Home Artikel Cerpen: Sunyi Menumbangkan Benteng Sang Pengendali

Cerpen: Sunyi Menumbangkan Benteng Sang Pengendali

14
0
SHARE
Cerpen: Sunyi Menumbangkan Benteng Sang Pengendali

Keterangan Gambar : Beberapa bulan sebelumnya, Devi adalah perempuan yang dipercaya banyak orang karena keramahannya. Ia selalu hadir ketika dimintai bantuan, tidak pandai menolak, dan menganggap setiap hubungan layak dipelihara dengan ketulusan.

Perwirasatu.co.id, 01 September 2026

Telepon itu kembali berdering untuk ketujuh kalinya malam itu. Layarnya menampilkan nama yang selama berbulan bulan membuat dada Devi sesak setiap kali muncul. Jemarinya sempat bergerak hendak menjawab, tetapi berhenti tepat di atas layar. Di luar jendela, hujan turun perlahan, seolah mengajak malam ikut menahan napas. Tanpa sepatah kata pun, Devi membalikkan teleponnya dan membiarkan dering itu tenggelam bersama suara hujan.

Beberapa bulan sebelumnya, Devi adalah perempuan yang dipercaya banyak orang karena keramahannya. Ia selalu hadir ketika dimintai bantuan, tidak pandai menolak, dan menganggap setiap hubungan layak dipelihara dengan ketulusan. Baginya, menjaga perasaan orang lain lebih penting daripada mempertahankan pendapat sendiri. Ia tidak pernah menyangka bahwa sifat itu justru menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk mengendalikan hidupnya.

Orang itu bernama Reno. Di mata banyak orang, Reno dikenal santun, murah senyum, dan ringan tangan membantu siapa saja. Ia sering menjadi penengah ketika terjadi perselisihan di lingkungan kerja. Tidak sedikit orang memujinya sebagai sahabat yang setia. Namun hanya Devi yang perlahan menyadari bahwa di balik keramahan itu tersembunyi kebutuhan besar untuk selalu menguasai orang lain.

Pada awalnya, Reno hanya sering meminta pendapat. Lama kelamaan, setiap keputusan Devi selalu dikomentari. Cara berpakaian, pekerjaan, teman bergaul, bahkan waktu bersama keluarga seolah harus mendapat persetujuan darinya. Jika Devi berbeda pendapat, Reno akan tersenyum tipis lalu berkata bahwa semua nasihat itu semata demi kebaikan sahabatnya.

"Kalau kau tetap keras kepala, jangan salahkan aku kalau nanti hidupmu berantakan," ucap Reno suatu sore. Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tetapi meninggalkan rasa bersalah yang sulit dijelaskan. Devi berkali kali meminta maaf atas kesalahan yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Sejak saat itu ia mulai kehilangan kepercayaan terhadap penilaiannya sendiri.

Keadaan semakin buruk ketika Reno mulai melibatkan orang lain. Ia menyampaikan kepada rekan kerja bahwa Devi sedang mengalami tekanan batin dan sulit mengambil keputusan. Kepada keluarga Devi, ia mengaku sangat khawatir melihat perubahan sahabatnya. Semua dilakukan dengan wajah penuh simpati sehingga tidak seorang pun mencurigai niat sebenarnya.

Akibatnya, Devi merasa terkepung dari segala arah. Apa pun yang ia lakukan selalu tampak salah di mata orang lain. Bahkan ibunya pernah bertanya dengan lembut apakah benar ia sedang mengalami gangguan emosi seperti yang diceritakan Reno. Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada semua tuduhan yang pernah ia dengar.

Suatu sore yang lengang, Devi memilih duduk di sebuah bangku tua di taman kota. Angin menggerakkan daun daun kering hingga berputar mengelilingi kakinya. Di bangku yang sama duduk seorang lelaki tua berwajah teduh dengan rambut memutih. Tanpa diminta, lelaki itu berkata bahwa orang yang ingin menguasai hidup orang lain sesungguhnya sangat takut kehilangan perhatian dari korbannya.

Devi memandang lelaki tua itu dengan heran. "Lalu apa yang harus dilakukan jika semua penjelasan hanya diputarbalikkan?" tanyanya lirih. Lelaki itu tersenyum, memandang langit yang mulai berwarna jingga, lalu menjawab, "Ada saatnya kata kata hanya menjadi makanan bagi orang yang ingin mengendalikanmu. Jika makanan itu berhenti kau berikan, ia akan kelaparan oleh egonya sendiri."

Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan pulang. Malam harinya Reno kembali menghubungi Devi berkali kali. Biasanya Devi akan segera memberikan penjelasan panjang agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kali ini ia hanya membaca setiap pesan tanpa membalas satu huruf pun.

Hari pertama berlalu tanpa jawaban. Hari kedua, Reno mulai mengirim pesan bernada sedih dan mengaku merasa diabaikan. Hari ketiga, pesan itu berubah menjadi kemarahan yang menuduh Devi sebagai sahabat yang tidak tahu balas budi. Devi tetap memilih diam, meskipun hatinya masih bergolak antara rasa bersalah dan keyakinan untuk mempertahankan batas yang baru ia bangun.

Diam ternyata bukan perkara mudah. Berkali kali Devi ingin menjelaskan bahwa ia tidak membenci Reno. Ia hanya ingin hidup tanpa dikendalikan. Namun setiap kali jemarinya mulai mengetik, ia teringat nasihat lelaki tua di taman. Akhirnya ia menghapus semua kalimat yang belum sempat terkirim.

Tidak lama kemudian, fitnah mulai beredar. Reno mengatakan bahwa Devi berubah menjadi sombong setelah memperoleh jabatan baru. Beberapa teman menjauh tanpa sempat bertanya langsung. Ada pula yang percaya bahwa Devi sengaja memutus hubungan dengan orang orang yang pernah membantunya.

Hari hari itu menjadi masa yang paling berat bagi Devi. Ia kehilangan beberapa sahabat dan mulai dijauhi rekan kerja. Berkali kali ia hampir menyerah karena merasa diam justru menghancurkan nama baiknya. Namun setiap kali melihat ibunya yang tetap percaya kepadanya, keberanian itu tumbuh kembali sedikit demi sedikit.

Waktu bergerak perlahan. Orang orang mulai memperhatikan bahwa cerita Reno sering berubah ubah. Ia menceritakan hal berbeda kepada orang yang berbeda. Tanpa disadari, kebohongan kecil yang terus ditumpuk akhirnya saling bertabrakan. Kepercayaan yang dahulu begitu kuat mulai retak dengan sendirinya.

Suatu pagi, pimpinan kantor memanggil Reno dan Devi. Beberapa rekan kerja telah menunjukkan bukti percakapan yang memperlihatkan bagaimana Reno sengaja mengadu domba dan memelintir ucapan banyak orang. Ruangan itu mendadak sunyi ketika satu demi satu fakta diperlihatkan. Reno yang biasanya fasih berbicara hanya mampu menundukkan kepala.

Seusai pertemuan itu, Reno mendatangi Devi. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar ketika meminta agar Devi menjelaskan kepada semua orang bahwa dirinya tidak seburuk yang diberitakan. Ia berkata hanya Devi yang mampu memulihkan nama baiknya. Untuk pertama kalinya, lelaki yang selama ini mengendalikan orang lain justru bergantung kepada orang yang pernah dikuasainya.

Devi menatap Reno cukup lama. Tidak ada kemarahan di matanya, juga tidak ada keinginan membalas dendam. Ia hanya berkata pelan, "Selama ini kau selalu membutuhkan suaraku agar tetap memiliki kendali. Kini aku memilih menggunakan suaraku hanya untuk mengatakan yang benar, bukan untuk menyelamatkan kebohongan."

Reno terdiam. Ia sadar bahwa semua pengaruh yang dibangunnya selama bertahun tahun runtuh bukan karena perlawanan yang keras, melainkan karena seseorang berhenti memberi ruang bagi permainannya. Keheningan yang dahulu dianggap kelemahan ternyata menjadi dinding yang tidak mampu ditembus oleh manipulasi.

Malam itu Devi kembali mendatangi bangku tua di taman kota. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang telah mengubah cara pandangnya. Namun bangku itu kosong. Seorang penjual minuman yang sudah puluhan tahun berjualan di sana berkata tidak pernah melihat seorang lelaki tua duduk di tempat itu selain Devi yang sering datang sendirian.

Dengan dada berdebar, Devi membuka dompetnya. Di sela sela kartu identitas terselip sebuah foto lama yang baru ia temukan beberapa hari sebelumnya. Foto itu memperlihatkan ayahnya sedang duduk di bangku taman yang sama, mengenakan kemeja sederhana dan tersenyum tenang. Wajah dalam foto itu persis dengan wajah lelaki tua yang pernah menasihatinya.

Devi pulang sambil menggenggam foto itu erat erat. Sesampainya di rumah, ibunya melihat foto tersebut lalu tersenyum haru. "Ayahmu selalu berkata, orang yang ingin menguasai hidup orang lain hanya kuat selama kita terus memberinya perhatian. Begitu kita berhenti memberi makan egonya, kekuatannya akan hilang dengan sendirinya."

Saat itulah Devi tersadar. Selama ini ia mengira dirinya diselamatkan oleh seorang lelaki asing di taman. Kenyataannya, ia sedang dipandu oleh kenangan yang tidak pernah benar benar meninggalkannya. Ayahnya memang telah tiada bertahun tahun, tetapi pada saat paling gelap dalam hidupnya, suara yang paling ia butuhkan ternyata datang dari seseorang yang telah lama berpulang.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home