
Keterangan Gambar : Pemilu paruh waktu Amerika Serikat semakin menjadi ujian bagi Donald Trump. Bukan hanya karena tingkat persetujuan terhadap presiden merosot, tetapi juga karena kegelisahan mengenai ekonomi, biaya hidup dan perang Iran
Perwirasatu.co.id, 24 September 2026
Pemilu paruh waktu Amerika Serikat semakin menjadi ujian bagi Donald Trump. Bukan hanya karena tingkat persetujuan terhadap presiden merosot, tetapi juga karena kegelisahan mengenai ekonomi, biaya hidup dan perang Iran bertemu dengan meningkatnya motivasi pemilih oposisi. Situasi itu menempatkan Partai Republik dalam pertarungan mempertahankan Kongres ketika Gedung Putih justru menghadapi ketidakpuasan publik yang semakin dalam menjelang pemungutan suara November.
Jajak pendapat CNN yang dilakukan SSRS pada 16–17 September 2026 mencatat hanya 33 persen warga Amerika menyetujui kinerja Trump, sedangkan 67 persen tidak menyetujuinya. CNN, 23 September 2026, menyebut angka tersebut sebagai titik numerik terendah Trump dalam rangkaian surveinya selama dua periode kepresidenan.
Masalahnya bukan sekadar popularitas. CNN Poll/SSRS menemukan hanya 27 persen responden menyetujui cara Trump menangani ekonomi, turun 22 poin dibandingkan September 2018. Persetujuan terhadap penanganan inflasi bahkan hanya 20 persen. Pada saat bersamaan, ekonomi dinilai sangat penting bagi pilihan politik oleh 68 persen pemilih.
Perbandingan dengan 2018 menjadi relevan. Delapan tahun lalu Trump juga menghadapi pemilu paruh waktu dalam kondisi politik sulit, tetapi penilaian terhadap pengelolaan ekonomi masih sekitar 49 persen. Republik kemudian kehilangan 40 kursi DPR. Namun sejarah bukan ramalan. Komposisi distrik, kandidat, tingkat partisipasi dan isu politik 2026 berbeda sehingga survei nasional tidak dapat diterjemahkan langsung menjadi jumlah kursi.
Tekanan terlihat pula dalam pertanyaan mengenai pilihan partai untuk Kongres. CNN Poll/SSRS, 23 September 2026, mencatat 49 persen pemilih terdaftar memilih kandidat Demokrat dan 41 persen Republik. Di antara pemilih yang sangat termotivasi datang ke tempat pemungutan suara, jaraknya melebar menjadi sekitar 20 poin. Ini memperlihatkan bahwa persoalan Republik bukan hanya preferensi, tetapi juga antusiasme pemilih.
Pemilih independen menjadi bagian penting dari persaingan itu. CNN mencatat Demokrat unggul sekitar 11 poin di kelompok tersebut. Sebanyak 44 persen pemilih juga mengatakan pilihan mereka untuk Kongres dimaksudkan sebagai pesan menentang Trump, dibandingkan 19 persen yang ingin menyatakan dukungan kepadanya. Namun angka nasional tetap tidak menggambarkan sepenuhnya pertarungan distrik demi distrik.
Survei lain memperlihatkan arah serupa. Reuters, 21 September 2026, melaporkan Reuters/Ipsos mencatat approval Trump 32 persen. Hanya 17 persen responden menyetujui penanganannya terhadap biaya hidup. Dalam pilihan Kongres, pemilih terdaftar memilih Demokrat 43 persen berbanding Republik 35 persen.
Marquette Law School Poll, 16 September 2026, juga menemukan Demokrat memperoleh 54 persen dan Republik 41 persen di antara likely voters. Di kalangan registered voters, perbandingannya 50 persen dan 42 persen. Perbedaan kategori responden ini penting: angka berbagai survei tidak dapat dicampur seolah berasal dari populasi dan metodologi yang sama.
Perang Iran menambah lapisan persoalan. CNN Poll/SSRS, 22 September 2026, mencatat dukungan terhadap cara Trump menangani perang berada di 26 persen. Reuters/Ipsos juga menemukan hanya 34 persen responden menyetujui serangan terhadap Iran. Perang, harga energi dan biaya hidup kini bersinggungan dalam persepsi pemilih, meski survei tidak membuktikan bahwa satu faktor secara tunggal menyebabkan turunnya popularitas presiden.
Bagi Republik, dilema politiknya jelas. Trump tetap mempunyai pengaruh kuat terhadap basis partai, sementara kandidat di distrik kompetitif juga membutuhkan independen dan pemilih di luar basis inti. Demokrat menghadapi tantangan berbeda: keunggulan dalam survei nasional belum berarti kemenangan jika tidak berubah menjadi partisipasi dan kemenangan kandidat di distrik serta negara bagian yang menentukan.
Karena itu, angka September lebih tepat dibaca sebagai lampu peringatan daripada ramalan hasil November. Pemilu paruh waktu akan mempertemukan penilaian terhadap Trump dengan ekonomi, biaya hidup, perang, kualitas kandidat dan kemampuan kedua partai menggerakkan pemilih. Survei memotret suasana politik hari ini; kotak suara yang akhirnya menentukan bagaimana kekuasaan di Washington dibagi.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat


















LEAVE A REPLY