugas hanya mengangkut sisa.


Peternak hanya memberi makan ayam.


Orang tua hanya meminta makanan yang aman.


Anak anak hanya memilih makanan yang mereka sukai.


Sementara uang terus bergerak dari satu tangan ke tangan lainnya.


Aku kembali ke sekolah beberapa hari kemudian. Di halaman, anak anak sedang antre menerima makanan. Seorang anak laki laki bernama Raka berdiri paling belakang sambil memegang kotaknya dengan kedua tangan. Ia membuka tutupnya, mencium makanan itu, lalu melihat temannya.


“Kamu makan?” tanyanya.


Temannya mengangguk.


Raka akhirnya ikut makan.


Aku memperhatikannya dari kejauhan. Tidak ada drama. Tidak ada anak yang jatuh sakit. Tidak ada guru yang panik. Tidak ada adegan yang pantas menjadi berita besar. Semuanya berlangsung seperti hari hari biasa.


Namun justru dalam keadaan biasa itulah pertanyaan terbesar muncul.


Berapa banyak makanan yang benar benar dimakan hari ini?


Aku melihat beberapa anak meninggalkan nasi. Ada yang menyisakan sayur, ada yang tidak menyentuh lauk tertentu, dan ada pula yang menghabiskan seluruh isi kotak. Seorang petugas kemudian mulai mengumpulkan wadah kosong dan sisa makanan ke dalam kantong besar.


Aku mengikuti kendaraan pengangkut itu dari kejauhan.


Kendaraan tersebut tidak menuju tempat pembuangan sampah.


Kendaraan itu menuju gudang.


Di gudang itulah aku melihat beberapa peternak menunggu.


Darma ada di sana.


Jono juga.


Mereka mengambil bagian masing masing, mencatat jumlahnya, kemudian membawanya pergi.


Tidak ada yang berteriak.


Tidak ada yang bersembunyi.


Semuanya berlangsung terang terangan.


Saat itu aku menyadari bahwa persoalannya bukan makanan yang berubah menjadi sampah.


Persoalannya adalah makanan yang berubah menjadi nilai ekonomi sebelum tujuan sosialnya benar benar selesai.


Malam harinya aku kembali ke warung kopi. Darma duduk sendirian dan memandang jalan yang gelap. Aku bertanya apakah ia masih merasa beruntung mendapatkan sisa makanan sekolah.


Ia tersenyum tipis.


“Dulu saya pikir iya.”


“Sekarang?”


Darma tidak segera menjawab.


Ia mengambil buku catatannya, membuka halaman paling belakang, lalu menunjuk angka yang tertera di sana.


“Saya baru tahu,” katanya pelan, “ternyata saya juga membeli makanan itu.”


Aku terkejut.


“Bukankah tadi kamu bilang sisa itu diberikan?”


Darma menggeleng.


“Yang diberikan cuma sebagian.”


Ia lalu menjelaskan bahwa selama ini ia mengira uang yang sesekali dimintakan kepadanya adalah biaya pengangkutan. Ternyata angka itu merupakan harga pemanfaatan sisa makanan. Peternak membayar sedikit untuk mengambilnya, kemudian makanan tersebut digunakan sebagai pakan ternak.


Aku menatap halaman itu lama.


Tiba tiba semua potongan cerita terasa menyatu.


Sekolah ingin mengurangi limbah.


Pengelola ingin memastikan sisa makanan tidak menumpuk.


Peternak membutuhkan pakan murah.


Pengangkut memperoleh biaya.


Semua orang memperoleh sesuatu.


Tetapi ada satu hal yang tidak pernah tercatat dalam buku Darma.


Tidak ada kolom untuk menghitung berapa banyak anak yang tidak mendapatkan manfaat penuh dari makanan tersebut.


Tidak ada kolom yang mencatat berapa banyak makanan yang tidak dimakan.


Tidak ada kolom yang bertanya mengapa makanan itu tersisa.


Tidak ada kolom yang menghitung nilai gizi yang hilang.


Aku menutup buku itu.


Di luar warung, suara ayam dari kandang terdengar samar. Dari arah desa sebelah, bebek bebek mulai ribut di dekat kolam. Sementara di sekolah, kotak makanan untuk esok pagi mungkin sedang disiapkan.

Aku teringat kalimat Darma beberapa minggu sebelumnya.

Kalau saya tidak ambil, juga dibuang.

Benar.

Tetapi untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa kalimat itu bukan jawaban.

Itu justru pertanyaan.

Mengapa makanan yang dibuat untuk anak anak bisa begitu mudah berubah menjadi pakan ternak?

Mengapa sisa makanan memiliki harga, tetapi makanan yang tidak berhasil dimakan tidak pernah dihitung sebagai kerugian gizi?

Dan mengapa semua orang sibuk memastikan makanan tidak menjadi sampah, tetapi hampir tidak ada yang bertanya mengapa makanan itu menjadi sisa?

Darma memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

“Besok datang lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk.

Namun malam itu aku tidak kembali ke kandang.

Aku justru kembali ke sekolah.

Dari kejauhan, kulihat sebuah ruangan kecil dengan lampu masih menyala. Seorang pekerja duduk sendirian di depan meja, memeriksa lembar laporan harian. Aku tidak dapat membaca seluruh isinya dari balik jendela.

Tetapi satu kalimat terlihat jelas di bagian bawah formulir.

Jumlah makanan tersalurkan.

Aku menatap kalimat itu cukup lama.

Kemudian aku sadar, tidak ada kalimat yang berbunyi:

Jumlah makanan dimakan anak.

Di situlah aku akhirnya memahami twist yang sebenarnya.

Selama ini kami mengira masalahnya adalah makanan yang menjadi sisa.

Ternyata masalah yang lebih besar adalah cara sebuah keberhasilan dihitung.

Makanan yang dibagikan dianggap berhasil.

Makanan yang dimakan tidak dicatat dengan sungguh sungguh.

Makanan yang tersisa menjadi urusan berikutnya.

Dan ketika sisa itu memiliki harga, kegagalan pun dapat terlihat seperti keberhasilan ekonomi.

Pagi berikutnya, ayam ayam kembali berebut makanan di dalam kandang Darma.

Bebek bebek kembali menyelam di kolam Jono.

Anak anak kembali berbaris di sekolah.

Sementara sebuah sistem kembali bekerja seperti biasa.

Tidak ada penjahat yang datang.

Tidak ada pencuri yang tertangkap.

Tidak ada satu orang pun yang dapat ditunjuk sebagai penyebab semuanya.

Hanya ada makanan, uang, kebiasaan, dan angka angka yang berpindah dari satu tangan ke tangan lain.

Aku berdiri di antara sekolah dan kandang, lalu melihat dua pemandangan yang jaraknya tidak lebih dari beberapa ratus meter.

Di satu tempat, makanan diberikan agar anak anak tumbuh sehat.

Di tempat lain, sisa makanan itu menghidupi ayam dan bebek.

Dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa yang paling mengkhawatirkan bukanlah ayam yang memakan sisa makanan anak sekolah.

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika sebuah sistem mampu mengubah makanan yang gagal mencapai tujuan menjadi sesuatu yang tetap terlihat menguntungkan.

Sebab pada saat itu, yang dimakan bukan lagi sekadar sisa makanan.

Yang perlahan dimakan adalah makna dari sebuah tujuan.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home