Ramadan Menemukan Aku yang Hilang
Keterangan Gambar : Ramadan datang seperti jeda yang memaksa. Dalam sunyi sahur, tarawih, dan doa yang pelan, aku mulai sadar ketenangan tidak pernah benar benar pergi. Ia hanya tertutup oleh kebisingan yang sengaja kuciptakan sendiri.
Pereirasatu.co.id - Minggu 1/3/2026.
Ketika hidup terasa penuh tetapi hati tetap kosong, aku mulai mencari kejelasan ke mana mana. Pada orang, pada distraksi, pada kesuksesan. Namun Ramadan datang seperti jeda yang memaksa. Dalam sunyi sahur, tarawih, dan doa yang pelan, aku mulai sadar ketenangan tidak pernah benar benar pergi. Ia hanya tertutup oleh kebisingan yang sengaja kuciptakan sendiri.
Aku dulu percaya kejelasan adalah sesuatu yang harus ditemukan.
Seperti kunci yang jatuh, seperti jawaban yang tercecer, seperti peta yang hilang di tengah perjalanan.
Aku mencarinya di mana mana.
Pada orang.
Pada distraksi.
Pada kesuksesan.
Dan aku mencarinya dengan cara yang paling melelahkan, berlari.
Aku berlari dari satu pertemanan ke pertemanan lain, berharap ada kalimat yang bisa menyelamatkanku dari keraguan. Aku menempel pada obrolan, pada tawa, pada ajakan nongkrong, pada pesan masuk yang membuat layar ponselku menyala. Aku selalu merasa tenang ketika ada yang membalas cepat, ketika ada yang memanggil namaku, ketika ada yang bertanya kabar.
Karena saat tidak ada siapa siapa, kepalaku berubah menjadi ruang kosong yang bising.
Aku tidak pernah benar benar sendiri, tetapi selalu merasa sendirian.
Aku juga mencarinya pada distraksi.
Aku menenggelamkan diriku pada video pendek yang tidak pernah selesai, pada musik yang diputar keras agar suara dalam dadaku tidak terdengar, pada perjalanan tanpa tujuan, pada kopi yang rasanya selalu sama namun tetap kuminum seolah itu obat.
Ketika malam datang, aku menggulung tubuh di kasur, memeluk ponsel seperti pelampung. Aku takut jika aku berhenti, aku akan mendengar sesuatu yang tidak siap kudengar.
Aku takut pada pikiranku sendiri.
Aku takut pada pertanyaan yang selama ini kutunda.
Lalu aku mencarinya pada kesuksesan.
Kesuksesan adalah kata yang selalu terdengar seperti pintu.
Aku mengejarnya dengan cara yang nyaris kejam. Aku bangun lebih pagi dari orang lain, bekerja lebih keras, menuntut diriku lebih tajam. Aku memasang target target yang tinggi, menulis daftar daftar yang panjang, mengejar angka angka, mengejar validasi, mengejar pengakuan.
Aku selalu berkata pada diriku sendiri, kalau aku sudah sampai, aku akan tenang.
Kalau aku sudah punya cukup uang, aku akan bahagia.
Kalau aku sudah punya posisi, aku akan damai.
Kalau aku sudah dianggap hebat, aku tidak akan gelisah.
Namun setiap kali satu target tercapai, ketenangan itu hanya datang seperti tamu singgah. Sebentar saja. Lalu pergi lagi.
Yang tersisa hanyalah rasa kosong yang lebih dalam, seolah setiap pencapaian justru memperlebar lubang yang tidak bisa ditutup oleh apa pun.
Sampai suatu sore, Ramadan datang.
Tidak ada ledakan. Tidak ada perayaan. Tidak ada kejutan.
Ramadan datang seperti angin yang pelan, tetapi memindahkan seluruh isi ruangan tanpa memecahkan apa pun.
Aku ingat hari itu.
Langit senja terlihat biasa, jalanan masih macet, toko toko masih ramai, orang orang masih bergegas. Tetapi tiba tiba ada suara azan Maghrib yang terdengar lebih jelas dari biasanya. Suara itu menembus kaca mobil, menembus musik, menembus pikiranku yang kacau.
Aku menepi.
Aku tidak tahu mengapa aku menepi. Tanganku bergerak sendiri mematikan mesin. Aku duduk dalam diam, menatap lurus ke depan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa lelah yang jujur.
Bukan lelah karena pekerjaan.
Bukan lelah karena kurang tidur.
Tetapi lelah karena terlalu lama melarikan diri.
Malam pertama tarawih, aku memutuskan pergi ke masjid.
Aku tidak memberi tahu siapa pun. Aku tidak membuat status. Aku tidak mengabari teman. Aku hanya berjalan pelan, membawa sajadah kecil, melangkah di antara lampu lampu jalan yang mulai menyala.
Masjid itu tidak besar, tetapi penuh. Ada anak kecil berlari kecil di teras, ada bapak bapak yang tertawa pelan, ada ibu ibu yang membawa kantong plastik berisi takjil, ada remaja yang duduk bersandar pada pilar menunggu iqamah.
Aku masuk. Aku berdiri di barisan belakang.
Aku mendengar imam membaca ayat ayat yang selama ini hanya kudengar sebagai suara, bukan sebagai makna.
Malam itu berbeda. Seperti ada sesuatu yang mengetuk dari dalam. Aku tidak menangis, tetapi dadaku terasa berat. Aku merasa seperti seseorang yang pulang setelah bertahun tahun pergi, lalu berdiri di depan rumahnya sendiri, bingung kenapa rumah itu masih ada.
Tarawih selesai. Orang orang bersalaman, saling mendoakan. Aku keluar, berjalan pelan menuju tempat wudu. Air dingin membasuh tanganku, wajahku, kepalaku.
Aku menatap cermin kecil di sudut masjid.
Aku melihat wajahku sendiri. Wajah yang tampak baik baik saja di luar, tetapi di dalamnya penuh retak yang tidak terlihat orang.
Aku pulang malam itu dengan langkah berbeda. Tidak lebih ringan. Tidak juga lebih berat. Hanya berbeda. Seolah aku baru sadar bahwa aku sudah terlalu lama menipu diriku sendiri.
Hari hari berikutnya, Ramadan mengubah ritmeku.
Aku bangun untuk sahur meski tubuhku ingin tetap tidur. Aku menahan lapar bukan karena diet, bukan karena gaya hidup, tetapi karena ada perintah yang membuatku belajar menahan diri.
Di siang hari, aku bekerja seperti biasa, tetapi ada ruang kosong yang mulai terbuka di antara kesibukan. Ruang kosong yang dulu kutakuti. Sekarang ruang itu mulai terasa seperti tempat bernapas.
Aku mulai mengurangi distraksi. Aku mulai mematikan ponsel lebih sering. Aku mulai duduk tanpa musik. Aku mulai mendengar suara jam di dinding. Aku mulai mendengar langkah kakiku sendiri.
Aku mulai mendengar pikiranku sendiri.
Dan anehnya, aku tidak hancur. Aku justru mulai memahami sesuatu.
Bahwa selama ini aku mencari kejelasan di luar diriku karena aku tidak berani masuk ke dalam. Aku takut melihat luka luka lama yang belum selesai. Aku takut bertemu diriku yang sebenarnya. Aku takut mengakui bahwa aku tidak sekuat yang kutampilkan.
Pada suatu malam, aku duduk sendirian setelah tarawih. Masjid sudah sepi. Lampu lampu mulai diredupkan. Aku duduk di pojok, memegang tasbih kecil yang diberikan seorang kakek tanpa banyak bicara.
Tanganku bergerak pelan, menyebut nama Tuhan dengan suara hampir tak terdengar.
Aku tidak sedang berharap keajaiban. Aku hanya ingin tenang.
Tetapi ketenangan itu tidak datang sebagai ledakan besar. Ia datang sebagai rasa hangat yang halus, seperti selimut yang tiba tiba menutupi tubuh tanpa kusadari.
Aku menutup mata. Aku menarik napas panjang. Aku menghembuskan pelan. Dan di dalam napas itu, aku merasa seolah ada pintu yang terbuka.
Bukan pintu menuju dunia.
Melainkan pintu menuju diriku sendiri.
Aku pulang dengan kepala lebih jernih.
Di rumah, aku membuka laptop dan melihat daftar target yang dulu membuatku merasa hidup. Aku menatap angka angka, rencana rencana, jadwal jadwal. Aku tidak membencinya, tetapi aku sadar, itu semua bukanlah sumber ketenanganku.
Itu hanya alat.
Aku lalu membuka catatan kecil, menulis sesuatu yang sederhana.
Ketenangan tidak pernah berada di luar diriku.
Aku menatap kalimat itu lama, seolah aku baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada di depan mata.
Hari hari Ramadan berjalan cepat. Setiap iftar terasa seperti hadiah kecil. Setiap sahur terasa seperti latihan. Setiap sujud terasa seperti pulang.
Aku mulai tersenyum lebih sering, bukan karena hidupku tiba tiba sempurna, tetapi karena aku tidak lagi memaksa hidupku terlihat sempurna.
Aku mulai menerima bahwa aku boleh lelah. Aku mulai menerima bahwa aku boleh gagal. Aku mulai menerima bahwa aku boleh bingung.
Karena ternyata, kejelasan tidak selalu berarti semua jawaban tersedia. Kadang, kejelasan adalah kemampuan untuk tetap tenang meski jawaban belum datang.
Malam ganjil datang.
Masjid malam itu terasa lebih hening dari biasanya. Orang orang berdoa lebih lama. Suara imam lebih bergetar. Udara seperti dipenuhi sesuatu yang tidak terlihat.
Aku ikut larut.
Aku berdoa dalam diam. Aku meminta ampunan. Aku meminta petunjuk. Aku meminta ketenangan. Aku meminta agar Tuhan menghapus kebisingan dalam kepalaku.
Aku pulang larut.
Di jalan, aku melihat lampu kota seperti bintang bintang yang jatuh ke bumi. Aku merasa damai, seolah semua pencarian yang selama ini kulakukan akhirnya menemukan arah.
Aku masuk rumah, menutup pintu pelan, meletakkan kunci di meja.
Lalu aku berhenti.
Karena di ruang tamu, ada seseorang duduk.
Seorang lelaki tua. Ia memakai pakaian putih sederhana. Wajahnya teduh. Matanya dalam.
Aku membeku.
Aku yakin aku mengunci pintu. Aku yakin aku tinggal sendiri.
Aku ingin berteriak, tetapi suaraku hilang.
Lelaki itu menatapku lama, lalu tersenyum kecil.
Akhirnya kamu pulang, katanya pelan.
Aku menelan ludah.
Siapa Anda, suaraku gemetar.
Lelaki itu tidak menjawab langsung. Ia hanya menunjuk ke arah cermin besar di dinding ruang tamu.
Aku menoleh.
Dan jantungku seperti berhenti.
Di dalam cermin itu, tidak ada bayanganku. Yang ada hanya bayangan lelaki tua itu.
Aku menatap lagi ke arah kursi. Lelaki tua itu masih duduk.
Aku menatap cermin lagi. Bayanganku tetap tidak ada.
Keringat dingin mengalir di pelipisku.
Apa ini, bisikku.
Lelaki tua itu menunduk sebentar, lalu berkata dengan suara yang membuat seluruh tubuhku bergetar.
Kamu mencari kejelasan di mana mana. Pada orang. Pada distraksi. Pada kesuksesan.
Ia mengangkat wajahnya. Matanya seperti menembus tulang.
Padahal sejak awal, kamu tidak pernah benar benar hidup di luar dirimu.
Aku mundur satu langkah. Kakiku lemas.
Aku mencoba mengingat. Aku mencoba menolak.
Namun tiba tiba, fragmen fragmen datang seperti banjir.
Suara rem panjang. Tubuhku terhempas. Lampu ambulans. Rasa dingin. Gelap.
Aku teringat, tetapi selama ini aku menolaknya.
Aku menatap lelaki tua itu dengan napas terputus.
Jadi aku,
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
Kamu sudah pergi sejak lama.
Aku jatuh terduduk. Dunia terasa sunyi.
Namun anehnya, aku tidak takut. Aku tidak panik. Aku justru merasa ringan. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti berlari.
Lelaki tua itu berdiri, berjalan mendekat, lalu menepuk bahuku dengan lembut.
Ramadan datang untuk mengingatkanmu, katanya.
Ketenangan tidak pernah berada di luar dirimu.
Mataku basah.
Kalau begitu, apa yang harus kulakukan.
Lelaki tua itu tersenyum. Ia menunjuk dadaku.
Masuklah. Dan berdamailah.
Lampu ruang tamu tiba tiba meredup. Suara kota menghilang.
Aku merasa tubuhku seperti diselimuti cahaya yang hangat.
Dan saat aku menutup mata, aku sadar sesuatu yang mengejutkan. Sesuatu yang membuatku tersenyum dalam gelap.
Aku tidak sedang mati.
Aku sedang pulang.
( Red )
Sumber: Dwi Taufan Hidayat.
Tulis Komentar