Home Artikel Seporsi Adab Kehidupan

Seporsi Adab Kehidupan

5
0
SHARE
Seporsi Adab Kehidupan

Keterangan Gambar : Dalam kehidupan, manusia sering kali terlena oleh segala nikmat yang sedang berada di tangannya. Harta, jabatan, ilmu, kecantikan, kekuatan, maupun kedudukan dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Perwirasatu.co.id, 23 Agustus 2026.

Dalam kehidupan, manusia sering kali terlena oleh segala nikmat yang sedang berada di tangannya. Harta, jabatan, ilmu, kecantikan, kekuatan, maupun kedudukan dapat membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain. Padahal, semua itu hanyalah titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali. Karena itu, Islam mengajarkan agar setiap mukmin menjaga adab, merendahkan hati, serta tidak pernah meremehkan siapa pun, sebab kemuliaan sejati hanya berada di sisi Allah.

Salah satu adab yang paling agung dalam Islam adalah tidak merendahkan orang lain dengan apa pun yang sedang Allah pinjamkan kepada diri kita. Kalimat sederhana, "Jangan pernah merendahkan orang lain dengan apa yang sedang Allah pinjamkan kepadamu," sesungguhnya mengandung hikmah yang sangat dalam. Harta yang kita miliki bukanlah milik mutlak. Jabatan yang kita sandang bukanlah milik abadi. Kecerdasan yang kita banggakan bukanlah hasil usaha semata. Bahkan kesehatan, keluarga, dan usia pun hanyalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah SWT berfirman:

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

Artinya:

"Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi."

(QS. Al-Baqarah: 284)

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh alam semesta beserta isinya adalah milik Allah. Manusia hanyalah pengelola sementara yang diberi kesempatan menikmati sebagian kecil dari karunia-Nya. Karena itu, tidak ada alasan sedikit pun untuk menyombongkan diri.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Artinya:

"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."

(QS. Al-Isra': 37)

Kesombongan merupakan penyakit hati yang sangat berbahaya. Seseorang bisa saja merasa lebih mulia karena kekayaannya, ilmunya, pangkatnya, bahkan karena ibadahnya. Padahal, semua kelebihan itu hanyalah ujian. Bila tidak disikapi dengan rasa syukur dan tawaduk, justru akan menjadi sebab kehancuran.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

Artinya:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji zarrah."

(HR. Muslim)

Ketika para sahabat bertanya apakah memakai pakaian yang bagus termasuk kesombongan, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kesombongan adalah:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya:

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia."

(HR. Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa ukuran kesombongan bukanlah penampilan atau kekayaan, melainkan sikap hati yang merendahkan orang lain. Seseorang mungkin hidup sederhana tetapi sombong. Sebaliknya, ada orang yang kaya raya namun sangat rendah hati.

Mengapa kita tidak boleh merendahkan orang lain? Sebab kita tidak pernah mengetahui bagaimana akhir kehidupan seseorang. Orang yang hari ini miskin bisa menjadi kaya karena karunia Allah. Orang yang hari ini lemah bisa menjadi kuat. Orang yang hari ini banyak dosa bisa jadi kelak bertaubat dengan taubat yang tulus sehingga lebih mulia daripada orang yang merasa dirinya paling saleh.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

(QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan menurut Allah tidak diukur dari harta, keturunan, warna kulit, jabatan, pendidikan, ataupun popularitas. Standar kemuliaan hanyalah ketakwaan. Dan ketakwaan itu adalah rahasia Allah yang tidak dapat diukur oleh pandangan manusia.

Betapa banyak kisah orang-orang besar yang dahulu hidup dalam kesederhanaan. Betapa banyak pula orang yang dahulu berjaya akhirnya jatuh dalam kehinaan. Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan dunia terus berputar sesuai kehendak Allah. Oleh sebab itu, seorang mukmin tidak pantas membanggakan apa yang dimilikinya hari ini.

Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan tidak pula harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal-amal kalian."

(HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah, melainkan oleh kebersihan hati dan kualitas amalnya. Karena itu, tidak layak seorang mukmin memandang rendah orang lain hanya karena kondisi duniawinya berbeda.

Adab yang mulia adalah bersyukur atas setiap nikmat, menggunakannya untuk menolong sesama, serta menyadari bahwa semua itu hanyalah titipan. Jika Allah menghendaki, dalam sekejap nikmat itu dapat berpindah kepada orang lain. Sebaliknya, Allah juga mampu mengangkat derajat siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Marilah kita menjaga hati agar tetap rendah, santun dalam berbicara, lembut dalam bersikap, serta menghormati setiap manusia. Jangan sampai nikmat yang Allah pinjamkan berubah menjadi sebab lahirnya kesombongan. Jadikan setiap kelebihan sebagai sarana beribadah, berbagi, dan menebarkan manfaat. Dengan demikian, kita akan menjadi hamba yang pandai bersyukur, tidak mudah menghina sesama, serta senantiasa berharap memperoleh kemuliaan yang hakiki di sisi Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home