
Keterangan Gambar : Transformasi itu bukan agenda yang baru dimulai bersama pergantian pimpinan. Pada Desember 2025, pemegang saham independen menyetujui pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Akta tahap pertama ditandatangani 18 Desember 2025 dengan nilai sekitar Rp35,8 triliun.
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Pergantian pucuk pimpinan Telkom Indonesia setelah sekitar 16 bulan masa kepemimpinan Dian Siswarini membuka persoalan lebih besar dari sekadar jabatan. RUPSLB 30 September 2026 menetapkan Nanang Hendarno sebagai Direktur Utama baru, ketika Telkom menyelesaikan penataan besar bisnis infrastrukturnya.
Transformasi itu bukan agenda yang baru dimulai bersama pergantian pimpinan. Pada Desember 2025, pemegang saham independen menyetujui pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Akta tahap pertama ditandatangani 18 Desember 2025 dengan nilai sekitar Rp35,8 triliun.
Tahap kedua selesai pada September 2026. Lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom dikonsolidasikan ke InfraNexia, mencakup sekitar 112.000 kilometer fiber optik, termasuk 26.000 kilometer sistem komunikasi kabel laut domestik. Total tahap pertama dan kedua mencapai sekitar Rp85,7 triliun. Angka itu adalah nilai transaksi aset dan bisnis, bukan penerimaan kas bagi Telkom.
Di sinilah pergantian nakhoda menjadi menarik. Telkom mengganti pemimpin ketika struktur aset dan model pengelolaan infrastrukturnya sedang diubah. Tantangannya adalah memastikan perubahan tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang terukur.
Nanang bukan orang baru di lingkungan Telkom. Sebelum menjadi Direktur Utama, ia menjabat Direktur Network Telkom dan pernah memimpin PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia. Latar belakang itu relevan ketika sebagian besar infrastruktur jaringan kini ditempatkan di InfraNexia.
Telkom menyatakan InfraNexia diarahkan menjadi operating company yang fokus pada bisnis infrastruktur wholesale. Pemisahan ini bagian dari strategi TLKM 30 dan perubahan menuju Strategic Holding. Tujuannya meningkatkan produktivitas aset dan kontribusi pasar eksternal.
Ukuran keberhasilan tidak berhenti pada selesainya spin off. Pertanyaannya: seberapa tinggi utilisasi jaringan, pertumbuhan pelanggan eksternal, efisiensi yang tercipta, dan dampaknya terhadap kinerja serta kualitas layanan?
Masa kepemimpinan Dian tidak seharusnya dibaca hanya dari durasinya. Selama periode tersebut, proses spin off bergerak dari persetujuan tahap pertama hingga penyelesaian. Tanpa penjelasan resmi, publik tidak memiliki dasar menyimpulkan bahwa pergantian itu semata mata penilaian atas kegagalan individu.
Kini Nanang mewarisi aset besar, struktur holding yang berubah dan tuntutan menciptakan nilai dari transformasi yang sudah berjalan. RUPSLB mengubah susunan pengurus dan cara aset infrastruktur dikelola.
Pada akhirnya, ujian terbesar bukan siapa yang duduk di kursi Direktur Utama, melainkan hasil setelah perubahan itu berjalan. Jika struktur baru mampu meningkatkan utilisasi jaringan, memperluas pasar, memperbaiki efisiensi dan memperkuat kinerja, transformasi akan memiliki ukuran yang jelas. Telkom memasuki babak baru dengan nakhoda baru, tetapi pekerjaan rumah lama belum selesai.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY