
Keterangan Gambar : Setiap hari kita menanam sesuatu dalam kehidupan: iman, amal, kebiasaan, atau kelalaian. Semua itu kelak menjadi bekal ketika dunia ditinggalkan dan manusia memasuki alam kubur.
Perwirasatu.co.id, 20 September 2026
Setiap hari kita menanam sesuatu dalam kehidupan: iman, amal, kebiasaan, atau kelalaian. Semua itu kelak menjadi bekal ketika dunia ditinggalkan dan manusia memasuki alam kubur. Karena itu, keteguhan hari ini bukan sekadar untuk menghadapi ujian dunia, tetapi juga persiapan agar Allah memberi keteguhan ketika kita berhadapan dengan pertanyaan dan kehidupan setelah kematian.
Dalam kajian kitab At-Tanbihaat As-Sanniyyah ’alal ’Aqiidah Al-Wasithiyyah, Syekh Prof. Dr. Abdurrazzaq Al-Badr menyampaikan sebuah faidah yang sangat dalam:
اَلْمَرْءُ عَلَى قَدْرِ ثَبَاتِهِ وَاسْتِقَامَتِهِ فِي الدُّنْيَا، يَكُونُ ثَبَاتُهُ فِي الْقَبْرِ وَمَا بَعْدَهُ
“Seseorang, sesuai kadar keteguhan dan istiqamahnya di dunia, demikian pula keteguhannya di alam kubur dan setelahnya.”
Kalimat ini mengajak kita memahami bahwa kehidupan dunia bukan sekadar perjalanan menuju kematian, melainkan kesempatan membentuk diri dengan iman dan amal saleh. Apa yang berulang kali kita lakukan akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan yang terus dijaga dapat membentuk keteguhan hati. Karena itu, jangan meremehkan amal yang terlihat kecil apabila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah.
Allah berfirman:
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keteguhan merupakan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang beriman. Maka kita tidak boleh merasa aman hanya karena pernah berbuat baik. Kita harus terus memohon pertolongan-Nya agar hati tetap berada di atas iman hingga akhir kehidupan.
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita memperbanyak doa memohon keteguhan hati. Beliau bersabda:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)
Jika Rasulullah ﷺ saja mengajarkan doa tentang keteguhan hati, bagaimana mungkin kita merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah? Hati manusia mudah berubah. Hari ini bersemangat beribadah, tetapi esok dapat melemah. Hari ini mencintai kebaikan, tetapi tanpa penjagaan iman seseorang dapat tergelincir.
Karena itu, menjaga salat bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi melatih jiwa untuk tunduk kepada Allah. Menjaga kejujuran bukan hanya menjaga nama baik, tetapi membangun karakter yang tidak mudah goyah. Menjauhi maksiat bukan hanya takut kepada hukuman, tetapi bentuk kecintaan kepada Allah dan keselamatan diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ، إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ﷺ؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ...
“Sesungguhnya seorang hamba apabila diletakkan di dalam kuburnya dan orang-orang yang mengantarkannya telah berpaling, ia benar-benar mendengar suara sandal mereka. Kemudian datang kepadanya dua malaikat, lalu keduanya mendudukkannya dan bertanya: ‘Apa yang dahulu engkau katakan tentang orang ini, Muhammad ﷺ?’ Adapun orang mukmin, ia menjawab: ‘Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya...’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar pengakuan di lisan. Iman yang benar harus hidup dalam keyakinan, ucapan, dan amal. Ketika seseorang membiasakan diri mencintai kebenaran, menaati Allah, mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ, serta bertaubat ketika terjatuh, ia sedang mempersiapkan dirinya menghadapi kehidupan yang lebih panjang daripada kehidupan dunia.
Maka jangan hanya bertanya, “Apakah aku siap menghadapi kematian?” Tanyakan pula, “Apa yang sedang aku tanam sebelum kematian datang?” Apakah salat kita semakin terjaga? Apakah Al-Qur’an semakin dekat dengan hati? Apakah dosa yang dahulu biasa dilakukan mulai ditinggalkan? Apakah lisan semakin terjaga dari dusta, ghibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti? Apakah hati semakin mudah memaafkan dan semakin takut kepada Allah?
Kubur tidak membutuhkan harta yang kita tinggalkan. Kubur tidak membawa gelar, jabatan, popularitas, maupun pujian manusia. Yang menemani seseorang adalah apa yang telah dipersiapkannya selama hidup. Karena itu, mari memperbaiki iman sebelum datang waktu ketika kesempatan beramal telah berakhir.
Semoga Allah meneguhkan hati kita di atas tauhid dan ketaatan, menjaga kita agar istiqamah dalam kebenaran, mengampuni dosa-dosa kita, menerangi kubur kita, serta memberi keteguhan ketika menghadapi kehidupan setelah kematian. Semoga akhir hidup kita ditutup dengan iman dan husnul khatimah. Aamiin.
Sumber: Dwi Taufan Hidayat

















LEAVE A REPLY