Home Artikel POLA HIDUP FEODALISTIS: BUAH MATERIALISME

POLA HIDUP FEODALISTIS: BUAH MATERIALISME

Oleh: Kundrat Kanda Permana (Cendikiawan Muda)

2
0
SHARE
POLA HIDUP FEODALISTIS: BUAH MATERIALISME


Dalam tradisi kekuasaan materialistis kuno, feodalisme terlihat dalam cara orang menghadap raja atau kaisar. Ada protokol khusus yang harus ditempuh sebelum seseorang dapat bertemu dengan raja agung atau kaisar. Ada aturan tentang siapa yang boleh mendekat, bagaimana cara berdiri, dan bagaimana seseorang harus menempatkan dirinya di hadapan penguasa.


Namun, tidak demikian dengan Rasulullah ﷺ. Siapa pun dapat bertemu Rasulullah, kecuali pada waktu-waktu privasi beliau. Bahkan, saking egaliternya, seorang pemimpin besar bernama Muhammad memanggil para pengikutnya dengan sebutan "sahabat".


Salah satu agenda besar yang dibawa Rasulullah ﷺ adalah fakku raqabah, membebaskan manusia dari belenggu perbudakan. Spirit pembebasan ini juga dapat dibaca sebagai pembebasan manusia dari berbagai bentuk feodalisme dalam hubungan sosial: antara tokoh dan rakyat biasa, antara si pintar dan si bodoh, antara si miskin dan si kaya.


Sikap feodalistis bukanlah karakter asli manusia. Manusia secara fitrah saling membutuhkan, saling mengayomi, dan saling memuliakan. Sikap feodalistis lahir dari sistem kekuasaan materialistis, ketika aturan dan ukuran kehidupan ditentukan oleh hawa nafsu dan kebodohan penguasa.


Shalat dan zakat adalah dua konsep yang tidak pernah terpisah dalam membangun tata kehidupan manusia. Shalat merupakan konsep tata kelola sosial, sementara zakat merupakan konsep tata kelola ekonomi.


Shalat membangun keteraturan, kedisiplinan, kebersamaan, dan kesetaraan manusia dalam satu barisan. Tidak ada saf khusus bagi orang kaya, pejabat, bangsawan, atau orang yang memiliki pengaruh, sedangkan zakat mengatur distribusi kekayaan agar ekonomi tidak hanya berputar di kalangan mereka yang memiliki modal.


Islam mengajarkan silaturahmi agar manusia dapat saling mendekat, tetapi dalam dunia materialistis, kedekatan sering kali hanya berlaku bagi mereka yang dianggap setara dalam status dan kepentingan.


Bangsawan bersilaturahmi dengan bangsawan, hartawan dengan hartawan, intelektual dengan intelektual, dan penguasa dengan mereka yang memiliki pengaruh.


Seseorang akan mengidentifikasi orang lain terlebih dahulu: layakkah ia menjadi tamu, teman, atau masuk dalam daftar undangan?


Orang akan disepelekan ketika berbicara tentang ilmu hanya karena ia bukan berasal dari kampus bonafide.


Pemimpin sulit ditemui oleh orang sembarangan, tetapi pintunya terbuka lebar bagi mereka yang memiliki pengaruh politik, modal, jabatan, atau jaringan.


Al-Qur'an telah mengingatkan dalam QS Al-Hadid ayat 20 bahwa kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan, berbangga-bangga, serta berlomba dalam memperbanyak harta dan pengikut.


Dalam sistem kekuasaan material, seseorang yang berintegritas dan berilmu belum tentu dapat menjadi pemimpin jika tidak memiliki uang untuk kampanye, sosialisasi, dan berbagai kebutuhan politik. Tidak cukup sampai di situ, ia juga harus memiliki jejaring tokoh yang memiliki banyak pengikut dan pengaruh.


Pada akhirnya, yang menentukan bukan lagi siapa yang paling layak memimpin, tetapi siapa yang paling mampu menguasai akses menuju kekuasaan.


Inilah salah satu penyebab mengapa pada akhir zaman, pemimpin yang tercipta semakin jauh dari kepemimpinan yang fitrah.


Feodalisme mungkin telah kehilangan istana dan mahkotanya, tetapi ia bisa tetap hidup dalam cara kita memandang manusia: berdasarkan harta, gelar, jabatan, pengaruh, dan jumlah pengikutnya.


Iklan Detail Video

Iklan_home