
Keterangan Gambar : Ketua DPW PW MOI Jawa Barat, menyikapi beredarnya video dan pemberitaan mengenai seorang wartawan yang terlihat terlibat adu emosi saat berada di sebuah sekolah di Kabupaten Sukabumi.
Perwirasatu.co.id, Sukabumi - Etika dan sopan santun merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas jurnalistik, selain kemampuan dan keterampilan dalam menggali serta menyajikan informasi. Wartawan tidak hanya dituntut mampu mendapatkan berita, tetapi juga menjaga sikap dan marwah profesinya saat berada di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua DPW PW MOI Jawa Barat, R. Satria Santika, yang mengingatkan seluruh wartawan, khususnya yang berada di bawah naungan PW MOI Jawa Barat, agar senantiasa mengedepankan etika, komunikasi yang baik, serta sikap profesional ketika menjalankan tugas di lapangan.
Pernyataan tersebut disampaikan Bro Tommy, sapaan akrab Ketua DPW PW MOI Jawa Barat, menyikapi beredarnya video dan pemberitaan mengenai seorang wartawan yang terlihat terlibat adu emosi saat berada di sebuah sekolah di Kabupaten Sukabumi.
Menurutnya, persoalan yang menjadi latar belakang peristiwa tersebut tentu perlu dilihat secara utuh. Namun demikian, dalam menjalankan profesi jurnalistik, setiap wartawan tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap dan cara berkomunikasi.
"Kita lihat videonya, dia marah-marah terhadap guru," ujar Tommy. Senin (31/8/2026).
Bro Tommy menilai, apa pun persoalan yang terjadi, penyampaian keberatan sebaiknya tetap dilakukan dengan cara yang santun dan proporsional. Menurutnya, profesi wartawan memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan publik.
"Terlepas apa pun masalahnya, seharusnya tidak meluapkan emosi dengan sikap atau gaya yang terkesan arogan. Jujur saya sebagai pengurus organisasi wartawan dan pengelola media merasa prihatin melihat kejadian seperti itu," katanya.
Ia menambahkan, persoalan yang berkaitan dengan pekerjaan maupun kepentingan media, termasuk urusan kerja sama atau langganan media, semestinya dapat diselesaikan melalui komunikasi dan dialog yang baik.
"Kalau memang ada persoalan atau merasa kecewa karena suatu urusan, misalnya langganan koran belum dibayar, ya jangan diselesaikan dengan cara seperti itu. Komunikasikan dengan baik, karena kita membawa nama profesi," ujarnya.
Meski demikian, Tommy menegaskan bahwa pernyataannya bukan untuk menghakimi atau mempermalukan individu tertentu. Ia justru berharap peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi bersama bagi insan pers agar semakin memahami pentingnya keseimbangan antara keberanian menjalankan tugas jurnalistik dan kemampuan menjaga etika.
Di sisi lain, Tommy meminta masyarakat agar tidak menjadikan satu peristiwa tersebut sebagai alasan untuk mendiskreditkan profesi wartawan secara keseluruhan. Menurutnya, tindakan seorang oknum tidak dapat dijadikan gambaran terhadap seluruh insan pers yang menjalankan tugas secara profesional.
"Jangan karena ada satu oknum kemudian semua wartawan didiskreditkan. Yang namanya oknum itu ada di mana-mana. Di setiap profesi, di setiap kedudukan, pasti ada saja oknumnya," tegas Tommy.
Menurutnya, masih banyak wartawan yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, berpegang pada kode etik jurnalistik, serta berupaya memberikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, masyarakat juga diharapkan dapat membedakan antara perilaku individu dengan profesi secara keseluruhan.
Menurut Tommy, wartawan memiliki ruang untuk bersikap kritis, mempertanyakan, bahkan melakukan kontrol sosial. Namun, sikap kritis tidak harus diwujudkan melalui kemarahan atau tindakan yang dapat menimbulkan kesan tidak profesional.
Pada akhirnya, peristiwa tersebut hendaknya menjadi pengingat bagi semua pihak untuk sama-sama melakukan introspeksi. Wartawan perlu menjaga etika dan kehormatan profesinya, sementara masyarakat maupun pihak yang berhadapan dengan wartawan juga diharapkan tetap menghormati tugas jurnalistik. Sebab, satu perilaku tidak semestinya menjadi ukuran bagi seluruh profesi, dan satu profesi pun tidak boleh kehilangan kehormatannya hanya karena ulah segelintir oknum. Dengan saling menghargai dan mengedepankan komunikasi yang baik, kepentingan publik dan kebenaran informasi tetap dapat menjadi tujuan bersama.
(Tim)

















LEAVE A REPLY