Home Politik Tiga Tahun Menunggu, 105 Jenazah Dimakamkan

Tiga Tahun Menunggu, 105 Jenazah Dimakamkan

16
0
SHARE
Tiga Tahun Menunggu, 105 Jenazah Dimakamkan

Keterangan Gambar : Jenazah disalatkan di lokasi penemuan sebelum dibawa menuju Pemakaman Martir Sheikh Radwan. Sebagian dibungkus kain kafan dan bendera Palestina.

Perwirasatu.co.id , Jakarta - Ratusan warga Gaza berkumpul pada 1 Oktober 2026 untuk mengiringi pemakaman 105 jenazah yang baru ditemukan dari bawah reruntuhan kawasan Al Taj, Al Yarmouk, Kota Gaza. Mereka tewas dalam serangan pada Oktober 2023. Hampir tiga tahun setelah kematian, keluarga akhirnya memperoleh kepastian dan kesempatan menguburkan kerabat mereka.

Jenazah disalatkan di lokasi penemuan sebelum dibawa menuju Pemakaman Martir Sheikh Radwan. Sebagian dibungkus kain kafan dan bendera Palestina. Bagi keluarga, prosesi itu bukan sekadar pemakaman massal, melainkan akhir dari penantian panjang terhadap orang yang selama bertahun tahun hanya dikenal sebagai korban hilang.

Menurut WAFA, 1 Oktober 2026, jenazah tersebut ditemukan dari reruntuhan 16 bangunan permukiman di kawasan Al Taj yang memiliki sekitar 138 apartemen. Pertahanan Sipil Gaza menyebut serangan pada 25 Oktober 2023 menewaskan sekitar 450 orang. Dari 105 jenazah yang berhasil ditemukan, 37 merupakan anak anak dan 38 perempuan.

Angka sekitar 450 korban tersebut merupakan keterangan Pertahanan Sipil Gaza dan belum dapat diverifikasi secara independen. Anadolu, 1 Oktober 2026, mengutip penyintas Fawaz Ziyara yang memperkirakan sekitar 300 orang tewas dalam serangan itu. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah korban pada peristiwa tersebut masih mengandung ketidakpastian.

Yang relatif pasti adalah skala kehancurannya. Al Jazeera, 1 Oktober 2026, melaporkan sedikitnya 20 bom digunakan dalam serangan yang menghancurkan gedung Al Taj 3 dan sejumlah bangunan permukiman lain di kawasan Yarmouk. Pertahanan Sipil Gaza mengatakan korban tidak dapat segera dievakuasi karena keterbatasan kemampuan dan alat berat.

Tiga tahun kemudian, pekerjaan pencarian baru membuahkan hasil besar. Anadolu melaporkan operasi pencarian berlangsung selama 17 hari dan dilakukan dengan koordinasi komite Mesir. Sementara WAFA menyebut proses tersebut telah berjalan sekitar 20 hari. Perbedaan keterangan durasi itu tidak mengubah fakta bahwa pencarian berlangsung lebih dari dua pekan dalam kondisi reruntuhan yang berat.

Di antara keluarga yang datang terdapat Taghreed Al Hanawi. Anadolu melaporkan putrinya, seorang dokter bernama Alia Ramzi Al Hanawi, tewas bersama suami dan empat anaknya. Setelah bertahun tahun berada di bawah reruntuhan, keluarga itu akhirnya dapat menerima jenazah mereka untuk dimakamkan secara layak.

Kesaksian tersebut memberi wajah manusia pada angka 105. Di balik statistik terdapat keluarga yang kehilangan beberapa anggota sekaligus. Ada pula mereka yang selama bertahun tahun tidak mengetahui secara pasti apakah kerabatnya masih hidup atau telah meninggal.

Osama Sharaf juga mengatakan kepada Al Jazeera, 1 Oktober 2026, bahwa 37 anggota keluarganya tewas dalam serangan tersebut. Sebagian telah ditemukan pada awal perang, sedangkan 16 lainnya baru ditemukan dalam operasi terbaru. Di antara jenazah yang ditemukan kemudian terdapat ayah, ibu, saudara dan keponakannya.

Pemakaman itu sekaligus membuka persoalan yang lebih luas. Pertahanan Sipil Gaza menyatakan masih membutuhkan alat berat untuk mencari korban lain yang tertimbun reruntuhan. WAFA menyebut kebutuhan tersebut mencapai 10 ekskavator, 30 buldoser dan 100 loader berat. Lembaga itu juga memperkirakan lebih dari 8.000 jenazah masih berada di bawah reruntuhan di berbagai wilayah Gaza.

Angka tersebut juga harus dibaca sebagai perkiraan Pertahanan Sipil Gaza, bukan angka yang telah diverifikasi secara independen. Ahram Online, 1 Oktober 2026, melaporkan bahwa operasi pencarian menghadapi kekurangan peralatan berat dan keterbatasan kemampuan untuk membersihkan reruntuhan dalam skala besar.

Di sinilah pemakaman 105 jenazah memperoleh makna yang lebih luas. Persoalannya bukan hanya bagaimana menguburkan korban perang, tetapi juga bagaimana menemukan orang yang hilang, mengidentifikasi jenazah, memberi kepastian kepada keluarga, dan memastikan mereka yang telah meninggal tetap diperlakukan dengan martabat.

Pemandangan ratusan orang mengiringi jenazah menuju pemakaman memperlihatkan sisi lain perang yang sering tenggelam oleh angka korban. Ledakan terjadi dalam hitungan detik, tetapi akibatnya dapat berlangsung bertahun tahun. Rumah menjadi reruntuhan, anggota keluarga menjadi orang hilang, dan makam baru muncul setelah pencarian panjang.

Al Jazeera mencatat bahwa bagi keluarga, pemakaman itu memberikan penutupan setelah hampir tiga tahun ketidakpastian. Namun penutupan tersebut tidak berarti luka berakhir. Masih ada keluarga lain yang menunggu, masih ada reruntuhan yang belum dibuka, dan masih ada jenazah yang belum ditemukan.

105 jenazah itu telah mendapatkan tempat peristirahatan. Tetapi kisah mereka sekaligus menunjukkan panjangnya ekor kemanusiaan sebuah perang. Kematian dapat terjadi seketika, sementara pencarian, identifikasi, pemakaman dan kehidupan keluarga setelah kehilangan dapat berlangsung selama bertahun tahun. Di Gaza, bahkan sebuah pemakaman belum tentu menjadi akhir dari sebuah penantian.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)
Iklan Detail Video

Iklan_home