
Keterangan Gambar : Rencana dakwaan baru terhadap Nicolás Maduro dan Cilia Flores membuka babak berbeda dalam perkara Venezuela.
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Rencana dakwaan baru terhadap Nicolás Maduro dan Cilia Flores membuka babak berbeda dalam perkara Venezuela. Persoalannya bukan lagi semata narkotika, melainkan dugaan penyiksaan terhadap warga Amerika yang ditahan di Venezuela. Jika diajukan, kasus ini menguji pertanggungjawaban dua mantan penguasa atas tindakan aparat negara.
Jaksa federal AS diperkirakan mengajukan dakwaan baru terhadap Maduro dan Flores terkait dugaan penyiksaan warga Amerika. Reuters, 7 Oktober 2026, melaporkan pengumuman dapat dilakukan paling cepat Kamis. CNN, 7 Oktober 2026, menyebut penyelidikan menyangkut lebih dari selusin warga Amerika yang oleh Washington dikategorikan sebagai ditahan secara tidak semestinya.
Sampai dakwaan resmi diajukan, semuanya tetap dugaan. CBS News, 7 Oktober 2026, melaporkan pengacara Maduro, Barry Pollack, mengatakan belum menerima pemberitahuan mengenai dakwaan tambahan. Maduro dan Flores juga menyatakan tidak bersalah atas perkara narkotika yang sudah menjerat mereka. Pemberitaan tidak boleh mengubah penyelidikan menjadi vonis.
Kesaksian mantan tahanan membuat perkara ini serius. CNN, 7 Oktober 2026, melaporkan Matthew Heath dan Osman Khan menuduh mereka mengalami waterboarding, sengatan listrik, ancaman kekerasan seksual, penggunaan obat yang memengaruhi kondisi mental dan isolasi. Itu merupakan klaim dalam kesaksian dan gugatan, bukan fakta pidana yang telah diputus.
Konteksnya lebih luas. Laporan Departemen Luar Negeri AS mengenai hak asasi manusia Venezuela mencatat tuduhan kredibel tentang penyiksaan dan perlakuan buruk oleh aparat keamanan, termasuk DGCIM dan SEBIN. CNN, 7 Oktober 2026, mengutip laporan PBB yang menyatakan DGCIM melakukan berbagai praktik penyiksaan, termasuk sengatan listrik, sesak napas, pemukulan dan kekerasan seksual.
Di sinilah persoalan hukum menjadi rumit. Jabatan Maduro tidak otomatis membuktikan tanggung jawabnya atas setiap tindakan aparat. Jaksa harus menunjukkan hubungan hukum antara terdakwa dan dugaan penyiksaan: apakah kekerasan diperintahkan, diketahui, difasilitasi atau dibiarkan dari puncak kekuasaan. Peran Flores juga harus dibuktikan secara tersendiri.
The Washington Post, 14 Juli 2026, melaporkan hakim federal Miami memberikan US$314 juta kepada tiga warga Amerika yang mengaku ditahan dan disiksa di Venezuela. Putusan itu merupakan default judgment karena para tergugat tidak merespons gugatan. Kasus perdata tersebut karena itu tidak boleh diperlakukan sebagai putusan pidana atas dakwaan baru.
Kasus para tahanan juga menunjukkan bagaimana manusia dapat menjadi alat tawar geopolitik. Reuters, 7 Oktober 2026, mencatat sejumlah warga Amerika yang dinilai ditahan secara tidak semestinya dibebaskan melalui pertukaran tahanan. Istilah “sandera” juga sebaiknya dihindari tanpa dasar sumber yang jelas.
Perkara ini menguji apakah hukum mampu menelusuri tanggung jawab individu tanpa mengubah pengadilan menjadi panggung pembalasan politik. Jika dakwaan diajukan, ukurannya harus bukti, kesaksian korban, hubungan komando dan kemampuan jaksa membuktikan tanggung jawab secara adil. Kekuasaan tidak boleh menjadi perisai hukum, tetapi hukum juga tidak boleh menjadi senjata kekuasaan.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY