Menghargai Nikmat Yang Diperjuangkan

Menghargai Nikmat Yang Diperjuangkan Keterangan Gambar : Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali menilai sesuatu bukan semata karena nilainya, melainkan karena proses yang harus ditempuh untuk meraihnya. Apa yang didapat dengan pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan biasanya terasa lebih berharga. Sebaliknya, sesuatu yang hadir dengan mudah sering kali dianggap biasa, bahkan dilupakan. Karena itulah Islam mengajarkan agar setiap nikmat disyukuri, baik yang diperoleh melalui usaha berat maupun yang datang tanpa diduga.


Perwirasatu.co.id, Selasa 13 Juli 2026

Dalam perjalanan hidup, manusia sering kali menilai sesuatu bukan semata karena nilainya, melainkan karena proses yang harus ditempuh untuk meraihnya. Apa yang didapat dengan pengorbanan, kesabaran, dan perjuangan biasanya terasa lebih berharga. Sebaliknya, sesuatu yang hadir dengan mudah sering kali dianggap biasa, bahkan dilupakan. Karena itulah Islam mengajarkan agar setiap nikmat disyukuri, baik yang diperoleh melalui usaha berat maupun yang datang tanpa diduga.

Ungkapan yang dinukil dalam Tafsir al-Khazin menyentuh salah satu tabiat manusia yang sangat nyata dalam kehidupan sehari hari. Seseorang yang berjuang bertahun tahun membangun usaha akan sangat menjaga dan menghargai usahanya. Seorang penuntut ilmu yang harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan ilmu akan lebih menghormati ilmu tersebut dibandingkan orang yang memperolehnya tanpa kesungguhan. Demikian pula seseorang yang pernah merasakan kesulitan hidup akan lebih menghargai makanan, kesehatan, keamanan, dan kebersamaan dibandingkan mereka yang sejak awal hidup dalam kemudahan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa perjuangan memiliki nilai pendidikan yang besar. Kesulitan bukan sekadar ujian, tetapi juga sarana yang Allah gunakan untuk membentuk jiwa manusia agar lebih matang, lebih bijaksana, dan lebih pandai bersyukur. Ketika seseorang harus bersusah payah untuk memperoleh sesuatu, ia belajar tentang arti kesabaran, ketekunan, pengorbanan, dan penghargaan terhadap nikmat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا﴾

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."

(QS. Al Insyirah: 5–6)

Ayat ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah akhir dari perjalanan. Kesulitan justru menjadi jembatan menuju kemudahan yang lebih bernilai. Kemudahan yang lahir setelah perjuangan biasanya memberikan kesan mendalam dalam hati sehingga lebih mudah disyukuri dan dijaga.

Namun demikian, seorang mukmin juga harus memahami bahwa nilai sebuah nikmat tidak selalu ditentukan oleh berat ringannya usaha manusia. Semua nikmat pada hakikatnya berasal dari Allah. Bahkan kemampuan untuk berusaha pun merupakan karunia dari Allah. Oleh karena itu, nikmat yang datang dengan mudah tidak boleh diremehkan.

Allah berfirman:

﴿وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ﴾

"Dan segala nikmat yang ada pada kalian adalah dari Allah."

(QS. An Nahl: 53)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap nikmat, baik besar maupun kecil, baik yang diperoleh melalui kerja keras maupun yang datang tanpa diduga, semuanya bersumber dari Allah. Udara yang kita hirup, kesehatan yang kita nikmati, keluarga yang mendampingi, serta kesempatan beribadah yang terbuka setiap hari adalah nikmat yang sering kali hadir tanpa kita perjuangkan secara langsung. Karena terlalu mudah didapat, manusia sering melupakannya.

Padahal jika nikmat tersebut dicabut walau sesaat, manusia baru menyadari betapa berharganya karunia itu. Seseorang yang kehilangan kesehatan akan memahami nilai sehat. Orang yang hidup di tengah konflik akan memahami nilai keamanan. Orang yang pernah merasakan kesepian akan memahami nikmatnya memiliki keluarga dan sahabat.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang."

(HR. Al Bukhari)

Hadis ini sangat relevan dengan kenyataan yang kita saksikan setiap hari. Karena kesehatan dan waktu tersedia dengan mudah, banyak orang tidak menghargainya. Mereka baru menyadari nilainya ketika sakit atau ketika usia telah berlalu. Inilah sifat manusia yang disebutkan dalam ungkapan para ulama. Kemudahan sering membuat seseorang lalai, sedangkan kesulitan sering membuat seseorang sadar.

Islam mengajarkan agar manusia tidak menunggu kehilangan sebelum menghargai nikmat. Seorang mukmin dituntut untuk memiliki pandangan yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa setiap karunia adalah amanah yang harus dijaga dan dimanfaatkan untuk kebaikan.

Allah berfirman:

﴿لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ﴾

"Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian."

(QS. Ibrahim: 7)

Syukur bukan hanya ucapan di lisan, tetapi juga pengakuan dalam hati dan penggunaan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Orang yang bersyukur akan menjaga nikmat ilmu dengan mengamalkannya, menjaga nikmat harta dengan menunaikan hak haknya, menjaga nikmat kesehatan dengan menggunakannya untuk ibadah, dan menjaga nikmat waktu dengan mengisinya dengan amal saleh.

Di sisi lain, perjuangan yang berat seharusnya tidak menjadikan seseorang sombong terhadap apa yang diraihnya. Kadang ada orang yang merasa dirinya paling berjasa karena telah bekerja keras. Ia lupa bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada usaha, tetapi juga pada pertolongan Allah. Berapa banyak orang yang telah berusaha keras namun belum memperoleh hasil yang diinginkan. Sebaliknya, ada yang mendapatkan rezeki dari jalan yang tidak pernah disangka.

Allah berfirman:

﴿وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ﴾

"Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah."

(QS. Hud: 88)

Karena itu, ketika memperoleh sesuatu melalui perjuangan panjang, seorang mukmin hendaknya semakin rendah hati. Ia menyadari bahwa Allah yang memberikan kekuatan, kesempatan, dan hasil dari seluruh usahanya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengajarkan pentingnya melihat orang yang berada di bawah kita dalam urusan dunia agar tumbuh rasa syukur. Beliau bersabda:

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian."

(HR. Muslim)

Hadis ini menjadi obat bagi hati yang mudah meremehkan nikmat. Ketika seseorang terus membandingkan dirinya dengan orang yang lebih kaya, lebih sukses, atau lebih beruntung, ia akan merasa bahwa apa yang dimilikinya tidak berarti. Sebaliknya, ketika ia melihat betapa banyak orang yang hidup dalam keterbatasan, ia akan lebih mudah mensyukuri karunia Allah.

Pada akhirnya, kehidupan mengajarkan bahwa nilai suatu nikmat bukan hanya terletak pada cara memperolehnya, tetapi juga pada kesadaran hati dalam menghargainya. Jangan sampai sesuatu yang diperoleh dengan mudah menjadi sebab kelalaian. Jangan pula sesuatu yang diperoleh dengan susah payah menjadi sebab kesombongan. Syukur adalah kunci yang menjaga keduanya tetap berada pada jalan yang benar.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang mampu menghargai setiap nikmat, sekecil apa pun bentuknya, serta mampu mengambil hikmah dari setiap perjuangan yang kita lalui. Dengan demikian, hati kita akan selalu hidup dalam rasa syukur, lisan kita senantiasa memuji Allah, dan seluruh nikmat yang diberikan kepada kita menjadi sarana untuk semakin dekat kepada-Nya. Aamiin.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)