Rektor UII Baca Puisi Dibunderan UGM Pada Acara Kenduri Ibu-ibu Berisik

Rektor UII Baca Puisi Dibunderan UGM Pada Acara Kenduri Ibu-ibu Berisik Keterangan Gambar : Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid, hadir membacakan puisi pada gelaran Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik, belum lama ini di Bundaran UGM.


Perwirasatu.co.id - Jakarta.

Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Fathul Wahid, hadir membacakan puisi pada gelaran Kenduri dan Doa Ibu-ibu Berisik, belum lama ini di Bundaran UGM. 

Fathul membacakan puisi karyanya yang berjudul Tetaplah Bodoh, sebagaimana yang dapat dibaca dibawah ini:

TETAPLAH BODOH

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menuntut kita percaya,

bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,

kebetulan saja sebagian diberi nomor

agar tak tersesat pulang. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mengharuskan kita sepakat

bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau, cukup untuk mengganti nama hutan,

meski akarnya tak lagi sudi menahan air. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar berarti curiga pada suara kritis,

dianggap menggiring opini,

menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna, 

dan empati harus menunggu siaran media. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing

yang tak seberapa itu berbahaya,

bisa meruntuhkan martabat bangsa

yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar mensyaratkan

bantuan bencana dari diaspora

perlu dipajaki dulu,

agar duka ikut menyumbang penerimaan negara. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar berarti setuju

cukup menteri memanggul karung bantuan,

sementara empati dianggap bonus,

tak wajib, apalagi tulus. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menuntut kita percaya

bahwa ribuan korban hanyalah angka,

terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,

hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan. 

Tetaplah bodoh, kawan,

jika pintar menganggap alih hutan ke sawit

adalah keniscayaan,

dan banjir selalu bisa kita titipkan

pada takdir—

agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda. 

Mari, tetap bodoh, kawan.

Sebab di negeri ini,

terlalu sering, yang disebut pintar

justru adalah kelihaian

melawan akal sehat,

menyembunyikan fakta, 

dan memperdayai sesama. 

Kawan, mari, tetap bodoh. 

Sleman, 22 Desember 2025, Fathul Wahid membuat puisi dan membacakannya sendiri, berdasarkan fenomena miris yang diwarnai ironis, saat Indonesia tengah dilanda musibah Nasional di Sumatra sana.

(Red)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)