Home Artikel Lampu Pesta Itu Memanggil Maut

Lampu Pesta Itu Memanggil Maut

Cerpen

102
0
SHARE
Lampu Pesta Itu Memanggil Maut

Perwirasatu.co.id, Minggu 31 Mei 2026.

Aku menuliskan ini bukan sebagai kisah orang lain, melainkan sebagai pengakuan yang sudah lama menyesakkan dadaku. Sejak malam itu, suara hujan dan denting musik pesta selalu kembali menghantam ingatan seperti palu. Semua orang mengira aku hanya saksi yang kebetulan lewat. Padahal aku tahu, ada bagian kecil dari diriku yang ikut membuka pintu bagi tragedi itu. Dan aku tidak bisa lari dari kenyataan itu selamanya.

Di ruang pemeriksaan kantor polisi, kipas angin tua berputar lambat sambil mengeluarkan bunyi berdecit. Seorang penyidik duduk di depanku, menatap tanpa banyak ekspresi, sementara rekaman suara diputar dari ponsel yang mereka pegang. Di luar jendela, matahari bersinar terang, tapi di dalam ruangan itu udara terasa dingin dan menusuk. Aku menggenggam jemariku sendiri, menahan gemetar yang tak bisa kusembunyikan.

Penyidik itu bertanya dengan nada datar, kapan terakhir kali aku bertemu Ramon. Pertanyaan sederhana itu justru terasa seperti tali yang melilit leher, karena jawabannya membawaku kembali pada dua minggu paling gaduh dalam hidupnya. Aku mengenal Ramon bukan sebagai orang kaya, melainkan sebagai supir taksi yang selalu tersenyum meski wajahnya kusam oleh panas jalanan. Ia sering mengantarku pulang dari kantor, dan selama perjalanan ia bercerita tentang mimpi kecil yang selalu ia simpan rapat rapat.

Ramon bukan orang yang suka mengeluh, tapi aku tahu hidupnya keras seperti aspal yang ia injak setiap hari. Ia punya istri yang sabar, anak yang ingin kuliah, dan rumah kecil yang atapnya sering bocor kalau hujan turun. Setiap kali mengelap keringat, ia selalu berkata bahwa rezeki itu seperti penumpang, kadang datang kadang pergi, tapi supir harus tetap jalan. Kalimat itu dulu terdengar seperti candaan, sampai suatu sore ia menemukan rezeki yang terlalu besar untuk dipahami.

Hari itu aku sedang membeli kopi sachet di warung dekat rumahnya ketika teriakan pecah dari dalam rumah Ramon. Istrinya berlari keluar, wajahnya pucat, lalu menutup mulutnya sendiri seperti menahan tangis yang meledak. Ramon menyusul, membawa selembar tiket lotere yang sudah lecek, dan kedua tangannya bergetar seperti baru keluar dari air dingin. Ia tertawa keras, lalu menangis, lalu tertawa lagi, dan orang orang yang melihatnya ikut bersorak seperti menyambut kemenangan kampung.

Nomor itu diumumkan di televisi, dan Ramon menang 19 juta pesos. Uang yang selama ini hanya bisa ia bayangkan lewat mimpi, tiba tiba masuk ke dalam hidupnya tanpa mengetuk pintu. Malam itu tetangga berdatangan, membawa nasi, membawa lauk, membawa ucapan selamat, dan membawa rasa ingin tahu yang belum pernah mereka sembunyikan. Aku ikut berdiri di antara kerumunan, melihat Ramon dipeluk banyak orang, dan di matanya aku melihat campuran bahagia dan takut.

Pesta pertama masih sederhana, hanya beberapa meja plastik, mi instan, dan ayam goreng yang dibagi rata. Ramon tampak kikuk menerima perhatian, seolah ia tidak pantas diperlakukan seperti tokoh penting. Namun hari demi hari, pesta itu berubah bentuk seperti api kecil yang terus diberi bensin. Musik keras mulai memenuhi jalan, tenda dipasang menutup separuh gang, dan lampu warna warni menggantung di depan rumah seperti tanda bahwa sebuah dunia baru telah dimulai.

Dalam waktu singkat, renovasi rumah dimulai tanpa banyak perhitungan. Dinding lama dibongkar, keramik baru dipasang, pintu besi besar berdiri seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa saja. Mobil baru warna hitam mengilap diparkir tepat di depan rumah, membuat anak anak kecil berhenti bermain dan menatapnya seperti melihat hewan langka. Istrinya mulai memakai gelang emas yang berkilau, dan anaknya memamerkan ponsel mahal sambil tertawa bangga.

Yang paling mengganggu bagiku bukan rumahnya yang berubah, melainkan cara Ramon mulai membuka pintu terlalu lebar untuk semua orang. Setiap malam selalu ada tamu baru yang datang, ada yang mengaku saudara jauh, ada yang datang dari kota, ada yang membawa teman yang bahkan tidak mengenal nama Ramon sebelumnya. Mereka makan, tertawa, memotret, lalu pulang sambil membawa cerita tentang keberuntungan yang seakan tidak ada habisnya. Ramon menyambut semuanya dengan tangan terbuka, seolah takut jika ia menutup pintu maka rezeki itu akan berubah menjadi kutukan.

Aku datang pada pesta malam ketujuh karena Ramon mengundangku dengan sungguh sungguh. Ia menarik lenganku, menepuk bahuku, lalu berkata bahwa aku adalah orang baik yang pernah ia temui di jalanan. Di atas meja, daging panggang mengepul, minuman bersoda mengalir tanpa henti, dan tawa meledak dari segala arah. Namun di balik keramaian itu, aku melihat mata mata yang tidak ikut tertawa, mata yang memandang rumah itu seperti menghitung harga setiap barang.

Di pojok halaman, ada seorang pria yang mengenakan topi dan jaket gelap. Ia tidak banyak bicara, hanya berdiri sambil menatap mobil baru dan pintu besi dengan tatapan tajam yang tidak nyaman. Ramon memperkenalkannya sebagai sepupu dari pihak ibu yang baru datang setelah mendengar kabar kemenangan. Pria itu menyalamiku dengan genggaman kuat, tersenyum ramah, tetapi sorot matanya seperti orang yang sedang menilai sesuatu yang ingin ia ambil.

Malam itu aku pulang lebih cepat, bukan karena bosan, melainkan karena hatiku tidak tenang. Aku berjalan menembus gang sambil mendengar musik masih berdentum dari belakang, dan aku merasa suara itu terlalu keras untuk sebuah kampung kecil. Aku membayangkan orang orang asing yang pulang membawa cerita tentang rumah Ramon, membayangkan mereka bercerita di tempat gelap, di warung murahan, atau di sudut jalan. Di kepalaku muncul pikiran bahwa lampu pesta itu seperti mercusuar yang memanggil kapal kapal perompak.

Hari hari berikutnya membuktikan bahwa keramaian itu tidak membawa ketenangan. Ramon mulai terlihat lelah, tapi ia tetap memaksa tersenyum, tetap memaksa tertawa, tetap memaksa menyediakan makanan seolah pesta adalah kewajiban. Tetangga yang dulu datang untuk memberi selamat mulai datang untuk menuntut traktiran. Ada yang meminta bantuan uang, ada yang meminta pinjaman, ada yang sekadar ingin makan gratis sambil memandangi barang baru.

Suatu sore aku bertemu Ramon saat ia sedang duduk di teras, menatap mobilnya sendiri seperti menatap sesuatu yang asing. Ia menyapaku pelan, lalu berkata bahwa ia tidak menyangka uang bisa membuat orang begitu cepat berubah. Aku melihat matanya berkabut, seolah ia mulai menyesali sesuatu tetapi tidak tahu cara mundur. Ia tertawa kecil dan berkata bahwa mungkin ia terlalu banyak bicara, lalu ia meminta agar aku datang lagi malam nanti karena ada pesta kecil untuk saudara saudara.

Malam itu hujan turun deras sejak magrib. Pesta tetap berlangsung, meski sebagian orang memilih berteduh di dalam rumah sambil terus tertawa. Aku datang sebentar, memberi salam, lalu membantu memindahkan beberapa kursi agar tidak basah. Sepupu Ramon ada di sana, terlihat sangat ramah, bahkan membantu membagikan makanan kepada anak anak kecil, membuat semua orang memujinya sebagai keluarga yang baik.

Saat aku hendak pulang, ponselku jatuh ke tanah karena tanganku licin oleh air hujan. Aku mencari cari dengan panik, sampai sepupu Ramon memungutnya dan menyerahkannya kepadaku sambil tertawa. Ia berkata aku harus hati hati, lalu menepuk bahuku seolah kami sudah lama akrab. Aku tersenyum canggung, mengucapkan terima kasih, dan tidak menyadari bahwa pada saat itu ia mungkin telah membuka sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh.

Aku pulang, menutup pintu rumah, dan mencoba tidur. Namun suara musik dari rumah Ramon masih terdengar seperti gema yang tidak mau mati. Tengah malam, hujan semakin deras, lalu tiba tiba terdengar suara keras seperti pintu dibanting jauh di ujung gang. Aku sempat mengira itu hanya suara angin, sampai beberapa menit kemudian terdengar teriakan perempuan yang membuat bulu kudukku berdiri.

Aku berlari keluar tanpa sempat memakai jaket. Gang dipenuhi air, dan orang orang berlarian seperti kehilangan arah. Di ujung jalan, lampu polisi berputar, memantulkan warna merah biru di dinding rumah rumah yang basah. Aku melihat rumah Ramon sudah dipenuhi orang, dan pintu besi yang baru dipasang terbuka lebar seperti mulut yang dipaksa menganga.

Di halaman, kursi kursi pesta berantakan, sebagian patah, sebagian terbalik, dan tenda robek oleh angin. Di dalam rumah, suara tangis istrinya pecah seperti kaca dilempar ke lantai. Seorang polisi menahan kerumunan, tetapi aku masih bisa melihat jejak lumpur dan bekas sepatu di lantai ruang tamu. Ada darah di dekat sofa baru, merahnya mencolok seperti noda yang tak mungkin hilang.

Ramon terbaring di lantai, tubuhnya diam, wajahnya pucat, dan matanya setengah terbuka seolah masih ingin bertanya kenapa. Istrinya memeluk tubuh itu sambil mengguncang guncang bahunya, memanggil namanya berkali kali, berharap kematian bisa mundur jika dipaksa. Anak Ramon menangis di sudut ruangan, mulutnya terbuka tetapi suaranya tidak keluar, seperti suaranya ikut mati bersama ayahnya. Di kepalaku, dunia mendadak kosong, dan musik pesta yang tadi malam terdengar meriah kini terasa seperti ejekan.

Polisi berkata ada tujuh perampok bertopeng masuk membawa senjata tajam. Mereka memaksa keluarga itu menyerahkan uang, memaksa mereka membuka lemari, dan memaksa mereka menunjukkan tempat penyimpanan barang berharga. Ramon melawan, mungkin karena ia merasa rumah itu adalah satu satunya hal yang akhirnya bisa ia banggakan. Tetapi perlawanan itu dibayar mahal, dan malam itu berakhir bukan dengan tawa, melainkan dengan jenazah.

Keesokan harinya kampung itu seperti bangun dari mimpi buruk. Orang orang yang dulu datang tertawa kini berdiri dengan wajah muram, membawa doa yang terlambat. Media lokal datang memotret rumah itu, membuat kisah Ramon semakin terkenal, tetapi bukan sebagai pemenang lotere, melainkan sebagai korban dari keberuntungan. Aku berdiri jauh di belakang, merasa ada sesuatu yang mengganjal di dada, seperti aku ikut bersalah meski tidak tahu alasannya.

Beberapa hari setelah pemakaman, polisi memanggilku untuk diperiksa. Mereka menanyakan siapa saja yang hadir di pesta, siapa yang sering datang, siapa yang terlihat banyak bertanya soal uang. Aku menyebut beberapa nama, termasuk sepupu Ramon, dan penyidik itu mencatatnya tanpa komentar. Saat itu aku masih berpikir semuanya akan selesai, bahwa pelaku akan tertangkap, lalu hidup kembali normal.

Namun kehidupan tidak pernah kembali normal setelah seseorang mati dengan cara seperti itu. Polisi menemukan bahwa pelaku bukan orang asing yang kebetulan lewat, melainkan orang yang berkali kali masuk ke rumah Ramon sambil tertawa. Mereka tahu letak kamar, tahu letak lemari, bahkan tahu kapan Ramon biasanya tidur. Kejahatan itu terasa terlalu rapi untuk dilakukan oleh orang yang tidak pernah menjadi bagian dari pesta.

Seminggu kemudian polisi menangkap beberapa orang. Berita penangkapan itu membuat kampung gempar, karena salah satu pelaku adalah sepupu Ramon sendiri. Orang orang yang dulu memuji keramahannya kini memaki maki namanya dengan penuh amarah. Aku menatap televisi dengan perasaan aneh, karena wajah itu tidak terlihat seperti penjahat, ia terlihat seperti orang biasa yang mungkin pernah tertawa bersama kita di meja makan.

Aku mengira kisah itu berhenti di sana, sampai polisi memanggilku lagi ke kantor mereka. Penyidik memutar sebuah rekaman suara yang berhasil mereka pulihkan dari ponselku. Suara Ramon terdengar pelan, seperti berbisik, mengatakan bahwa ia mulai takut karena beberapa tamu menanyakan di mana ia menyimpan uang. Ramon terdengar seperti orang yang menyesal, seperti orang yang ingin mundur dari panggung tetapi lampu sudah terlanjur menyala.

Aku menatap penyidik itu dengan bingung, karena aku tidak ingat pernah menyimpan pesan seperti itu. Aku yakin Ramon hanya pernah mengirim pesan undangan makan malam, tidak lebih dari itu. Penyidik bertanya siapa yang pernah memegang ponselku pada malam pesta hujan itu. Dadaku langsung terasa sesak, karena ingatanku melompat pada satu momen kecil yang selama ini kuanggap tidak berarti.

Aku teringat ponselku yang jatuh, teringat sepupu Ramon memungutnya, lalu mengembalikannya dengan senyum ramah. Saat itu aku bahkan sempat tertawa, menganggapnya sebagai tindakan sopan seorang saudara. Kini, ingatan itu berubah menjadi pisau yang perlahan menusuk. Aku sadar, mungkin pada saat itulah pesan Ramon dihapus, mungkin pada saat itu pula seseorang memastikan tidak ada peringatan yang bisa menyelamatkan Ramon.

Penyidik lalu mengeluarkan sebuah barang bukti dari dalam map cokelat. Itu sebuah payung hitam, gagangnya sedikit retak, dan kainnya masih menyisakan bekas lumpur kering. Ia bertanya apakah aku mengenal payung itu, dan aku langsung tahu jawabannya sebelum bibirku bergerak. Itu payung milikku, payung yang selalu kubawa saat musim hujan datang.

Kepalaku berdengung, dan ruangan terasa menyempit seperti kotak. Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali payung itu ada di tanganku, dan ingatanku kembali pada malam hujan saat pesta masih berlangsung. Sepupu Ramon sempat berkata bahwa ia ingin pulang lebih cepat, lalu meminta meminjam payung karena ia lupa membawa. Aku meminjamkannya tanpa curiga, karena aku pikir itu hal kecil yang tidak akan berarti apa apa.

Penyidik membuka sebuah foto hasil tangkapan kamera tetangga yang mengarah ke gang. Foto itu buram, tetapi cukup jelas menunjukkan tujuh orang berjalan cepat menuju rumah Ramon, tubuh mereka tertutup jaket dan kepala mereka tertutup kain. Di belakang mereka, ada seseorang berdiri di dekat pagar, memegang payung hitam yang sama seperti payungku. Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi posturnya persis sepupu Ramon.

Aku menelan ludah, dan air mata panas tiba tiba memenuhi mataku. Aku bukan perampok, aku tidak pernah mengangkat senjata, aku tidak pernah ingin Ramon mati. Namun aku menyadari bahwa aku telah memberi alat kecil yang membuat seseorang bisa bergerak tanpa dikenali dalam hujan. Aku telah menjadi bagian dari malam itu, bukan dengan niat jahat, tetapi dengan kelengahan yang bodoh.

Penyidik berkata dengan tenang bahwa mereka tidak menuduhku terlibat, tetapi mereka ingin aku mengerti bagaimana kejahatan sering dibangun dari hal hal kecil. Aku hanya duduk diam, karena kata kata itu menghantam lebih keras daripada tuduhan. Dalam benakku, wajah Ramon muncul, senyumnya yang dulu hangat, suaranya yang sering bercanda tentang rezeki, dan matanya yang sempat berkabut saat ia berkata ia mulai takut.

Saat aku keluar dari kantor polisi, matahari menyilaukan, tetapi rasanya seperti aku berjalan dalam bayangan. Orang orang di jalan masih tertawa, kendaraan masih berlalu lalang, dan dunia terlihat normal seperti biasa. Namun bagiku, dunia sudah berubah sejak lampu pesta Ramon pertama kali dinyalakan. Aku menyadari bahwa tragedi tidak selalu datang dari kebencian, kadang ia datang dari kegembiraan yang terlalu keras diumumkan.

Kini, setiap kali aku mendengar musik pesta dari jauh, dadaku selalu mengencang. Aku selalu teringat bahwa Ramon bukan hanya dibunuh oleh tujuh orang bertopeng, tetapi juga oleh mulut mulut yang terlalu ramai, oleh mata mata yang terlalu lapar, dan oleh tepuk tangan yang ternyata menyimpan niat busuk. Sejak hari itu aku belajar bahwa rezeki tidak selalu butuh perayaan, karena semakin terang lampu dinyalakan, semakin mudah maut menemukan jalan pulang.

Sumber Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home