Home Politik Obama-El-Sayed: Rekonsiliasi Politik Jelang Pemilu Senat

Obama-El-Sayed: Rekonsiliasi Politik Jelang Pemilu Senat

19
0
SHARE
Obama-El-Sayed: Rekonsiliasi Politik Jelang Pemilu Senat

Keterangan Gambar : Barack Obama akan kembali ke Michigan, kali ini untuk berkampanye bagi Abdul El-Sayed, kandidat Demokrat yang pernah menilai warisan kepresidenannya tidak cukup mengubah Amerika

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Barack Obama akan kembali ke Michigan, kali ini untuk berkampanye bagi Abdul El-Sayed, kandidat Demokrat yang pernah menilai warisan kepresidenannya tidak cukup mengubah Amerika. Pertemuan itu bukan sekadar panggung kampanye. Ia mempertemukan dua generasi Demokrat yang pernah berbeda dalam melihat perubahan, tetapi kini menemukan alasan politik yang sama: memenangkan kursi Senat Michigan.

Obama dijadwalkan tampil bersama El-Sayed di Detroit pada 24 Oktober, hanya sepuluh hari sebelum pemilu sela Amerika. Kehadirannya datang setelah primary Demokrat yang sangat ketat, ketika El-Sayed mengalahkan Haley Stevens dengan selisih kurang dari satu persen. Kemenangan itu mengantarkan figur progresif ke pertarungan melawan Republikan Mike Rogers, tetapi sekaligus meninggalkan pekerjaan rumah: menyatukan kembali partai yang terbelah.

Ironinya terletak pada sejarah hubungan politik keduanya. El-Sayed bukan pengagum Obama tanpa kritik. Dalam berbagai pernyataan sejak 2012 hingga kampanye presiden 2020, ia menilai pemerintahan Obama terlalu kompromistis, tidak cukup mengubah struktur ekonomi dan kesehatan, serta meninggalkan sejumlah persoalan yang kemudian ikut membuka jalan bagi kebangkitan Donald Trump.

Pada 2017, ketika mencalonkan diri sebagai gubernur Michigan, El-Sayed bahkan mengatakan Amerika tidak lebih baik setelah delapan tahun Obama dibanding ketika Obama terpilih pada 2008. Kritiknya menyentuh perang, penggunaan drone, deportasi, ketimpangan, kebebasan sipil dan Undang-Undang Perawatan Terjangkau. Pada 2020 ia kembali mengatakan dapat mengkritik banyak keputusan Obama, sembari tetap menganggapnya kompeten dan berkomitmen kepada Amerika.

Karena itu, kisahnya tidak tepat disebut sebagai perubahan dari pengkritik menjadi pendukung. Ada kesinambungan yang lebih menarik. El-Sayed dapat menolak sebagian warisan kebijakan Obama tanpa menolak Obama sebagai figur. Ia bahkan mengakui bahwa kemenangan Obama pada 2008 mengubah bayangannya tentang siapa yang mungkin masuk politik Amerika.

Di situlah pertemuan mereka memperoleh makna lebih besar. Obama mewakili tradisi Demokrat yang mengandalkan koalisi luas, kompromi dan perubahan bertahap. El-Sayed muncul dari gelombang progresif yang menganggap kompromi berlebihan justru membuat Demokrat kehilangan keberanian untuk mengubah struktur yang dianggap tidak adil.

Namun pemilu memiliki logika berbeda dari perdebatan ideologis. Setelah memenangkan primary, El-Sayed harus memperluas dukungan melampaui basis progresifnya. Ia membutuhkan pemilih moderat, pemilih kulit hitam, pemilih independen dan kelompok Demokrat yang sebelumnya mendukung lawannya.

Data primary menunjukkan tantangan itu nyata. El-Sayed justru tertinggal dari Stevens di Wayne County, wilayah yang mencakup Detroit dan merupakan salah satu pusat kekuatan Demokrat. Karena itu, kehadiran Obama di Detroit tidak sekadar menjadi simbol. Ia berpotensi menjadi instrumen konsolidasi dan mobilisasi pada saat pemungutan suara awal dimulai.

Obama pun memiliki kepentingan strategis. Kursi Michigan merupakan salah satu pertarungan yang dapat memengaruhi keseimbangan kekuasaan di Senat. Dukungan terhadap El-Sayed bukan semata-mata bantuan kepada seorang kandidat progresif, melainkan bagian dari upaya Demokrat mempertahankan peluang merebut kendali lembaga legislatif federal.

Maka panggung 24 Oktober dapat dibaca sebagai pertemuan dua kebutuhan politik. El-Sayed membutuhkan legitimasi dan daya jangkau seorang mantan presiden yang tetap populer di kalangan Demokrat. Obama membutuhkan kandidat yang mampu memenangkan kursi penting bagi partainya. Perbedaan masa lalu tidak hilang, tetapi untuk sementara ditempatkan di bawah kepentingan yang lebih besar.

Di sinilah pragmatisme politik bekerja. El-Sayed tidak harus mencabut kritiknya terhadap Obama agar dapat menerima dukungannya. Obama pun tidak harus sepakat dengan seluruh agenda progresif El-Sayed untuk berkampanye bersamanya. Demokrasi elektoral memang sering memaksa perbedaan ideologis dinegosiasikan menjadi koalisi.

Tetapi koalisi ini juga menyimpan risiko. Lawan politik dapat menggunakan pernyataan lama El-Sayed untuk mempertanyakan konsistensinya. Kandidat yang pernah menilai pemerintahan Obama gagal membawa perubahan kini harus menjelaskan mengapa figur yang sama layak menjadi salah satu pendukung terpentingnya.

Jawabannya sebenarnya tidak harus berupa penyangkalan terhadap masa lalu. Politik yang matang justru memungkinkan seseorang mempertahankan kritik terhadap kebijakan sekaligus menghargai kontribusi seorang pemimpin. Dalam kasus El-Sayed, yang berubah bukan seluruh pandangannya terhadap Obama, melainkan konteks politik tempat pandangan itu digunakan.

Kampanye Obama untuk El-Sayed adalah gambaran kecil tentang problem besar Partai Demokrat. Seberapa jauh partai harus bergerak ke kiri untuk mempertahankan energi progresif, dan seberapa jauh harus kembali ke tengah untuk memenangkan pemilih yang lebih luas?

Detroit akan menjadi panggung untuk menguji jawabannya. Obama datang membawa warisan masa lalu. El-Sayed datang membawa tuntutan perubahan generasi baru. Keduanya pernah berbeda tentang seberapa jauh Amerika telah berubah. Kini mereka berdiri di panggung yang sama karena memahami satu hal: perubahan politik, betapapun ideologisnya, pada akhirnya membutuhkan kekuasaan untuk diwujudkan.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home