
Keterangan Gambar : Di antara ribuan orang yang datang ke arena Muktamar NU ke 35, perhatian saya justru tertahan pada seorang kiai sepuh di sebuah gang sempit. Ia berjalan sendirian, memakai sandal sederhana dan songkok yang sedikit miring.
Perwirasatu.co.id, 30 Agustus 2026
Di antara ribuan orang yang datang ke arena Muktamar NU ke 35, perhatian saya justru tertahan pada seorang kiai sepuh di sebuah gang sempit. Ia berjalan sendirian, memakai sandal sederhana dan songkok yang sedikit miring. Tidak ada rombongan, tidak ada kamera, bahkan tidak ada ID card di dadanya. Ketika saya menyapa, jawabannya hanya dua kata: “Dari jauh.”
Saya sebenarnya tidak sedang mencari cerita ketika masuk ke gang itu. Saya hanya ingin menjauh sebentar dari keramaian arena muktamar yang sejak pagi dipenuhi orang berseragam, panitia yang berlari mengejar jadwal, dan kamera yang sibuk mencari wajah yang dianggap penting. Di tengah semua itu, lelaki tua tersebut berjalan sangat pelan, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar waktu.
Jubahnya sederhana, warnanya sudah tidak benar benar putih, sementara sandalnya tampak tipis dan usang pada bagian tumit. Songkok hitamnya agak miring, bahkan seperti kebesaran, dengan bagian depan yang sedikit pudar terkena usia. Ia membawa sebuah tas kain kecil di tangan kiri, tetapi saya tidak melihat tanda pengenal, lambang organisasi, atau kartu peserta apa pun. Anehnya, tidak seorang pun tampak mencarinya.
Saya mendekat ketika beliau berhenti di dekat pagar sebuah rumah. Saya mengangguk dan menyapa dengan sopan, “Dari mana, Yai?” Beliau menoleh, tersenyum, lalu menjawab dengan suara yang sangat pelan, “Dari jauh.” Setelah itu beliau kembali berjalan tanpa memberi penjelasan, seolah jawaban tersebut sudah cukup untuk semua pertanyaan.
Saya sempat ingin mengejar. Namun ada sesuatu pada cara beliau memandang yang membuat niat itu saya urungkan, seperti ada batas kesopanan yang tidak tertulis. Saya hanya mengikuti dari kejauhan sampai beliau memasuki sebuah masjid kecil di ujung gang. Dari balik pintu, saya melihat beliau melepas sandal, merapikannya menghadap keluar, lalu masuk dan memilih tempat paling belakang.
Beliau tidak langsung duduk. Ia mengambil sebuah sajadah yang terlipat di sudut ruangan, membentangkannya, lalu membetulkan ujungnya yang tertekuk. Setelah itu seorang anak kecil masuk sambil berlari dan hampir menginjak sajadah tersebut, tetapi kiai itu hanya tersenyum dan memanggilnya dengan gerakan tangan. Anak itu berhenti, mendekat, lalu mencium tangannya.
Saya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Anak itu kemudian duduk di sampingnya, membuka Al Qur’an kecil, dan mulai membaca dengan suara terbata bata. Sang kiai menyimak tanpa tergesa, sesekali membetulkan bacaan anak itu dengan gerakan bibir yang hampir tidak terdengar. Tidak ada kamera yang merekam, tidak ada orang yang memotret, dan tidak ada tepuk tangan ketika anak tersebut akhirnya berhasil membaca satu ayat dengan benar.
Dari luar masjid, suara kendaraan dan pengeras suara arena muktamar masih terdengar samar. Orang orang datang dan pergi dengan kartu identitas tergantung di dada mereka, sebagian berwarna merah, sebagian biru, sebagian dengan tanda khusus yang menunjukkan jabatan dan akses tertentu. Mereka berjalan cepat karena ada rapat yang harus dihadiri, pertemuan yang harus dikejar, atau seseorang yang harus ditemui.
Kiai itu tetap di sana.
Saya kembali ke arena dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Saya mulai memikirkan berapa banyak orang seperti beliau yang datang ke muktamar tanpa ingin dikenal, bahkan mungkin tanpa dianggap penting oleh siapa pun. Bisa jadi mereka berasal dari desa yang namanya tidak pernah masuk berita, dari masjid kecil yang tidak memiliki akun media sosial, atau dari mushala yang jamaahnya hanya beberapa baris.
Di tempat tempat seperti itulah barangkali NU tumbuh tanpa banyak suara. Seorang kiai menjadi imam subuh ketika orang lain masih tidur, mengajar anak anak mengaji ketika tidak ada kamera, datang ke rumah warga yang sedang berduka, menjadi penengah ketika dua keluarga bertengkar, dan duduk bersama orang miskin tanpa merasa sedang melakukan sesuatu yang luar biasa. Tidak ada laporan kegiatan, tidak ada jumlah penonton, dan tidak ada orang yang menekan tombol suka.
Tetapi jamaah tetap datang.
Saya pernah melihat seorang kiai di sebuah desa yang rumahnya selalu terbuka setelah magrib. Orang datang membawa masalah rumah tangga, utang, anak yang sulit dinasihati, atau sekadar ingin duduk sambil minum teh. Tidak seorang pun datang membawa kartu identitas organisasi, dan kiai itu juga tidak pernah bertanya siapa mereka dalam struktur apa pun. Ia hanya mendengarkan, lalu memberikan nasihat yang kadang sangat sederhana.
Barangkali begitulah sebuah rumah besar sebenarnya berdiri. Bukan hanya karena tiang yang terlihat dari luar, tetapi karena ada bagian bagian yang tersembunyi dan terus menahan beban tanpa pernah disebut. Orang yang menjaga bagian itu mungkin tidak dikenal oleh banyak orang, tetapi ketika mereka berhenti menjaga, barulah kita sadar betapa pentingnya mereka.
Menjelang sore saya kembali melewati gang tersebut. Saya berharap bertemu dengan kiai sepuh tadi, tetapi masjid itu tampak lebih sepi. Saya berdiri di depan pintu dan melihat seorang lelaki tua sedang melipat sajadah. Ketika saya bertanya tentang kiai yang datang siang tadi, ia mengangkat kepala dan memandang saya agak lama.
“Kiai yang mana?” tanyanya.
Saya menjelaskan cirinya. Saya menyebut songkok hitam yang sedikit miring, jubah sederhana, tas kain kecil, dan cara berjalan yang sangat pelan. Saya juga menyebut bahwa beliau sempat duduk bersama seorang anak yang membaca Al Qur’an. Lelaki tua itu tidak segera menjawab, tetapi pandangannya beralih ke dinding sebelah kanan.
Di sana tergantung beberapa foto lama.
Sebagian sudah menguning dan kacanya dipenuhi titik titik kecil akibat usia. Ada foto para pengurus masjid, foto kegiatan pengajian, foto anak anak madrasah, dan beberapa potret ulama yang mungkin tidak lagi dikenal oleh generasi sekarang. Saya mendekat karena salah satu wajah dalam foto paling ujung tiba tiba terasa sangat akrab.
Saya berhenti.
Wajah itu adalah wajah kiai yang saya temui tadi.
Songkoknya memang berbeda karena dalam foto ia terlihat lebih muda, tetapi senyumnya sama. Tatapan matanya sama. Bahkan bentuk telinganya dan garis kecil di sekitar mata sebelah kiri terasa begitu mirip sehingga saya tidak mampu segera mengalihkan pandangan.
Di bawah foto itu tertulis sebuah nama.
Saya membacanya perlahan.
Kemudian saya membaca tahun yang tercantum di bawahnya.
“Beliau pendiri masjid ini,” kata lelaki tua itu. “Dulu mengajar mengaji di sini. Banyak orang datang kepadanya.” Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Beliau sudah lama meninggal.”
Saya menoleh kepadanya.
“Lama bagaimana?”
“Tujuh belas tahun.”
Untuk beberapa saat saya tidak mampu menjawab. Suara kendaraan dari arah arena muktamar terdengar semakin jauh, padahal sebenarnya tidak berubah. Saya kembali melihat foto itu dan mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin ada orang yang sangat mirip, bahwa mungkin saya salah melihat, atau mungkin ingatan saya sedang mempermainkan saya karena sejak awal saya terlalu terkesan oleh sosok tersebut.
Namun ada satu hal yang membuat saya tidak tenang.
Foto itu memperlihatkan tas kain kecil yang sama.
Saya mendekatkan wajah ke kaca. Di tangan sang kiai dalam foto tersebut tergantung tas kain sederhana dengan jahitan yang tidak rapi pada bagian sudutnya. Tas yang saya lihat siang tadi juga memiliki jahitan yang sama, bahkan sobekan kecil berbentuk seperti huruf V di dekat tali.
Saya mundur selangkah.
Lelaki tua itu masih berdiri di belakang saya.
“Banyak yang datang ke sini karena beliau,” katanya. “Ada yang membawa masalah, ada yang membawa anaknya mengaji, ada juga yang hanya ingin meminta doa. Setelah beliau meninggal, masjid ini tetap ramai. Orang orang bilang mungkin karena doa beliau masih panjang.”
Saya tidak menjawab.
Malam mulai turun ketika saya keluar dari masjid. Saya berjalan kembali menuju arena muktamar dengan langkah yang lebih lambat daripada ketika datang. Ribuan orang masih bergerak di antara lampu, spanduk, panggung, dan pintu masuk yang dijaga panitia. Kartu identitas tergantung di dada hampir setiap orang, menjadi tanda siapa yang boleh masuk ke ruang tertentu dan siapa yang harus berhenti di luar.
Saya tiba tiba merasa bahwa kartu itu tidak lagi sesederhana sebuah kartu.
Ia memang diperlukan untuk sebuah muktamar. Ia membantu orang mengenali peserta, membedakan tugas, menjaga ketertiban, dan memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi saya teringat pada lelaki tua di masjid yang tidak memiliki satu pun tanda pengenal, sementara seorang anak kecil dapat mengenalinya hanya dengan melihat wajah dan mencium tangannya.
Malam itu saya tidur dengan pertanyaan yang tidak kunjung selesai.
Pagi berikutnya saya kembali ke gang tersebut sebelum meninggalkan kota. Masjid itu masih tertutup. Hanya ada seorang penjaga yang sedang menyapu halaman. Saya bertanya apakah kiai sepuh yang saya temui kemarin datang lagi.
Ia tertawa kecil.
“Tidak ada kiai datang kemarin, Pak.”
Saya merasa salah dengar.
“Bagaimana mungkin? Saya melihat beliau masuk ke masjid ini.”
Penjaga itu berhenti menyapu. Ia menatap saya, lalu memandang ke pintu masjid. “Semalam saya yang menjaga sampai setelah isya. Tidak ada siapa siapa di dalam kecuali saya.”
Saya tidak tahu harus berkata apa.
Sebelum pergi, saya kembali menoleh ke dalam masjid. Sajadah yang kemarin dibentangkan oleh kiai itu masih berada di sudut. Di atasnya ada Al Qur’an kecil milik anak yang saya lihat bersamanya. Saya mendekat dan membuka halaman terakhir yang terbaca.
Di pinggir halaman terdapat tulisan tangan dengan tinta yang sudah memudar.
Saya tidak mengenal tulisan itu.
Tetapi kalimatnya membuat dada saya sesak.
“Jangan sibuk mencari siapa yang paling terlihat. Carilah siapa yang paling lama menjaga jamaah.”
Saya menutup Al Qur’an perlahan.
Ketika keluar dari masjid, matahari sudah naik. Di samping pintu saya melihat sepasang sandal tua terletak rapi, menghadap ke halaman. Sandal itu persis seperti yang dipakai kiai sepuh kemarin. Saya bertanya kepada penjaga masjid siapa pemiliknya, tetapi ia hanya menggeleng.
“Tidak ada yang tahu,” katanya.
Saya memandang sandal itu sekali lagi.
Kemudian saya teringat jawaban yang diberikan kiai sepuh ketika pertama kali saya menyapanya.
Dari jauh.
Sejak hari itu, setiap kali menghadiri sebuah pertemuan, saya tidak lagi hanya memperhatikan siapa yang memakai kartu paling mencolok. Saya juga memperhatikan siapa yang datang paling awal, siapa yang duduk paling belakang, siapa yang pulang tanpa dicari, dan siapa yang tidak pernah menyebut jasanya sendiri. Sebab mungkin ada orang orang yang tidak membutuhkan ID card untuk dikenali, karena nama mereka sudah lama dikenal oleh orang orang yang pernah mereka layani.
Dan mungkin, di tengah ribuan kartu yang tergantung di dada para peserta muktamar, ada satu orang yang tidak membutuhkan kartu sama sekali. Sebab rumah yang ia jaga sudah mengenalinya.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY