Jejak Sunyi di Balik Kebiasaan Kecil
Keterangan Gambar : Slamet mengira hidupnya baik baik saja, sampai suatu pagi ia terlambat bangun dan melihat puluhan pesan dari atasannya yang belum ia balas. Udara kamar terasa pengap, sisa kopi semalam mengering di meja, dan layar ponselnya masih menampilkan unggahan orang lain yang tampak lebih berhasil darinya.
Perwirasatu.co.id, 25 Juni 2026.
Slamet mengira hidupnya baik baik saja, sampai suatu pagi ia terlambat bangun dan melihat puluhan pesan dari atasannya yang belum ia balas. Udara kamar terasa pengap, sisa kopi semalam mengering di meja, dan layar ponselnya masih menampilkan unggahan orang lain yang tampak lebih berhasil darinya. Ia duduk lama di tepi tempat tidur, mencoba meyakinkan diri bahwa semua masih bisa dikejar nanti. Namun di dalam dadanya, ada rasa gelisah yang tidak bisa ia jelaskan.
Hari itu ia datang ke kantor dengan langkah ragu, berharap semuanya masih bisa diperbaiki. Namun harapan itu runtuh ketika ia dipanggil ke ruangan atasan dan mendengar kalimat yang selama ini ia hindari. Proyek yang seharusnya ia selesaikan dua minggu lalu resmi dialihkan ke orang lain, dan namanya dicatat sebagai pegawai yang tidak dapat diandalkan. Slamet hanya mengangguk, meski pikirannya kosong dan dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang lebih berat dari sekadar kecewa.
Sepulang kerja, ia tidak langsung pulang, melainkan berjalan tanpa arah hingga tiba di sebuah warung kopi kecil di sudut jalan. Tempat itu sederhana, dengan kursi kayu yang berderit setiap kali diduduki dan aroma kopi yang sedikit gosong memenuhi udara. Ia duduk di pojok, membuka laptop, tetapi hanya menatap layar kosong tanpa benar benar bekerja. Di sekelilingnya, suara sendok beradu dengan gelas terdengar berulang, seperti mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
Saat itulah seorang pria tua duduk di hadapannya tanpa banyak suara. Wajahnya tenang, matanya tajam namun tidak menghakimi, dan cara ia menatap membuat Slamet merasa seperti sedang dibaca seluruh hidupnya. Tanpa basa basi, pria itu bertanya pelan, apa yang benar benar sudah kamu selesaikan minggu ini. Pertanyaan itu menggantung di udara, membuat Slamet menelan ludah sebelum mencoba menjawab.
Slamet mengingat satu per satu hal yang ia mulai, dari rencana olahraga, proyek tambahan, hingga ide usaha kecil yang ia banggakan di depan teman temannya. Namun tidak ada satu pun yang benar benar selesai, semuanya berhenti di tengah jalan. Ia merasa wajahnya panas, seperti baru saja menyadari sesuatu yang selama ini sengaja ia abaikan. Pria tua itu tidak berkata apa apa lagi, hanya menatapnya dengan sabar.
Malam itu Slamet pulang dengan langkah lebih berat dari biasanya, tetapi pikirannya justru terasa lebih jernih. Ia membuka catatan lamanya dan melihat daftar panjang rencana yang belum tuntas. Untuk pertama kalinya, ia tidak menambahkan rencana baru, melainkan memilih satu hal kecil yang bisa ia selesaikan malam itu juga. Ia bekerja sampai larut, bukan karena terpaksa, tetapi karena ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Hari hari berikutnya tidak langsung berubah menjadi mudah. Ada pagi ketika ia kembali tergoda membuka media sosial dan merasa hidupnya tertinggal. Ada siang ketika ia hampir menunda pekerjaannya karena merasa lelah dan tidak siap. Namun setiap kali itu terjadi, ia teringat suara pria tua itu yang sederhana namun menusuk.
Perlahan, perubahan kecil mulai terasa. Meja kerjanya tidak lagi penuh dengan catatan yang terbengkalai, melainkan berisi tugas yang sudah selesai satu per satu. Ia mulai pulang dengan perasaan cukup, bukan penuh penyesalan. Bahkan cara ia memandang dirinya sendiri mulai berubah, dari seseorang yang selalu merasa kurang menjadi seseorang yang sedang berproses.
Beberapa minggu kemudian, Slamet kembali ke warung kopi itu dengan niat mencari pria tua yang pernah mengubah cara pandangnya. Ia duduk di kursi yang sama, memesan kopi yang sama, dan menunggu cukup lama. Ketika ia bertanya kepada pemilik warung tentang pria tersebut, lelaki itu hanya mengernyitkan dahi dan mengatakan tidak pernah melihat orang seperti yang Slamet maksud.
Slamet mencoba menjelaskan ciri cirinya, dari wajah hingga cara bicaranya, tetapi jawaban yang ia terima tetap sama. Tidak ada pelanggan tetap seperti itu di warung ini, bahkan kursi yang Slamet tunjuk disebut hampir selalu kosong setiap hari. Suasana mendadak terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang tidak masuk akal sedang terjadi di hadapannya.
Dengan perasaan ganjil, Slamet membuka laptopnya, berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan kebingungannya. Di layar, ia menemukan sebuah dokumen yang tidak ia ingat pernah ia buat sebelumnya. Di dalamnya hanya ada satu kalimat sederhana yang ditulis berulang ulang, memenuhi halaman demi halaman.
Apa yang benar benar sudah kamu selesaikan minggu ini
Tangannya gemetar saat menyentuh keyboard, mencoba mengingat kapan ia menulis kalimat itu. Ia yakin tidak pernah mengetiknya sebanyak itu, apalagi sampai memenuhi begitu banyak halaman. Namun setiap huruf terasa akrab, seperti berasal dari pikirannya sendiri yang selama ini ia abaikan.
Di tengah keheningan warung kopi, Slamet akhirnya menyadari sesuatu yang membuat napasnya tertahan. Pria tua itu tidak pernah datang dari luar, tidak pernah duduk di hadapannya seperti yang ia ingat. Sosok itu muncul dari bagian dirinya yang selama ini ia tekan, suara kecil yang terus ia abaikan setiap kali ia memilih menunda.
Ia menutup laptopnya perlahan, lalu menatap kursi kosong di depannya yang kini terasa berbeda. Bukan lagi tempat seseorang pernah duduk, melainkan ruang yang memantulkan dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut menghadapi suara itu.
Slamet berdiri, meninggalkan warung kopi dengan langkah yang lebih pasti. Kali ini ia tidak membawa rencana besar atau mimpi yang berlebihan. Ia hanya membawa satu keputusan sederhana, menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.
Karena ia akhirnya mengerti, hidupnya tidak pernah benar benar berhenti. Ia sendirilah yang selama ini berjalan menjauh dari jalannya sendiri.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar