Data BI Bongkar Fakta Baru Samuel F Silaen Sebut Rakyat Kini Lebih Cemas
Keterangan Gambar : Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen, menilai kondisi keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih menunjukkan optimisme.
Perwirasatu.co.id, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA), Samuel F Silaen, menilai kondisi keyakinan konsumen Indonesia pada April 2026 masih menunjukkan optimisme. Namun mulai dibayangi kekhawatiran masyarakat, terhadap prospek ekonomi beberapa bulan ke depan.
Hal itu disampaikan Samuel Silaen dalam menanggapi hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) yang mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 berada di level 123,0.
Menurut Samuel, angka tersebut memang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia secara umum masih percaya terhadap kondisi ekonomi nasional karena indeks masih berada di atas level 100. Namun, ia mengingatkan adanya sinyal perlambatan yang cukup signifikan yang tidak boleh dianggap sepele, terutama pada sisi ekspektasi masyarakat terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan aktivitas usaha ke depan.
“Kalau kita melihat data BI terlepas akurat atau tidak, memang keyakinan konsumen masih optimistis. Tetapi optimisme itu sekarang mulai lebih berhati-hati. Ada semacam kewaspadaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi beberapa bulan mendatang,” ujar Samuel Silaen kepada awak media, Senin (12/5-2026).
Samuel menilai kenaikan tipis IKK dari 122,9 menjadi 123,0, belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan ekonomi yang benar-benar kuat. Sebab, pada saat bersamaan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru mengalami penurunan menjadi 129,6 dibanding bulan sebelumnya di level 130,4.
Menurut Silaen, kondisi tersebut menggambarkan bahwa masyarakat saat ini masih merasa was-was atas kondisi ekonomi relatif kurang stabil, namun banyak pihak mulai meragukan apakah situasi tersebut bisa bertahan hingga enam bulan ke depan.
“Yang harus dicermati bersama bukan hanya angka optimisme hari ini, tetapi arah ekspektasi masyarakat harus dibaca sebagai warning serius. Kalau ekspektasi terus turun, itu menandakan publik mulai menahan keyakinannya terhadap masa depan ekonomi,” katanya.
Samuel juga menyoroti turunnya Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) yang dinilai menjadi indikator penting perlambatan sentimen masyarakat terhadap dunia usaha. Dalam empat bulan pertama 2026, indeks tersebut turun cukup tajam dari 135,3 menjadi 124,1.
Menurut Samuel, penurunan itu bisa dipengaruhi berbagai faktor eksternal maupun domestik, mulai dari tekanan ekonomi global, fluktuasi harga energi dan impor pangan yang melonjak tajam, nilai tukar rupiah, hingga kondisi daya beli masyarakat terus melemah.
“Pelaku usaha dan masyarakat sekarang sama-sama membaca adanya ketidakpastian global yang sangat berdampak pada ekonomi dalam negeri Indonesia. Situasi geopolitik dunia, tekanan harga kebutuhan pokok, hingga kondisi pasar tenaga kerja ikut memengaruhi psikologi ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Samuel juga menambahkan, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok yang terjangkau dan memperkuat penciptaan lapangan kerja agar optimisme masyarakat tidak terus melemah. Ia menilai jika tren penurunan ekspektasi dibiarkan berlanjut, maka konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang ekonomi nasional bisa ikut terdampak.
“Kalau masyarakat mulai menahan belanja karena khawatir kondisi ekonomi memburuk, maka pertumbuhan ekonomi nasional juga bisa ikut melambat,” tegasnya.
Meski demikian, Silaen menilai kondisi saat ini belum masuk kategori mengkhawatirkan karena seluruh indeks konsumen masih berada di zona optimistis. Namun ia mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan angka-angka pertumbuhan semata tanpa membaca psikologi masyarakat ditingkat grassroots yang mulai berubah lebih hati-hati.
“Optimisme masyarakat masih ada karena ditopang oleh subsidi- subsidi yang diberikan pemerintah tapi itu bukan gratis karena subsidi didapatkan dari penebalan jumlah hutang Luar Negeri yang sudah hampir mencapai 10.000Triliun, namun demikian sekarang harus dibarengi sikap waspada dan kehati-hatian yang tinggi mengenai situasi ekonomi yang sudah stagnan. Itu yang harus dibaca serius oleh pemerintah,” pungkasnya.
(PS/FC)
Tulis Komentar