Mematikan Aplikasi Demi Menjemput Cahaya
Keterangan Gambar : Pukul sembilan pagi menjadi waktu yang tidak biasa bagi puluhan pengemudi ojek online di Yogyakarta. Ketika sebagian besar rekan mereka masih berburu notifikasi pesanan, mereka justru menekan tombol offline, memarkir kendaraan, lalu melangkah menuju Rumah Quran IQC di kawasan Bausasran. Selama dua jam, telepon genggam yang biasanya menjadi sumber penghasilan dibiarkan tanpa aktivitas. Mereka memilih duduk bersila, membuka Iqra atau Al-Qur'an, dan memulai perjalanan yang selama bertahun tahun sempat tertunda.
Perwirasatu.co.id, Senin 20 Juli 2026
Pukul sembilan pagi menjadi waktu yang tidak biasa bagi puluhan pengemudi ojek online di Yogyakarta. Ketika sebagian besar rekan mereka masih berburu notifikasi pesanan, mereka justru menekan tombol offline, memarkir kendaraan, lalu melangkah menuju Rumah Quran IQC di kawasan Bausasran. Selama dua jam, telepon genggam yang biasanya menjadi sumber penghasilan dibiarkan tanpa aktivitas. Mereka memilih duduk bersila, membuka Iqra atau Al-Qur'an, dan memulai perjalanan yang selama bertahun tahun sempat tertunda. Di balik keputusan sederhana itu tersimpan kisah tentang keberanian mengalahkan rasa malu, menata kembali prioritas hidup, serta membuktikan bahwa mencari nafkah dan menuntut ilmu agama bukanlah dua pilihan yang saling meniadakan.
Bagi sebagian orang, dua jam mungkin terasa singkat. Namun, bagi pengemudi ojek online, dua jam pada pagi hari merupakan salah satu waktu yang bernilai secara ekonomi. Pada rentang waktu tersebut, permintaan perjalanan menuju kantor, sekolah, pasar, maupun pusat aktivitas masyarakat biasanya cukup tinggi. Setiap notifikasi yang muncul berpotensi menjadi tambahan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, keputusan mematikan aplikasi bukan sekadar persoalan mengurangi jam kerja, melainkan kesediaan mengorbankan sebagian rezeki yang mungkin sudah berada di depan mata demi memperoleh bekal yang diyakini memiliki nilai lebih panjang daripada keuntungan materi.
Pilihan itu lahir bukan dari kehidupan yang serba berkecukupan. Sebagian besar peserta tetap bergelut dengan kerasnya persaingan ekonomi digital yang menuntut mereka bekerja lebih lama agar memperoleh pendapatan yang memadai. Tarif perjalanan yang berubah, persaingan antarpengemudi, biaya operasional kendaraan, hingga kebutuhan keluarga menjadi kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Di tengah tekanan tersebut, menyisihkan waktu khusus untuk belajar agama merupakan keputusan yang memerlukan komitmen, kedisiplinan, dan keberanian yang tidak sedikit.
Majelis Ojol Mengaji yang mulai berjalan pada tahun 2023 muncul dari persoalan yang sering luput dari perhatian masyarakat. Ternyata masih banyak orang dewasa yang belum lancar membaca Al-Qur'an, bahkan ada yang belum mengenal huruf hijaiyah secara utuh. Mereka sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk belajar, tetapi rasa malu sering kali lebih besar daripada keberanian untuk memulai. Kekhawatiran dianggap terlambat belajar, takut menjadi bahan pembicaraan, atau merasa rendah diri ketika harus duduk bersama anak anak menjadi penghalang yang tidak mudah diatasi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi Al-Qur'an pada orang dewasa bukan semata persoalan kemampuan membaca, melainkan juga persoalan psikologis dan sosial. Tidak sedikit masyarakat yang tanpa sadar membangun anggapan bahwa seseorang yang telah berusia matang seharusnya sudah mampu membaca Al-Qur'an dengan baik. Akibatnya, mereka yang belum mampu memilih menyembunyikan kekurangan itu daripada mencari jalan untuk memperbaikinya. Budaya saling menghakimi inilah yang perlahan membentuk tembok penghalang bagi lahirnya semangat belajar sepanjang hayat.
Rumah Quran IQC kemudian mencoba memecahkan persoalan tersebut melalui pendekatan yang lebih manusiawi. Para peserta tidak diposisikan sebagai orang yang gagal belajar pada masa lalu, melainkan sebagai pembelajar yang sedang memulai langkah baru. Tidak ada cibiran ketika seseorang masih terbata bata membaca huruf demi huruf. Tidak ada perlombaan siapa yang paling cepat menyelesaikan Iqra. Yang tumbuh justru suasana saling mendukung agar setiap peserta berani berkembang sesuai kemampuan masing masing.
Pendekatan semacam ini menjadi pelajaran penting bagi berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Selama ini, sebagian masyarakat masih menganggap pendidikan agama identik dengan proses menghafal atau mengejar target bacaan. Padahal, bagi orang dewasa, rasa aman secara psikologis sering kali lebih menentukan daripada metode pembelajaran itu sendiri. Ketika seseorang merasa diterima tanpa dihakimi, kepercayaan dirinya akan tumbuh, dan proses belajar berlangsung secara lebih alami.
Di ruang belajar yang sederhana itu, usia tidak lagi menjadi pembatas. Peserta yang baru mengenal huruf hijaiyah dapat duduk berdampingan dengan mereka yang telah mampu membaca Al-Qur'an. Ada yang berusia di bawah tiga puluh tahun, ada pula yang telah melewati usia tujuh puluh tahun. Perbedaan latar belakang pendidikan, pekerjaan, maupun pengalaman hidup melebur dalam satu tujuan yang sama, yaitu memperbaiki bacaan Al-Qur'an sedikit demi sedikit. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa semangat belajar sesungguhnya tidak pernah dibatasi oleh umur, melainkan oleh kemauan untuk memulai.
Keberadaan para ustaz yang mendampingi setiap peserta secara bertahap juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Mereka tidak memaksakan target yang sama kepada seluruh peserta, tetapi menyesuaikan proses belajar dengan kemampuan masing masing. Pendekatan individual seperti ini mencerminkan prinsip pendidikan yang menghargai keberagaman kemampuan belajar. Setiap kemajuan sekecil apa pun dipandang sebagai keberhasilan yang patut diapresiasi, bukan dibandingkan dengan pencapaian peserta lain.
Di tengah berkembangnya ekonomi digital yang sering menuntut kecepatan, efisiensi, dan produktivitas, Majelis Ojol Mengaji menghadirkan cara pandang yang berbeda. Program ini mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar pelaku ekonomi yang terus mengejar pendapatan. Mereka juga memiliki kebutuhan intelektual, emosional, dan spiritual yang sama pentingnya. Keseimbangan inilah yang perlahan dibangun oleh para pengemudi tersebut melalui keputusan sederhana mematikan aplikasi selama dua jam setiap hari Rabu pagi.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat
Tulis Komentar