
Keterangan Gambar : Banyak persoalan terasa besar bukan semata karena beratnya masalah, melainkan karena pikiran kita belum mampu melihatnya dengan jernih.
Perwirasatu.co.id, 18 September 2026.
Banyak persoalan terasa besar bukan semata karena beratnya masalah, melainkan karena pikiran kita belum mampu melihatnya dengan jernih. Menuliskan masalah, menentukan batas waktu, lalu mengerjakannya dengan disiplin adalah ikhtiar sederhana yang bernilai besar. Islam mengajarkan bahwa kejernihan tujuan, perencanaan, kesungguhan, dan tawakal harus berjalan bersama agar hidup tidak habis dalam kebingungan, penundaan, serta kecemasan yang melelahkan jiwa.
Ungkapan bahwa “ketika masalah ditulis dengan jelas, separuh jalan menuju solusi telah ditemukan” mengandung pelajaran penting. Ketika kegelisahan hanya berputar di kepala, masalah sering tampak lebih rumit daripada kenyataannya. Namun ketika dituliskan: apa masalahnya, apa penyebabnya, apa yang dapat dilakukan, dan langkah apa yang harus dimulai, pikiran menjadi lebih tertata. Inilah salah satu bentuk tafakur yang sehat: menghadapi kenyataan dengan jernih, bukan melarikan diri darinya.
Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini mengajarkan evaluasi sekaligus orientasi ke depan. Seorang mukmin tidak hanya bertanya, “Mengapa masalah ini terjadi?” tetapi juga, “Apa yang harus aku lakukan setelah ini?” Masa lalu menjadi bahan pelajaran, bukan tempat tinggal. Kesalahan dicatat untuk diperbaiki, kelemahan dikenali untuk dikuatkan, dan tujuan ditetapkan agar langkah tidak kehilangan arah.
Demikian pula ungkapan yang dikenal sebagai Hukum Parkinson: pekerjaan cenderung menghabiskan waktu sebanyak waktu yang disediakan. Pesannya sederhana: tanpa batas waktu, pekerjaan kecil dapat terus tertunda. Karena itu Islam sangat menghargai waktu. Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ashr ayat 1-3:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”
Waktu bukan sekadar ruang untuk bekerja, tetapi amanah kehidupan. Rasulullah ﷺ bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Karena itu jangan menunggu suasana sempurna untuk memulai. Tuliskan masalah dengan jujur. Pisahkan yang dapat kita kendalikan dari yang berada di luar kemampuan kita. Tentukan prioritas, tetapkan waktunya, lalu kerjakan langkah terkecil yang mungkin dilakukan hari ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (HR. Muslim)
Inilah keseimbangan seorang mukmin: berpikir jernih tanpa merasa paling mampu, merencanakan dengan sungguh-sungguh tanpa merasa dapat mengendalikan segalanya, bekerja disiplin tanpa diperbudak kesibukan, kemudian menyerahkan hasil kepada Allah. Kita menulis rencana, tetapi Allah menentukan perjalanan. Kita menetapkan waktu, tetapi Allah yang memberkahi waktu. Kita mencari solusi, tetapi Allah yang membuka jalan.
Maka ketika masalah datang, jangan hanya mengeluhkannya. Duduklah, tenangkan hati, tuliskan dengan jelas, berdoalah, susun langkah, tetapkan batas waktu, lalu bergerak. Bisa jadi persoalan yang selama ini terasa seperti gunung ternyata dapat dilalui melalui langkah-langkah kecil yang istiqamah. Sebab keberhasilan bukan hanya tentang menemukan solusi, tetapi juga tentang menjadi hamba yang semakin tertib ikhtiarnya, semakin bijaksana menggunakan waktunya, dan semakin kuat tawakalnya kepada Allah.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat


















LEAVE A REPLY