Perwirasatu.co.id, Kamis 04 Juni 2026.
Pujasera sore itu penuh orang dan suara sendok yang beradu dengan piring. Saya duduk sendiri menunggu pesanan, mencoba menikmati jeda dari hari yang melelahkan. Tak jauh dari meja saya, sepasang suami istri muda tampak begitu harmonis bersama bayi mereka. Sang suami sigap menggendong anaknya, sang istri makan dengan gembira, bahkan menyuapi suaminya. Saya tersenyum, lalu berdoa dalam hati, tanpa tahu doa itu akan menjadi ironi.
Pujasera itu tak pernah berubah, selalu riuh dan selalu berbau campuran minyak goreng, kuah bakso, serta sate yang mengepul dari ujung lorong. Meja-meja plastik dipenuhi noda kecap, kursi-kursi berderit saat ditarik, dan kipas angin tua berputar tanpa benar-benar menyejukkan. Saya duduk sendiri di dekat pilar besar yang ditempeli iklan minuman dingin. Di depan saya hanya ada segelas es teh yang mulai mencair, sementara mata saya sesekali melirik jam di ponsel.
Saya datang lebih awal dari biasanya, bukan karena rajin, tapi karena kepala saya sedang penuh. Seharian saya mengurus hal-hal kecil yang tak pernah selesai, lalu pulang dengan rasa letih yang menempel seperti debu. Saya berharap makan sebentar bisa membuat pikiran lebih ringan. Namun entah kenapa, sore itu justru mata saya menangkap pemandangan yang membuat dada saya terasa hangat sekaligus aneh.
Tak jauh dari tempat saya duduk, ada sepasang suami istri muda dengan seorang bayi yang masih mungil. Mereka duduk di meja dekat kios ayam geprek, di bawah lampu neon yang sedikit redup. Sang suami memakai topi hitam dan masker yang menutup sebagian wajahnya, sementara istrinya mengenakan kerudung krem yang sederhana. Bayi mereka dibedong kain lembut, pipinya merah, dan matanya sesekali terbuka seperti mencari wajah orang tuanya.
Ketika makanan datang, suami itu berdiri tanpa diminta. Ia mengambil bayi dari pelukan istrinya dengan gerakan yang tenang, seolah sudah terbiasa menahan lelah demi membuat orang lain nyaman. Ia menggendong bayi itu sambil menepuk punggungnya pelan, memberi ruang bagi istrinya untuk mulai makan lebih dulu. Saya melihat istrinya tersenyum lebar, senyum yang terasa jujur dan tidak dibuat-buat.
Yang membuat saya terpaku bukan hanya gerakan sigap sang suami, tetapi cara mereka saling menatap. Seolah ada bahasa rahasia yang hanya dimengerti mereka berdua. Istrinya makan dengan gembira, lalu mengambil sepotong kecil ayam dan menyuapkannya ke mulut suaminya. Suaminya menunduk sedikit, menerimanya dengan tawa pendek yang tidak keras, tetapi cukup membuat suasana meja itu tampak hidup.
Saya mendadak merasa seperti melihat potongan dunia yang jarang ditemukan. Di tempat ramai seperti pujasera, kebanyakan orang makan cepat sambil sibuk dengan ponsel, atau bertengkar soal hal-hal kecil. Tetapi pasangan itu terlihat seperti sedang merayakan sesuatu yang sederhana, seolah sepiring nasi dan ayam bisa menjadi alasan untuk saling mencintai. Saya tersenyum tanpa sadar, lalu menunduk sejenak.
Dalam hati saya berdoa singkat, bukan doa panjang yang muluk-muluk. Saya hanya meminta agar kebahagiaan seperti itu tidak cepat habis, agar cinta mereka tidak retak oleh hal-hal yang sering datang diam-diam. Saya bahkan membayangkan bayi itu tumbuh dengan pelukan hangat dan rumah yang penuh tawa. Doa itu terasa ringan, namun ada bagian dari diri saya yang tiba-tiba terasa kosong setelah mengucapkannya.
Pesanan saya datang, sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi. Saya mulai makan pelan, tetapi perhatian saya masih sering terseret ke arah meja mereka. Di jari manis tangan istrinya, saya melihat cincin yang tampak kusam, seperti cincin lama yang sering terkena sabun dan air. Cincin itu tidak mewah, tidak berkilau, namun justru terasa lebih nyata dibanding cincin-cincin mahal yang sering dipamerkan di media sosial. Saya menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, lalu menunduk kembali.
Suami itu mengayun-ayunkan bayi dengan ritme halus, menepuk punggungnya seperti orang yang sedang menenangkan dunia kecil di dadanya. Bayi itu sempat menggeliat, lalu kembali diam, seolah nyaman di pelukan ayahnya. Istrinya menyeka bibir bayi dengan tisu, gerakannya penuh perhatian, lalu meminum es jeruknya dengan wajah puas. Saya menangkap satu momen ketika suami itu menatap istrinya sebentar, kemudian cepat-cepat mengalihkan pandang ke ponsel yang tergeletak di meja.
Ada sesuatu yang ganjil, tetapi terlalu tipis untuk disebut curiga. Ia membalik ponselnya dengan layar menghadap meja, seolah tidak ingin ada notifikasi terlihat. Ia lalu tersenyum lagi, melanjutkan obrolan dengan istrinya, membuat saya berpikir mungkin itu hanya kebiasaan orang yang ingin fokus pada keluarga. Namun beberapa detik setelah itu, ponselnya bergetar, dan suami itu refleks meraih cepat, seolah takut terlambat sedetik saja.
Saya kembali memakan nasi goreng saya, tapi mata saya menangkap perubahan kecil di wajahnya. Senyumnya mengendur, gerak tangannya melambat, dan bahunya sedikit menegang. Ia menatap layar ponsel beberapa detik, lalu menelan ludah seperti orang yang baru saja membaca sesuatu yang tidak ia harapkan. Tangannya yang tadi menepuk punggung bayi berhenti, lalu ia mengusap lehernya sebentar seolah mencari udara.
Istrinya masih makan, belum menyadari perubahan itu. Ia tertawa kecil, mengatakan sesuatu yang tampaknya lucu, namun suaminya hanya menjawab dengan anggukan pendek. Setelah beberapa detik, istrinya mulai sadar ada yang berbeda, lalu menatap suaminya dengan kening berkerut. Ia bertanya pelan, terlihat dari bibirnya yang bergerak tanpa suara keras, tetapi suaminya justru menunduk lebih dalam.
Suami itu menggeser ponsel ke arah istrinya, memperlihatkan sesuatu di layar. Saya tidak bisa melihat isi layarnya, tetapi saya bisa melihat reaksi istrinya dengan jelas. Wajah yang tadi cerah mendadak mengeras, senyum yang tadi hidup runtuh seperti lampu yang dipadamkan. Tangannya menutup mulut sebentar, lalu ia menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bayi mereka masih diam dalam pelukan ayahnya, namun udara di sekitar meja itu terasa berubah. Seperti ada sesuatu yang jatuh tanpa bunyi, sesuatu yang tidak terlihat tapi membuat dada sesak. Istrinya menatap layar ponsel lebih lama, kemudian menatap suaminya lagi, kali ini dengan tatapan yang tidak bisa disembunyikan. Saya melihat bibirnya bergetar, bukan karena marah semata, tetapi karena kecewa yang terlalu dalam.
Suami itu mencoba bicara, bibirnya bergerak cepat seperti orang yang ingin menjelaskan sebelum terlambat. Namun istrinya menggeleng pelan, lalu berdiri tanpa banyak kata. Ia mengambil bayi dari pelukan suaminya dengan gerakan yang hati-hati, tetapi tegas, seolah sedang menarik sesuatu yang harus diselamatkan. Bayi itu menggeliat, lalu mulai menangis kecil, tangis yang terdengar seperti retakan pertama dalam sebuah rumah yang rapuh.
Suami itu ikut berdiri, tangannya terangkat setengah, ingin menyentuh bayi atau mungkin ingin menahan istrinya. Namun istrinya mundur satu langkah, menjaga jarak, dan menatap suaminya seolah menatap orang asing. Ia bicara pelan, tapi cukup jelas membuat saya menangkap sebagian kata-katanya. Ada kalimat yang membuat dada saya mendadak dingin, kalimat yang terdengar seperti pisau.
“Nomor itu siapa,” katanya dengan suara bergetar, namun tetap terkontrol. Suaminya menjawab cepat, tetapi istrinya memotong, menahan air mata yang sudah hampir jatuh. “Kamu bilang lembur, tapi kamu ada di sini,” katanya lagi, kali ini lebih tegas, seolah sudah menyusun kepingan-kepingan kecurigaan sejak lama. Suaminya terdiam beberapa detik, dan diamnya terasa lebih menyakitkan daripada seribu penjelasan.
Orang-orang mulai melirik, tapi tidak ada yang berani mendekat. Di pujasera, konflik rumah tangga selalu dianggap urusan orang lain, selama tidak sampai memecahkan piring. Istrinya mengusap pipinya cepat-cepat, lalu memeluk bayi lebih erat. Bayi itu menangis semakin keras, dan suara tangis itu membuat suasana semakin menyesakkan, seperti mengumumkan bahwa sesuatu yang indah baru saja patah.
Istrinya mengambil tas kecilnya, lalu melangkah menjauh. Suaminya mengikuti satu langkah, kemudian berhenti, seolah kakinya kehilangan kekuatan. Ia memanggil pelan, tapi istrinya tidak menoleh lagi, hanya berjalan terus menuju pintu keluar pujasera. Makanan di meja mereka masih tersisa, nasi yang mulai dingin, ayam yang sudah tidak lagi mengepul, seperti simbol kebahagiaan yang tidak sempat dihabiskan.
Suami itu duduk kembali perlahan, menatap meja kosong di depannya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu mengusapnya berkali-kali seperti ingin menghapus sesuatu dari hidupnya. Saya menelan ludah, tiba-tiba merasa bersalah karena tadi sempat mendoakan kebahagiaan mereka tanpa mengetahui luka yang tersembunyi. Saya menunduk, mencoba fokus pada piring saya, namun rasa di lidah saya mendadak hambar.
Saya selalu percaya bahwa kebahagiaan itu bisa terlihat, bisa terbaca dari tawa dan gerakan kecil. Namun sore itu saya sadar, kebahagiaan juga bisa menjadi kostum yang dipakai sebentar, hanya untuk menutupi sesuatu yang lebih gelap. Saya menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri, karena pemandangan itu seperti menampar keyakinan saya sendiri. Dalam hati saya berkata, mungkin semua rumah tangga punya retaknya masing-masing, hanya saja tidak semua retak terdengar
Ketika saya hendak membayar, ponsel saya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat saya kenal, nomor yang selama ini membuat saya merasa aman karena selalu pulang tepat waktu. Saya membuka pesan itu sambil berdiri, dan mata saya terpaku pada kalimat yang muncul di layar. Pesan itu pendek, tapi membuat tubuh saya mendadak lemas.
“Maaf, aku telat pulang. Masih di pujasera. Ada urusan sebentar.”
Saya menatap layar itu lama, seolah berharap tulisan itu berubah menjadi hal lain. Jari saya membeku, napas saya seperti tertahan di tenggorokan. Perlahan saya mengangkat kepala, menatap ke arah meja lelaki yang baru saja ditinggalkan istrinya. Di tangan lelaki itu, ponselnya menyala, dan saya melihat nama kontak yang muncul di layar, nama yang sama persis seperti yang ada di ponsel saya.
Nama itu bukan nama asing, bukan nama orang lain, bukan nama yang bisa saya tebak dengan aman. Nama itu adalah nama suami saya sendiri, tertulis jelas seperti vonis yang tidak bisa ditarik kembali. Saya menatap topi hitam dan masker yang menutupi wajahnya, lalu menyadari bentuk bahunya, jam di pergelangan tangannya, dan cincin kusam yang tadi saya kagumi di jari istrinya. Saat itu dunia seperti berhenti bergerak, dan doa yang tadi saya ucapkan berubah menjadi ironi paling pahit.
Saya berdiri kaku, tidak mampu melangkah, tidak mampu menjerit, bahkan tidak mampu menangis. Di meja itu, lelaki yang selama ini saya tunggu pulang menunduk seperti orang kalah, sementara piring makanannya masih tersisa dan bayi tadi sudah pergi bersama ibunya. Saya ingin percaya bahwa saya salah lihat, ingin percaya bahwa ini hanya kebetulan, tetapi semua tanda menolak untuk dipungkiri. Dan di tengah riuh pujasera, saya baru mengerti, ternyata yang sedang saya saksikan sejak awal bukan kisah orang lain, melainkan kisah saya sendiri.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat












LEAVE A REPLY