Home Artikel Menahan Diri Dan Menyerahkan Kepada Allah

Menahan Diri Dan Menyerahkan Kepada Allah

22
0
SHARE
Menahan Diri Dan Menyerahkan Kepada Allah

Keterangan Gambar : Menahan diri untuk tidak menghubungi seseorang yang sebenarnya sangat ingin kita hubungi dapat menjadi latihan kesabaran yang sangat dalam

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Ada saat ketika hati sangat ingin menghubungi seseorang, menanyakan kabarnya, menjelaskan perasaan, atau sekadar memastikan bahwa dirinya masih mengingat kita. Namun, memilih diam bukan selalu berarti tidak peduli. Ada diam yang lahir dari kesadaran bahwa Allah mengetahui isi hati, mengetahui kerinduan yang tersembunyi, dan mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Menahan diri untuk tidak menghubungi seseorang yang sebenarnya sangat ingin kita hubungi dapat menjadi latihan kesabaran yang sangat dalam. Hati manusia memiliki keinginan untuk mendapatkan jawaban, perhatian, kepastian, bahkan pengakuan. Ketika seseorang yang kita rindukan tidak hadir sebagaimana yang kita harapkan, tangan sering ingin membuka ponsel, mencari namanya, lalu mengetik pesan. Akan tetapi, seorang mukmin belajar bertanya lebih dahulu kepada dirinya sendiri: apakah pesan ini benar benar diperlukan, atau hanya untuk menenangkan kegelisahan hati?

Di sinilah makna tawakal menjadi penting. Tawakal bukan berarti tidak melakukan apa apa. Tawakal adalah melakukan sesuatu yang benar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Jika menghubungi seseorang membawa kebaikan, lakukan dengan cara yang baik. Tetapi jika dorongan itu hanya lahir dari ketergantungan hati, rasa takut kehilangan, atau keinginan memaksa perhatian seseorang, maka menahan diri dapat menjadi bentuk penjagaan terhadap kehormatan diri sekaligus latihan untuk bergantung kepada Allah.

Allah berfirman:

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

“Katakanlah, Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba hamba-Nya.” (QS. Al Isra: 96)

Ungkapan “wakafa billahi shahida” atau “cukuplah Allah sebagai saksi” mengajarkan sesuatu yang sangat dalam. Allah mengetahui percakapan yang tidak pernah terjadi, pesan yang sengaja dihapus sebelum dikirim, air mata yang jatuh tanpa diketahui orang lain, dan kerinduan yang disimpan sendirian. Tidak ada perasaan yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

Karena itu, jangan menganggap bahwa diam selalu berarti kalah. Ada diam yang justru menunjukkan kedewasaan. Ada pesan yang sengaja tidak dikirim karena seseorang sedang belajar mengendalikan dirinya. Ada kerinduan yang tidak disampaikan karena ia memilih mengadukannya kepada Allah dalam doa. Ada keinginan untuk kembali mendekat, tetapi hati memilih berkata, “Ya Allah, jika dia baik bagiku, dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridai. Jika tidak, tenangkanlah hatiku dan cukupkanlah aku dengan-Mu.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memang berbicara tentang mengendalikan diri ketika marah, tetapi prinsipnya dapat menjadi pelajaran luas tentang kekuatan jiwa. Kekuatan seorang mukmin tidak hanya terlihat ketika ia mampu mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi juga ketika ia mampu mengendalikan dirinya saat keinginan itu begitu kuat.

Menahan diri bukan berarti mematikan perasaan. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi batu. Rindu tetap manusiawi, sedih tetap manusiawi, berharap juga manusiawi. Yang diajarkan adalah bagaimana menempatkan semua perasaan itu di bawah bimbingan iman. Jangan sampai kerinduan membuat kita merendahkan diri. Jangan sampai rasa kehilangan membuat kita mengejar sesuatu yang justru menjauhkan kita dari ketenangan. Jangan sampai keinginan mendapatkan perhatian manusia membuat kita lupa bahwa perhatian Allah tidak pernah terputus.

Allah berfirman:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At Talaq: 3)

Ayat ini memberikan ketenangan kepada hati yang sedang belajar melepaskan. Jika seseorang memang menjadi bagian dari kebaikan yang Allah tetapkan, tidak perlu mengejarnya dengan cara yang mengorbankan harga diri dan ketenangan jiwa. Jika hubungan itu memang baik dan halal, tempuhlah jalan yang baik. Jika ternyata tidak, percayalah bahwa Allah mampu menggantikan sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik, atau memberikan ketenangan yang jauh lebih berharga daripada apa yang dahulu kita kejar.

Maka, ketika ingin menghubungi seseorang tetapi hati memilih untuk menahan diri, gunakan jeda itu untuk mendekat kepada Allah. Berwudu, salat, membaca Al Qur'an, berzikir, atau berdoa. Katakan kepada Allah apa yang tidak sanggup kita katakan kepada manusia. Sebab manusia mungkin tidak memahami seluruh isi hati kita, tetapi Allah mengetahuinya bahkan sebelum kita mengucapkannya.

Pada akhirnya, “wakafa billahi shahida” bukan sekadar kalimat untuk menghibur hati yang sedang menunggu. Ia adalah pengakuan bahwa Allah cukup sebagai saksi atas segala sesuatu yang kita rasakan dan jalani. Kita boleh merindukan seseorang, tetapi jangan sampai kehilangan Allah karena mengejar manusia. Kita boleh berharap kepada seseorang, tetapi jangan menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia. Kita boleh mencintai, tetapi letakkan cinta itu di bawah cinta kepada Allah.

Jika hari ini ada seseorang yang sangat ingin kita hubungi, tanyakan kepada hati: apakah aku benar benar perlu menghubunginya, atau sebenarnya aku hanya sedang membutuhkan ketenangan? Jika jawabannya adalah ketenangan, carilah kepada Allah. Sebab bisa jadi, pesan yang tidak pernah kita kirim justru menjadi awal dari doa yang lebih panjang. Dan bisa jadi, diam yang kita jalani dengan sabar sedang mengajarkan hati sebuah pelajaran besar: bahwa tidak semua yang kita inginkan harus kita kejar, karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home