Home Artikel Garibaldi Tiba, Ujian Kapal Induk Indonesia Dimulai

Garibaldi Tiba, Ujian Kapal Induk Indonesia Dimulai

6
0
SHARE
Garibaldi Tiba, Ujian Kapal Induk Indonesia Dimulai

Keterangan Gambar : ITS Giuseppe Garibaldi berlayar bersama KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, disertai helikopter Panther serta pesawat TNI AL. Bekas kapal induk Italia itu telah memasuki ALKI I dan dijadwalkan tiba di Tanjung Priok, Jumat, 18 September 2026.

Perwirasatu.co.id, 18 September 2026

Di perairan Bangka, sebuah formasi yang belum pernah menjadi pemandangan biasa bagi kekuatan laut Indonesia bergerak menuju Jakarta. ITS Giuseppe Garibaldi berlayar bersama KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, disertai helikopter Panther serta pesawat TNI AL. Bekas kapal induk Italia itu telah memasuki ALKI I dan dijadwalkan tiba di Tanjung Priok, Jumat, 18 September 2026.

Kedatangan Garibaldi membuka babak baru bagi TNI AL. Kapal yang nantinya bernama KRI Sriwijaya itu akan menjadi kapal induk pertama Indonesia. Namun sejarah tidak ditentukan oleh seberapa megah sebuah kapal memasuki pelabuhan. Ujian sesungguhnya adalah apakah Indonesia mampu mengubah kapal hibah tersebut menjadi kemampuan pertahanan yang efektif dan berkelanjutan.

Garibaldi berangkat dari Italia pada 24 Agustus, dikawal unsur Angkatan Laut Italia dan sempat singgah di Sri Lanka. Setelah memasuki perairan Indonesia, pengawalan dilakukan KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi. Dua helikopter AS565 Panther, Cassa NC212 dan CN-235 juga terlibat dalam rangkaian penyambutan.

Nama kapal pun mengalami perubahan menjelang kedatangannya. Sebelumnya KSAL Laksamana Muhammad Ali menyebut kapal itu akan bernama KRI Gajah Mada. Namun Koarmada RI pada 17 September memastikan nama yang digunakan adalah KRI Sriwijaya.

Di balik momentum historis tersebut terdapat persoalan yang jauh lebih kompleks. Memiliki kapal induk tidak otomatis membuat sebuah negara memiliki kekuatan kapal induk. Kapal semacam ini membutuhkan awak, doktrin, penerbangan laut, fasilitas pangkalan, pemeliharaan, logistik, kapal pengawal, sistem komunikasi dan anggaran yang terintegrasi.

TNI AL telah menyiapkan 310 personel calon awak KRI Sriwijaya. Mereka menjalani pelatihan untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan profesionalisme sebelum bertugas. Persiapan manusia ini justru menjadi salah satu ukuran terpenting keberhasilan proyek Garibaldi. Teknologi hanya berguna jika personel mampu mengoperasikan dan merawatnya secara mandiri.

Persoalan berikutnya adalah biaya. Komisi I DPR pada 20 Juli menyetujui hibah Garibaldi dari Italia dengan nilai tercatat €54,02 juta. Status hibah tidak berarti kapal dapat dioperasikan tanpa beban anggaran. Kapal tetap membutuhkan retrofit, pemeliharaan mesin dan lambung, suku cadang, fasilitas penerbangan, bahan bakar, pelatihan serta modernisasi sepanjang siklus hidupnya.

Karena itu DPR menekankan kesiapan doktrin, keberlanjutan anggaran, transfer teknologi dan keterlibatan industri pertahanan nasional. Garibaldi akan jauh lebih bernilai jika tidak berhenti sebagai tambahan inventaris, tetapi menjadi laboratorium besar bagi pengembangan penerbangan laut dan penguasaan teknologi maritim Indonesia.

Manfaatnya juga tidak harus dibatasi pada peperangan. Pemerintah dan TNI AL telah membuka kemungkinan penggunaan kapal untuk helikopter dan drone, termasuk mendukung operasi kemanusiaan serta penanggulangan bencana. Bagi negara kepulauan dengan ribuan pulau dan wilayah rawan bencana, kemampuan menjadikan kapal sebagai pangkalan bergerak mempunyai nilai strategis tersendiri.

Namun semua itu membutuhkan ukuran keberhasilan yang jelas. Berapa tingkat kesiapan operasional kapal? Seberapa besar kemampuan pemeliharaan dapat dilakukan di dalam negeri? Seberapa jauh transfer teknologi berlangsung? Dan apakah biaya operasinya sebanding dengan kemampuan yang diperoleh?

Ketika Garibaldi bersandar di Tanjung Priok, satu perjalanan panjang dari Italia memang berakhir. Tetapi setelah tali tambat terikat, pekerjaan sebenarnya justru dimulai.

Indonesia tidak hanya sedang menerima sebuah kapal besar. Indonesia sedang menguji apakah mampu membangun ekosistem kapal induk pertamanya. Sejarah KRI Sriwijaya pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh kemegahan kedatangannya, melainkan oleh kemampuan yang dapat dibangun di atas geladaknya.

Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Iklan Detail Video

Iklan_home