
Keterangan Gambar : Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta Unpad mengembangkan hard carbon dari sisik nila dengan pendekatan yang menarik. Sisik dipilih karena mengandung kolagen yang secara alami membawa nitrogen.
Perwirasatu.co.id, 18 September 2026
Sisik ikan nila biasanya berakhir sebagai limbah setelah dagingnya dikonsumsi. Di tangan mahasiswa Universitas Padjadjaran, material yang nyaris tak bernilai itu memasuki laboratorium dan diolah menjadi hard carbon, kandidat bahan anode baterai ion-natrium. Eksperimen tersebut membuka peluang ekonomi sirkular, sekaligus pertanyaan penting: seberapa jauh temuan laboratorium dapat berkembang menjadi teknologi penyimpanan energi yang efisien, stabil, ekonomis, dan berkelanjutan?
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta Unpad mengembangkan hard carbon dari sisik nila dengan pendekatan yang menarik. Sisik dipilih karena mengandung kolagen yang secara alami membawa nitrogen. Melalui konsep in-situ self-doping nitrogen, unsur tersebut dimanfaatkan langsung dari biomassa tanpa penambahan bahan doping eksternal. Dengan demikian, sisik tidak sekadar dibakar menjadi karbon, tetapi diperlakukan sebagai prekursor material penyimpan ion Na+.
Prosesnya jauh lebih kompleks daripada ungkapan populer “sisik ikan menjadi baterai”. Tim melakukan pirolisis pada suhu 600, 700, dan 800 derajat Celsius, menghasilkan HC-600, HC-700 dan HC-800. Struktur, morfologi, komposisi dan karakter elektrokimianya kemudian dibandingkan. Seluruh sampel menghasilkan karbon turbostratic dengan jarak antarlapis lebih besar daripada grafit, karakter yang menarik untuk penyimpanan ion natrium.
Hasilnya memperlihatkan bahwa angka tertinggi tidak selalu berarti material terbaik. HC-600 menghasilkan kapasitas discharge awal tertinggi, 111,61 mAh/g, tetapi Initial Coulombic Efficiency hanya 37,8 persen. HC-800 justru memiliki ICE tertinggi 69,2 persen dan Coulombic Efficiency pada siklus kedua mencapai 94,8 persen. Hambatan perpindahan muatannya juga paling rendah di antara ketiga sampel. Karena kombinasi karakter tersebut, HC-800 dinilai paling prospektif untuk diteliti lebih lanjut.
Kata “prospektif” menjadi penting. Penelitian ini belum menghasilkan baterai komersial dari sisik ikan. Yang telah dibuktikan adalah kemampuan mengubah biomassa tersebut menjadi hard carbon yang menunjukkan karakter elektrokimia sebagai kandidat material anode baterai ion-natrium. Literatur ilmiah juga menunjukkan hard carbon merupakan salah satu material penting untuk anode baterai jenis ini, tetapi tantangan seperti efisiensi awal dan kestabilan siklus masih menjadi pekerjaan besar.
Tim Unpad sendiri belum berhenti pada hasil tersebut. Penelitian berikutnya diarahkan pada karakterisasi kimia permukaan menggunakan XPS serta pengujian stabilitas hingga 50 siklus. Tahapan ini penting karena material penyimpan energi tidak cukup dinilai dari performa siklus pertama. Kemampuan mempertahankan kinerja setelah pengisian dan pengosongan berulang menjadi bagian penting dalam menilai potensinya.
Klaim keberlanjutan juga perlu dibaca secara hati-hati. Sisik nila memang berasal dari limbah, tetapi proses pirolisis membutuhkan temperatur hingga 800 derajat Celsius. Artinya, penggunaan limbah sebagai bahan baku belum otomatis membuat keseluruhan proses menjadi rendah energi atau rendah emisi. Pada tahap lebih lanjut diperlukan perhitungan konsumsi energi, biaya produksi dan dampak lingkungan sebelum keunggulan ekologisnya dapat dinilai secara utuh.
Persoalan berikutnya adalah skala. Laboratorium bekerja dengan bahan terbatas dan kondisi terkontrol, sedangkan industri membutuhkan pasokan sisik yang kontinu, mutu bahan seragam, proses produksi konsisten dan biaya kompetitif. Jarak dari gram material di laboratorium menuju produksi massal bisa menjadi tantangan yang sama besarnya dengan menemukan material itu sendiri.
Justru di sinilah riset mahasiswa Unpad menarik. Nilainya tidak perlu dibesarkan dengan klaim bahwa sisik ikan telah menjadi solusi baru industri baterai. Penelitian ini mempertemukan dua persoalan yang sebelumnya tampak berjauhan: limbah perikanan dan kebutuhan material penyimpan energi. Limbah bernilai rendah memperoleh kemungkinan fungsi baru melalui rekayasa material.
Perjalanan sisik nila itu karena itu baru dimulai. Pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar apakah limbah tersebut dapat menjadi hard carbon, tetapi apakah materialnya dapat dibuat semakin efisien, stabil, murah dan konsisten dalam skala besar. Jika rangkaian pembuktian itu berhasil dilalui, sesuatu yang dahulu berakhir di tempat pembuangan mungkin suatu hari menemukan tempatnya dalam rantai teknologi penyimpanan energi masa depan.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY