Home Artikel DANANTARA MENGUJI INTEGRASI BESAR TRANSPORTASI JAKARTA

DANANTARA MENGUJI INTEGRASI BESAR TRANSPORTASI JAKARTA

61
0
SHARE
DANANTARA MENGUJI INTEGRASI BESAR TRANSPORTASI JAKARTA

Keterangan Gambar : Bayangkan penumpang berangkat dari Sukabumi dengan kereta listrik, memasuki Jakarta, berpindah ke LRT atau MRT, lalu melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta tanpa direpotkan sistem transportasi yang terkotak-kotak. Gagasan itulah yang kini mulai dibicarakan pemerintah dan Danantara.

Perwirasatu.co.id, 24 September 2026

Bayangkan penumpang berangkat dari Sukabumi dengan kereta listrik, memasuki Jakarta, berpindah ke LRT atau MRT, lalu melanjutkan perjalanan dengan Transjakarta tanpa direpotkan sistem transportasi yang terkotak-kotak. Gagasan itulah yang kini mulai dibicarakan pemerintah dan Danantara. Ambisinya besar, tetapi pertanyaan mengenai biaya, operator, tarif, dan pembagian kewenangan masih menunggu jawaban yang jauh lebih konkret.

Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengonfirmasi pihaknya masih mengkaji keterlibatan dalam pengembangan LRT Jakarta. Menurut ANTARA, 22 September 2026, kajian itu ditempatkan sebagai bagian dari integrasi transportasi massal yang lebih luas, bukan sekadar pembiayaan satu proyek rel.

Skalanya melampaui Jakarta. Dony menyebut Danantara juga terlibat dalam proses elektrifikasi jalur Jakarta-Cikampek, Jakarta-Sukabumi, dan Jakarta-Merak. detikFinance, 22 September 2026, melaporkan jaringan tersebut dirancang terhubung dengan LRT, MRT, hingga Transjakarta. Jika terealisasi, batas sistem transportasi metropolitan praktis bergerak mengikuti mobilitas masyarakat, bukan sekadar garis administratif provinsi.

Namun, menyambungkan rel relatif lebih sederhana dibanding menyatukan kewenangan. Bisnis.com, 22 September 2026, mencatat Danantara akan membicarakan pembagian peran bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, termasuk porsi PT KAI, Jakpro, dan entitas lainnya. Di sinilah persoalan strategis muncul: siapa membangun, siapa memiliki aset, siapa mengoperasikan, siapa menanggung risiko pembiayaan, dan siapa memastikan tarif tetap terjangkau?

Besarnya kebutuhan modal membuat pertanyaan itu relevan. ANTARA, 22 September 2026, mencatat LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai sepanjang 12,2 kilometer dibangun Jakpro menggunakan APBD dengan investasi Rp12,1 triliun. Satu rangkaian mampu membawa sekitar 270 penumpang dan jaringan tersebut ditargetkan melayani hingga 80 ribu penumpang per hari. Sementara rencana Manggarai-Dukuh Atas membutuhkan sekitar Rp2,7 triliun, menurut detikFinance, 16 September 2026.

Angka itu memperlihatkan bahwa integrasi transportasi bukan proyek murah. Keterlibatan Danantara karena itu perlu diuji bukan hanya dari kemampuan menyediakan modal, tetapi juga kelayakan investasi dan pembagian risiko. Transportasi publik berbeda dari bisnis biasa: manfaatnya tidak berhenti pada pendapatan tiket, melainkan juga penghematan waktu perjalanan, akses terhadap pekerjaan, produktivitas kota, dan berkurangnya ketergantungan pada kendaraan pribadi.

Tantangan berikutnya justru berada di sisi penumpang. Infrastruktur dapat disebut terintegrasi, tetapi bagi pengguna istilah itu tidak berarti banyak apabila mereka masih harus berjalan jauh antarmoda, menunggu terlalu lama, menghadapi jadwal yang tidak sinkron, atau membayar tarif berlapis. Integrasi sejati harus terlihat dalam satu perjalanan yang mudah, cepat, aman, terjangkau, dan dapat diprediksi.

Karena itu, ambisi Danantara seharusnya tidak berhenti pada konsolidasi korporasi. Integrasi jadwal, pembayaran, tarif, informasi perjalanan, stasiun transit, serta angkutan pengumpan sama pentingnya dengan membangun rel baru. Penumpang pada akhirnya tidak peduli apakah sebuah kereta dikelola KAI, Jakpro atau perusahaan lain. Mereka hanya ingin mencapai tujuan tanpa dipaksa memahami kerumitan kelembagaan di belakangnya.

Elektrifikasi menuju Cikampek, Sukabumi, dan Merak sekaligus menawarkan cara baru memandang Jakarta. Jutaan perjalanan menuju ibu kota tidak berhenti di batas provinsi. Karena itu, jaringan metropolitan semestinya dirancang berdasarkan pergerakan manusia. Tetapi semakin luas ambisinya, semakin penting pemerintah menjelaskan prioritas, biaya, sumber dana, target penumpang, dan tahapan pengerjaannya.

Di situlah kajian Danantara menemukan ujian sesungguhnya. Keberhasilan integrasi tidak akan ditentukan oleh seberapa panjang rel dibangun atau berapa banyak operator dikonsolidasikan. Ukurannya jauh lebih sederhana: apakah perjalanan masyarakat menjadi lebih mudah dan terjangkau.

Jika jawabannya kelak iya, Jakarta bukan hanya memiliki lebih banyak moda transportasi. Ia akhirnya memiliki satu sistem perjalanan.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home