Perwirasstu.co.id-Seorang ayah berdiri tertunduk di kaki Gunung Slamet, menggenggam secarik karton berisi doa paling sederhana dan paling menyayat: anaknya segera ditemukan. Sudah 14 hari pencarian berlangsung tanpa kabar pasti. Di tengah kabut, dingin, dan keterbatasan, harapan itu belum padam. Ia bertahan pada empati, doa, dan kepedulian sesama manusia.
Sejak dua pekan terakhir, lereng Gunung Slamet bukan hanya menjadi medan pencarian, tetapi juga ruang sunyi bagi sebuah keluarga yang menunggu kepastian. Sosok ayah itu berdiri dengan wajah letih, mata sembab, dan tubuh yang seolah kehilangan daya. Di tangannya, selembar karton bertuliskan permohonan doa untuk anaknya, Syafiq, yang hilang saat mendaki. Tak ada tuntutan, tak ada kemarahan. Hanya harap yang dipeluk erat, meski perlahan digerus waktu.
Syafiq dilaporkan hilang sejak 27 Desember 2025 saat melakukan pendakian di Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya, Pemalang, Jawa Tengah. Pendakian itu awalnya dilakukan bersama seorang rekan. Namun dalam perjalanan turun, rekannya mengalami cedera sehingga Syafiq memutuskan mencari bantuan. Sejak saat itu, keberadaannya tak lagi diketahui. Fakta ini disampaikan dalam laporan kronologi pencarian oleh detik.com pada 5 Januari 2026.
Operasi pencarian kemudian dilakukan secara besar-besaran. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan pecinta alam, hingga masyarakat sekitar dikerahkan. Total lebih dari 100 personel terlibat aktif dalam penyisiran berbagai sektor, mulai dari jalur resmi pendakian, lembah, hutan lebat, hingga jalur-jalur tidak resmi yang berisiko tinggi. Informasi ini dilaporkan detik.com dalam pemberitaan tanggal 6 Januari 2026.
Namun alam Gunung Slamet bukan medan yang mudah. Cuaca ekstrem, kabut tebal, hujan deras, serta angin kencang berulang kali memaksa tim menghentikan sementara pencarian. Medan terjal dan luasnya kawasan menjadi tantangan besar. Dalam situasi seperti ini, setiap langkah pencarian mengandung risiko keselamatan bagi para penolong. Kondisi ini juga ditegaskan oleh Basarnas dalam keterangan resminya yang dimuat Antara News pada 7 Januari 2026.
Setelah 14 hari pencarian intensif, tim SAR resmi menghentikan operasi sesuai standar prosedur. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan keselamatan personel dan hasil evaluasi lapangan. Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan dan masyarakat atau relawan yang menemukan petunjuk baru diminta segera melapor. Penutupan operasi SAR ini diberitakan iNews Jateng pada 8 Januari 2026.
Bagi keluarga, penghentian operasi resmi bukanlah akhir dari harapan. Sang ayah tetap datang ke kaki gunung, berdiri di antara para relawan, menunggu kemungkinan sekecil apa pun. Ia tidak meminta banyak. “Anak saya pulang… apa pun keadaannya,” begitu pesan yang berulang ia sampaikan kepada siapa saja yang mendekat. Kalimat sederhana itu menggambarkan betapa kepastian lebih dibutuhkan daripada penantian tanpa ujung.
Kisah ini menggugah empati publik karena ia mencerminkan kerentanan manusia di hadapan alam, sekaligus kekuatan cinta orang tua. Dalam banyak peristiwa serupa, seperti kasus pendaki hilang di Gunung Rinjani beberapa tahun lalu, proses pencarian yang panjang selalu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Antara News dalam laporan evaluasi keselamatan pendakian pada 2024 menekankan bahwa dampak psikologis keluarga sering kali jauh lebih berat daripada risiko fisik di lapangan.
Di titik inilah empati publik menjadi sangat berarti. Doa, dukungan moral, serta penyebaran informasi yang benar dan bertanggung jawab dapat membantu keluarga bertahan. Masyarakat juga diingatkan untuk tidak menyebarkan spekulasi liar atau informasi tidak terverifikasi yang justru menambah beban keluarga. Seruan ini pernah disampaikan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi dan Kementerian Pariwisata dalam berbagai evaluasi insiden alam terbuka, sebagaimana dikutip Kompas.com pada 12 November 2024.
Gunung Slamet hari ini bukan hanya tentang jalur pendakian dan peta pencarian. Ia menjadi saksi doa-doa yang dipanjatkan tanpa suara, air mata yang ditahan, dan harapan yang terus dijaga meski kian rapuh. Seorang ayah berdiri di sana bukan sebagai pendaki, bukan pula sebagai penuntut, melainkan sebagai orang tua yang menggantungkan segalanya pada belas kasih Tuhan dan kepedulian manusia.
Mari kita rawat empati itu. Doakan Syafiq agar segera ditemukan. Hargai kerja keras tim SAR dan relawan yang telah mempertaruhkan keselamatan demi satu nyawa. Dan semoga, dari dingin dan kabut Gunung Slamet, ada jawaban yang akhirnya pulang membawa kejelasan bagi keluarga yang menunggu.
Oleh : Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar