
Keterangan Gambar : Cerpen: MEJA KECIL YANG MENYIMPAN SEBUAH UJIAN
Perwirasatu.co.id , Jakarta - “Meja untuk empat orang, Mas. Kami cuma sebentar.”
Perempuan itu mengucapkannya sambil meletakkan tiga tas besar di atas kursi yang baru saja saya lap. Di belakangnya ada dua perempuan lain yang membawa kotak produk perawatan wajah, cermin kecil, dan beberapa lembar katalog. Saya menunjuk meja di sudut ruangan, lalu mempersilakan mereka menggunakan toilet jika memang diperlukan. Saat itu saya belum tahu bahwa permintaan sederhana tersebut akan mengubah cara saya memandang sebuah kedai kecil yang selama ini saya bangun dengan susah payah.
Pagi itu kedai belum terlalu ramai. Dua pelanggan duduk dekat jendela dengan laptop terbuka, sementara seorang mahasiswa menikmati minumannya sendirian di meja paling belakang. Saya sedang memeriksa stok biji kopi ketika perempuan tadi menghampiri kasir dan mengatakan mereka hendak memperkenalkan produk facial kepada beberapa calon pelanggan. Ia berjanji hanya menggunakan meja untuk waktu singkat dan tidak akan mengganggu siapa pun. Saya mengangguk karena tidak melihat alasan untuk menolak.
Sepuluh menit berlalu tanpa satu pun pesanan. Mereka membuka tas, menata botol kecil, menyiapkan cermin, lalu mulai membicarakan produk dengan suara yang semakin terdengar ke seluruh ruangan. Saya masih membiarkannya karena mengira mereka sedang menunggu calon pelanggan. Lagi pula, kami tidak pernah menerapkan aturan bahwa setiap orang yang masuk harus langsung membeli minuman. Bagi saya, keramahan adalah bagian dari cara kami memperlakukan orang.
Lalu enam orang datang hampir bersamaan. Perempuan itu menoleh kepada saya dan meminta dua meja digabung karena teman temannya ternyata lebih banyak daripada yang ia perkirakan. Saya sempat melihat ruangan yang mulai terisi, tetapi akhirnya menggeser meja bersama barista. “Terima kasih, Mas,” katanya ringan, lalu kembali duduk tanpa menanyakan menu. Setelah itu, kedai kami perlahan berubah menjadi tempat pertemuan kelompok mereka.
Mereka membuka katalog, membicarakan harga, mencatat nama calon pembeli, dan beberapa kali menggunakan toilet untuk mencuci wajah. Tidak ada yang salah dengan menjual produk, tetapi kegiatan itu jelas berbeda dari aktivitas pelanggan yang datang untuk menikmati kedai. Saya beberapa kali melirik jam dinding. Dua puluh menit telah berlalu dan hanya satu orang yang memesan air mineral. Saya mulai berpikir bahwa keramahan kami sedang diuji oleh sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam aturan kedai.
Akhirnya saya mendatangi meja mereka. “Ada yang ingin pesan minuman?” saya bertanya dengan senyum yang sengaja saya pertahankan. Dua orang langsung memesan kopi, seorang perempuan meminta air mineral, sementara beberapa lainnya mengatakan tidak minum kopi, tidak minum teh, atau memang sedang tidak ingin minum. Saya mengangguk dan mencatat pesanan tanpa memperdebatkan alasan mereka. Yang saya pikirkan bukan lagi siapa yang membeli, melainkan berapa lama meja terbesar kami akan digunakan.
Belum sempat saya kembali ke kasir, perempuan yang pertama datang itu menerima telepon. Ia berbicara cukup lama, lalu mengajak beberapa temannya datang ke kedai. Saya sempat mengira hanya satu atau dua orang yang akan menyusul. Ternyata hampir setiap beberapa menit ada orang baru masuk, menyapa kelompok mereka, kemudian langsung mencari kursi kosong. Dalam waktu singkat, meja yang semula disediakan untuk empat orang telah menjadi pusat kerumunan.
Kedai kami tidak besar. Karena itu, setiap kursi memiliki arti, terutama pada jam ketika pelanggan mulai berdatangan. Seorang laki laki yang membawa laptop berdiri di dekat pintu dan melihat sekeliling sebelum akhirnya pergi. Seorang perempuan yang hendak memesan hanya tersenyum kepada saya dan berkata, “Penuh ya, Mas,” lalu keluar. Saya melihat layar kasir yang tetap sepi sementara meja terbesar kami penuh oleh orang yang sebagian besar tidak memesan apa pun.
“Kalau mau order boleh, kalau enggak mau order juga enggak apa apa,” kata perempuan itu kepada teman temannya.
Saya mendengarnya dengan jelas.
Tangan saya berhenti di atas gelas yang sedang saya lap. Untuk sesaat saya ingin menghampirinya dan mengatakan bahwa kedai ini bukan ruang pertemuan gratis. Namun saya menahan diri. Saya tahu kemarahan pemilik usaha tidak selalu menghasilkan keputusan yang baik. Bisa jadi saya benar secara prinsip, tetapi salah dalam cara menyampaikannya.
Saya kembali ke mesin kopi. Barista yang berdiri di samping saya berbisik, “Kita tegur saja, Mas?”
Saya menggeleng. “Tunggu sebentar.”
Ia menghela napas dan kembali bekerja.
Beberapa menit kemudian perempuan itu justru mengeluhkan ukuran kedai kami. Menurutnya, papan nama terlalu kecil dan ruangan terlalu sempit untuk kelompok sebesar mereka. Saya menoleh kepadanya dan tersenyum tipis. Ada sesuatu yang lucu sekaligus menyakitkan dalam keluhan itu. Mereka datang dengan jumlah orang yang jauh lebih banyak daripada yang dijanjikan, menggunakan meja terbesar, kemudian mengeluhkan karena kedai kami tidak cukup luas untuk menampung mereka.
Saya hampir menjawab, tetapi seorang pelanggan lain lebih dulu datang ke kasir. Ia seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun yang membawa tas belanja. “Masih ada tempat duduk?” tanyanya.
Saya melihat ke seluruh ruangan. Tidak ada.
“Maaf, Bu. Saat ini penuh.”
Ia menoleh ke meja kelompok tersebut, lalu tersenyum kecil. “Oh, tidak apa apa.”
Ia pergi.
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada teguran apa pun. Saya mulai menyadari bahwa persoalannya bukan lagi tentang apakah kelompok tersebut membeli minuman. Mereka telah menggunakan ruang yang seharusnya menjadi bagian dari pengalaman pelanggan lain. Untuk pertama kalinya pagi itu saya merasa bahwa diam juga bisa menjadi bentuk ketidakadilan.
Saya menghampiri perempuan tadi.
“Bu, boleh saya sampaikan sedikit?”
Ia menatap saya sambil tersenyum.
“Silakan, Mas.”
“Kami senang menerima Ibu dan teman teman. Tapi kedai kami kecil. Kalau kegiatan ini masih berlangsung cukup lama, kami perlu menjaga supaya pelanggan lain tetap punya akses ke meja dan jalan.”
Wajahnya berubah sedikit.
“Kami kan cuma sebentar.”
“Saya paham, Bu. Tapi sudah hampir satu jam.”
Ia melihat jam tangannya, kemudian tertawa kecil.
“Wah, tidak terasa.”
Saya ikut tersenyum meskipun tidak merasa lucu.
Belum sempat saya mengatakan apa apa lagi, salah seorang pelanggan kami berdiri dari kursinya dan hendak menuju toilet. Kursinya berhadapan dengan jalur yang tertutup oleh salah satu kursi kelompok tersebut. Pelanggan itu berkata permisi dengan suara pelan. Perempuan yang duduk di sana hanya menoleh dan tidak bergerak. Pelanggan kami mengulang permintaan itu, kali ini dengan senyum canggung, tetapi tetap tidak mendapat respons.
Saya akhirnya melangkah mendekat.
“Bu, boleh kursinya digeser sedikit?”
Perempuan itu memandang saya beberapa detik. Kemudian ia menggeser kursinya dengan gerakan kecil tanpa berkata apa apa. Pelanggan tadi lewat sambil mengucapkan terima kasih.
Saya kembali ke kasir dengan dada yang terasa lebih berat.
Barista menatap saya. “Masih mau ditunggu?”
Saya mengangguk, tetapi kali ini bukan karena takut menegur.
“Lima menit lagi.”
Lima menit kemudian saya mendatangi meja itu sekali lagi.
“Bu, maaf. Kami perlu mengembalikan meja ini untuk pelanggan lain.”
Perempuan itu mengangkat alis.
“Lho, kami belum selesai.”
“Saya mengerti. Tapi kami sudah memberi waktu hampir satu jam.”
Beberapa orang di meja mulai saling berpandangan. Untuk pertama kalinya sejak mereka datang, ruangan itu menjadi sunyi.
Perempuan itu kemudian tersenyum.
“Jadi sekarang kami diusir?”
Saya menarik napas.
“Bukan begitu. Kami hanya meminta kegiatan yang bukan konsumsi kedai dilakukan di luar jam ramai atau di tempat yang memang disewa untuk kegiatan.”
Ia tidak menjawab.
Seorang perempuan muda yang sejak tadi duduk di ujung meja tiba tiba menatap saya. Berbeda dengan yang lain, ia tidak ikut tertawa, tidak ikut mengeluh, dan sejak awal hanya memesan satu gelas kopi. Beberapa kali saya melihatnya menggeser kursi ketika menghalangi jalan. Ia juga sempat meminta teman di sebelahnya mengecilkan suara.
Perempuan muda itu berdiri.
“Sudah,” katanya kepada kelompoknya. “Kita bereskan.”
Perempuan yang sejak awal menjadi pusat kelompok terlihat tidak senang, tetapi akhirnya meminta semua orang membereskan barang.
Mereka mulai memasukkan katalog, cermin, botol produk, dan tas ke dalam kardus. Kedai perlahan kembali terlihat seperti sebelumnya. Saya mengira masalah selesai dan tidak berharap apa apa lagi.
Namun ketika hampir semua orang keluar, perempuan muda tadi kembali ke kasir.
“Mas,” katanya, “boleh pesan dua puluh minuman untuk dibawa pulang?”
Saya terkejut.
“Dua puluh?”
Ia mengangguk.
“Untuk teman teman tadi?”
“Untuk tim kami.”
Saya mulai menyiapkan pesanan sambil memperhatikannya. Ada sesuatu pada cara ia berbicara yang membuat saya merasa bahwa percakapan ini belum selesai.
“Kalau boleh tahu, tadi sebenarnya ada acara apa?” saya bertanya.
Ia tersenyum.
“Bukan acara.”
“Lalu?”
Ia melihat ke arah pintu yang baru saja dilewati kelompoknya.
“Kami sedang mencari tempat.”
Saya tidak segera memahami maksudnya.
“Untuk jualan?”
“Bukan.”
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya dan meletakkannya di meja kasir.
Saya membacanya.
Nama yang tercetak di sana tidak asing. Saya pernah melihatnya di beberapa kedai kopi yang cukup dikenal di kota ini.
Perempuan muda itu adalah pemilik sebuah jaringan coffee shop yang sedang membuka cabang baru.
Saya terdiam.
“Kenapa melakukan semua ini?” tanya saya.
Ia tersenyum.
“Kami sedang memilih tempat yang akan menjadi mitra untuk pelatihan dan pertemuan komunitas.”
Saya masih memandang kartu nama itu.
“Lalu kelompok tadi?”
“Tim saya.”
“Dan sengaja dibuat seperti itu?”
Ia mengangguk.
“Saya ingin melihat sesuatu yang tidak bisa saya lihat dari meja wawancara.”
Saya menunggu.
“Bagaimana pemilik kedai bersikap ketika ruangnya dikuasai orang lain. Bagaimana ia menghadapi pelanggan yang tidak sesuai harapan. Apakah ia mudah marah, apakah ia langsung mengusir, atau apakah ia justru membiarkan pelanggan lain dirugikan karena takut kehilangan pemasukan.”
Saya teringat semua kejadian selama satu jam terakhir.
Ia melanjutkan, “Tadi ada beberapa orang yang memang sengaja membuat situasi lebih sulit.”
Saya menatap perempuan yang sejak awal membuat saya kesal.
“Termasuk ibu tadi?”
Ia tertawa kecil.
“Dia memang paling bagus memainkan peran.”
Saya ikut tertawa, meskipun masih belum percaya.
“Berarti saya sedang diuji?”
“Bukan hanya Anda,” katanya. “Kami juga sedang belajar.”
Kalimat itu membuat saya diam.
Ia mengambil dua puluh gelas minuman yang telah selesai disiapkan. Sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.
“Tempat Bapak memang kecil.”
Saya tersenyum.
“Saya tahu.”
“Tapi tadi ketika pelanggan lain pergi karena tidak mendapat tempat, Bapak akhirnya menyadari bahwa menjaga satu kelompok bukan berarti harus mengorbankan kelompok yang lain.”
Ia berhenti sejenak.
“Menurut saya, itu yang lebih penting daripada ukuran kedai.”
Setelah mereka pergi, saya berdiri di depan pintu sambil melihat kendaraan mereka menjauh. Kedai kembali sunyi, tetapi rasanya tidak lagi sama. Saya memandang meja terbesar yang tadi hampir membuat saya kehilangan kesabaran, kemudian melihat dua puluh gelas kosong yang tertata di atas baki.
Barista menghampiri saya.
“Jadi kita dapat kerja sama?”
Saya mengangkat bahu.
“Entahlah.”
“Terus mereka tadi datang untuk apa?”
Saya memandang kartu nama yang masih tergeletak di dekat kasir.
“Katanya sedang mencari tempat.”
“Dan menurut Mas?”
Saya tersenyum.
“Sepertinya bukan tempat yang mereka cari.”
Barista mengernyit.
“Lalu apa?”
Saya tidak menjawab.
Di luar, perempuan muda itu sempat berhenti sebelum masuk ke mobil. Ia menoleh ke arah kedai kami, mengangkat tangan, lalu pergi tanpa mengatakan apa apa.
Saya kembali ke dalam.
Hari itu saya akhirnya memahami sesuatu yang sederhana. Sebuah kedai mungkin dinilai dari kopi, harga, ukuran ruangan, atau banyaknya kursi. Tetapi ada satu hal yang tidak tercantum dalam daftar menu dan tidak bisa diukur dengan laporan penjualan.
Cara seseorang memperlakukan orang lain ketika kesabarannya sedang berada di ujung batas.
Dan pagi itu, tanpa saya sadari, mungkin bukan mereka yang datang untuk membeli sesuatu dari kedai kami.
Mungkin merekalah yang sedang menunggu untuk mengetahui apakah kami layak dipercaya.
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY