
Keterangan Gambar : Senin, 14 September 2026, negara-negara Teluk dan Iran akan duduk bersama di Oman membicarakan masa depan Selat Hormuz. Tetapi kursi Amerika Serikat tidak berada di meja itu.
Perwirasatu.co.id
Senin, 14 September 2026, negara-negara Teluk dan Iran akan duduk bersama di Oman membicarakan masa depan Selat Hormuz. Tetapi kursi Amerika Serikat tidak berada di meja itu. Di tengah perang, gangguan pelayaran dan tekanan terhadap ekspor energi, pertemuan tersebut mengajukan pertanyaan lebih besar: mampukah negara-negara Teluk mulai menentukan arsitektur keamanannya sendiri tanpa selalu bergantung pada Washington?
Pertanyaan itu membuat pertemuan Oman jauh lebih penting daripada sekadar perundingan teknis tentang kapal tanker. Reuters pada 13 September melaporkan bahwa menteri luar negeri Arab Saudi akan hadir, sementara Qatar, Uni Emirat Arab, Irak dan Kuwait juga diperkirakan berpartisipasi. Bahrain memilih tidak hadir. Mereka datang membawa kepentingan berbeda, tetapi menghadapi persoalan geografis yang sama: Iran tidak mungkin dihapus dari persamaan keamanan Teluk.
Selama beberapa dekade, keamanan kawasan sangat bergantung pada kekuatan militer Amerika Serikat. Kini muncul kalkulasi lain. Tekanan ekonomi akibat konflik dan terganggunya jalur energi membuat dialog dengan Teheran bukan lagi sekadar pilihan diplomatik, melainkan kebutuhan praktis. Reuters menggambarkan bagaimana sebagian negara Teluk mulai mempertimbangkan diplomasi paralel dengan Iran dan strategi keamanan yang tidak semata-mata bertumpu pada Washington.
Namun itu bukan berarti Teluk sedang meninggalkan Amerika. Justru di sinilah kompleksitasnya. Washington tetap aktor militer dan politik yang menentukan, sementara setiap pengaturan Hormuz masih bersinggungan dengan hubungan AS-Iran, persoalan sanksi dan pembangunan kepercayaan. Yang sedang berubah bukan hilangnya Amerika, melainkan munculnya keinginan negara-negara kawasan untuk memiliki ruang tawar yang lebih besar.
Oman menjadi jembatan penting. Dalam pernyataan resmi 25 Agustus, Kementerian Luar Negeri Oman mengungkapkan bahwa Muscat dan Teheran membahas kerangka bertahap untuk memulihkan navigasi aman. Di dalamnya terdapat gagasan koridor pelayaran sementara, pembersihan ranjau, pertukaran informasi, manajemen lalu lintas hingga negosiasi mengenai koridor permanen dan pengelolaan selat pada masa depan.
Tetapi jangan buru-buru menyebut Hormuz akan dibuka kembali. Reuters pada 12 September melaporkan seorang pejabat senior Iran memperkirakan pertemuan Senin belum akan menghasilkan kesepakatan tertulis. Teheran juga menginginkan mekanisme yang memungkinkan pemungutan biaya dari kapal yang menggunakan selat, gagasan yang ditolak Oman. Jalan menuju normalisasi masih panjang.
Taruhannya luar biasa besar. Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia melewati Hormuz. Gangguan berkepanjangan berpotensi menaikkan risiko pelayaran, premi asuransi dan ongkos angkut, lalu menjalar ke harga energi dan inflasi. Reuters pada 13 September melaporkan harga minyak telah menembus US$100 per barel ketika serangan terhadap jalur energi dan kapal kembali meningkatkan kekhawatiran pasar.
Tekanan bahkan datang dari dua arah. Perkembangan konflik di sekitar Bab el-Mandeb membuat jalur Laut Merah ikut terancam ketika Hormuz belum pulih. Bagi negara-negara Teluk, persoalannya kini bukan lagi memilih antara konfrontasi atau kompromi secara ideologis. Mereka harus memastikan minyak tetap mengalir, perdagangan bergerak dan ekonomi tidak menjadi sandera konflik yang sulit mereka kendalikan.
Rapuhnya situasi terlihat hanya sehari sebelum perundingan. Associated Press pada 13 September melaporkan sebuah kapal kargo Iran diserang di dekat Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran menyebut satu orang tewas dan empat lainnya terluka. Insiden itu menjadi pengingat bahwa diplomasi sedang berjalan berdampingan dengan kekerasan.
Karena itu keberhasilan pertemuan Oman tidak seharusnya diukur hanya dari ada atau tidaknya dokumen yang ditandatangani. Kesepakatan mengenai koridor aman, komunikasi maritim, pembersihan ranjau atau mekanisme navigasi yang diterima bersama sudah dapat menjadi kemajuan penting. Dalam kawasan yang sarat kecurigaan, membangun aturan kecil yang dipatuhi bersama terkadang lebih realistis daripada mengejar deklarasi perdamaian besar.
Hormuz akhirnya menguji sesuatu yang lebih fundamental daripada kemampuan kapal tanker melewati sebuah selat. Ia menguji apakah Iran dan negara-negara Teluk mampu mengubah keterikatan geografis menjadi kepentingan bersama, serta apakah kawasan dapat membangun mekanisme keamanan yang tidak sepenuhnya menunggu keputusan kekuatan dari luar.
Jika pertemuan Oman berhasil membuka ruang itu, yang lahir mungkin belum sebuah tatanan baru. Tetapi ia dapat menjadi tanda bahwa negara-negara Teluk mulai memahami satu kenyataan sederhana: geografi tidak dapat dipindahkan, tetangga tidak dapat dihapus, dan keamanan jangka panjang pada akhirnya membutuhkan kemampuan untuk berbicara bahkan dengan pihak yang paling sulit dipercaya.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY