Perwirasatu.co.id, 24 Oktober 2026.
Di rumah besar bernama kekuasaan, ada pintu-pintu yang pandai mengenali nama.
Tak semua yang mengetuk dipersilakan masuk; sebagian pulang membawa ijazah, pengabdian, dan harapan
yang bahkan belum sempat diperiksa. Di dalam, kursi-kursi telah disiapkan. Ada yang datang dengan bekal kemampuan, ada yang tumbuh melalui kerja panjang,
ada yang menghabiskan tahun-tahun
untuk menempa diri dalam kesunyian.
Namun, di hadapan pintu yang sama,
tak semua memperoleh kesempatan yang setara.
Sebab terkadang, bukan kecakapan
yang lebih dahulu sampai ke meja keputusan,
melainkan sebuah nama
yang telah dikenal sebelum penilaian dimulai,
sebuah hubungan yang membuka jalan,
sebuah kedekatan yang mengubah antrean
menjadi jalan pintas menuju kekuasaan. Begitulah ketidakadilan bersolek: mengenakan wajah kekeluargaan,
menyebut kedekatan sebagai kepercayaan,
dan membungkus kepentingan
dengan kata-kata yang terdengar mulia.
Di balik senyum dan sapaan akrab,
ada pertanyaan yang luput diajukan:
siapa yang sungguh layak menerima amanah?
Bukan darah yang harus dicurigai,
bukan persahabatan yang mesti diakhiri.
Keluarga tetaplah tempat kasih bersemi,
persahabatan tetaplah ruang saling menguatkan.
Namun, ketika hubungan menjadi ukuran,
ketika kedekatan mengalahkan kelayakan,
di situlah keadilan kehilangan timbangannya.
Sebab jabatan bukan warisan keluarga,
bukan hadiah bagi kesetiaan pribadi,
bukan pula tanda terima kasih
atas nama-nama yang selalu hadir
di sekitar lingkaran kekuasaan.
Amanah bukan milik mereka yang terdekat,
melainkan tanggung jawab
yang harus diberikan kepada yang layak.
Di luar lingkaran, seseorang masih menunggu.
Ia tak membawa nama besar,
tak memiliki jalan yang dibukakan dari dalam,
hanya kecakapan yang ditempa dengan tekun,
integritas yang dijaga tanpa sorotan,
dan harapan sederhana:
agar kemampuannya dinilai
sebelum dirinya disisihkan.
Barangkali ia bukan yang terbaik;
tak seorang pun berhak memastikan
sebelum kesempatan benar-benar diberikan.
Namun, bukankah itulah pangkal keadilan:
setiap orang dinilai dengan ukuran yang sama,
bukan ditentukan oleh siapa yang mengenalnya,
bukan disingkirkan sebelum sempat membuktikan
apa yang sanggup ia kerjakan?
Sebab setiap kursi yang diberikan
tanpa pertimbangan yang jujur
bukan sekadar tempat bagi seseorang.
Ia dapat menjadi kesempatan
yang luput dari orang lain,
kepercayaan yang perlahan retak,
dan harapan yang kehilangan alasan
untuk tetap percaya pada sistem.
Jika kelayakan dikalahkan kedekatan,
jangan heran bila kepercayaan menyusut.
Jika kesempatan berputar di lingkaran yang sama,
jangan heran bila pengabdian kehilangan gairah.
Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan
orang-orang yang saling mengenal,
tetapi mereka yang sanggup membuktikan
bahwa amanah berada di tangan yang tepat.
Wahai para pemegang amanah,
kekuasaan hanyalah titipan waktu.
Hari ini, pintu mungkin terbuka
karena keputusan berada di tanganmu;
esok, jabatan dapat berganti,
kursi dapat ditinggalkan,
dan nama yang dahulu disegani
tak lagi mampu memerintah ingatan.
Ketika itu tiba,
yang tersisa bukan panjangnya daftar kerabat,
bukan banyaknya sahabat yang diangkat,
bukan pula rapatnya lingkaran yang dibangun,
melainkan jejak keputusan:
siapa yang diberi kesempatan,
siapa yang diperlakukan dengan adil,
dan siapa yang kehilangan hak
karena kedekatan orang lain.
Maka bukalah pintu dengan ukuran yang sama.
Biarkan kemampuan berbicara,
biarkan integritas menjadi pertimbangan,
biarkan proses yang terbuka
mengalahkan bisikan kepentingan.
Jangan biarkan nama mendahului penilaian,
jangan biarkan hubungan menggantikan kelayakan,
jangan biarkan amanah berubah
menjadi keuntungan bagi lingkaran sendiri.
Dan kepada mereka yang masih menunggu,
jangan biarkan pintu yang tertutup
menjadi ukuran harga dirimu.
Teruslah menempa kemampuan,
rawatlah integritas di tengah kekecewaan,
dan bersuaralah ketika ketidakadilan
mulai dianggap sebagai kebiasaan.
Sebab diam yang terlalu lama
dapat membuat ketimpangan tampak wajar,
sedangkan keberanian yang berpijak pada kebenaran
dapat membuka jalan bagi perubahan.
Namun, jangan pula keadilan
dijadikan alasan untuk membenci tanpa bukti.
Kritiklah keputusan yang tidak patut,
periksalah proses yang tidak transparan,
dan tuntutlah pertanggungjawaban
tanpa mengorbankan kebenaran.
Sebab melawan ketidakadilan
bukan berarti menukar satu prasangka
dengan prasangka yang lain.
Pada akhirnya, sebuah lingkungan
tak menjadi mulia karena semua orang di dalamnya
saling mengenal dan saling menguntungkan.
Ia menjadi bermartabat
ketika yang berbeda tetap memperoleh kesempatan,
ketika yang tak memiliki kedekatan
tak kehilangan hak untuk dinilai,
dan ketika kekuasaan berani memilih
berdasarkan kemampuan, bukan hubungan.
Di luar pagar,
masih ada tangan yang mengetuk.
Bukan meminta keistimewaan,
bukan menuntut tempat tanpa kelayakan,
bukan pula memohon agar didahulukan.
Ia hanya menginginkan satu hal:
kesempatan untuk dinilai secara adil.
Maka, wahai penjaga pintu,
jangan biarkan engselnya berkarat
oleh kepentingan yang diwariskan,
jangan biarkan kuncinya hanya mengenali
nama-nama yang akrab di telinga.
Sebab pintu yang baik
bukanlah pintu yang memilih
siapa yang dekat dengan penjaganya,
melainkan pintu yang terbuka
bagi siapa pun yang layak melaluinya.
Dan jika kelak sejarah bertanya
apa yang pernah kita perjuangkan, biarlah jawabannya bukan tentang siapa yang berhasil masuk ke lingkaran, melainkan tentang keberanian kita membuka pintu yang sama bagi setiap orang yang berhak mengetuknya.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY