
Keterangan Gambar : persoalan paling mendasar: air. Ketika sumur mengering, mata air menyusut dan sumber air semakin jauh dijangkau
Perwirasatu.co.id , Jakarta - Di tengah musim kemarau, suara mesin mobil tangki menjadi penanda bahwa sebuah wilayah sedang menghadapi persoalan paling mendasar: air. Ketika sumur mengering, mata air menyusut dan sumber air semakin jauh dijangkau, warga tidak membutuhkan janji pembangunan yang panjang. Mereka membutuhkan air hari itu juga.
Hingga 17 September 2026, Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan telah menyalurkan sekitar 23,2 juta liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah, sekitar 22,77 juta liter disalurkan ke 12 lokasi dan melayani sekitar 314 ribu jiwa. Cilacap menjadi salah satu wilayah dengan distribusi terbesar. Sejak Juni, sekitar 7,4 juta liter air telah disalurkan bagi sekitar 93 ribu jiwa.
Di Jawa Timur, hingga 16 September tercatat 56 kejadian kekeringan di wilayah permukiman. Penanganan telah menjangkau sekitar 58 ribu jiwa dengan dukungan 15 mobil tangki. Angka-angka tersebut menunjukkan satu hal: kekeringan bukan lagi sekadar persoalan datangnya musim kemarau, tetapi persoalan kemampuan sistem menyediakan air ketika sumber alami menyusut.
Respons darurat tentu harus dilakukan. Mobil tangki, tandon, pemetaan sumber air dan koordinasi pemerintah daerah menjadi penyelamat ketika masyarakat tidak lagi memiliki cadangan. Dalam keadaan seperti itu, menunggu bendungan atau jaringan perpipaan baru bukan pilihan. Air dibutuhkan sekarang.
Namun, distribusi air memiliki batas. Mobil tangki tidak dapat menggantikan mata air. Truk tidak dapat menggantikan daerah tangkapan air. Bantuan tidak dapat menjadi satu-satunya model kebijakan setiap kali kemarau datang.
Data BMKG Jawa Timur memperlihatkan mengapa kewaspadaan tidak boleh berhenti pada angka bantuan. Pada 10 September, BMKG mencatat hari tanpa hujan di sejumlah besar wilayah Jawa Timur berada pada kategori kekeringan ekstrem, sementara curah hujan dasarian awal September umumnya rendah. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap sumber air dapat berlangsung ketika cadangan semakin menipis.
Di sisi lain, kondisi meteorologis tidak otomatis menjelaskan mengapa sebuah desa mengalami krisis air lebih parah dibanding desa lain. Kerentanan juga dipengaruhi kondisi sumber air, geologi, jaringan distribusi, kapasitas penyimpanan, kepadatan penduduk dan kesiapan pemerintah daerah.
Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan kekeringan tidak semestinya berhenti pada berapa juta liter air yang telah dikirim. Pertanyaan yang lebih penting adalah: berapa lama warga masih harus menunggu mobil tangki?
Jawa Timur memberi gambaran mengenai kebutuhan solusi jangka panjang. Pemerintah provinsi menyebut 24 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Penanganan tidak hanya dilakukan melalui distribusi air, tetapi juga pencarian sumber permanen, pengeboran, pembangunan embung dan penguatan tampungan air.
Pendekatan seperti itu perlu diperluas. Desa yang setiap tahun mengalami krisis seharusnya memiliki peta risiko, data kebutuhan air, cadangan, sumber alternatif dan rencana sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. Infrastruktur air juga harus berjalan bersama perlindungan daerah resapan, pengelolaan air tanah dan pemeliharaan lingkungan.
Di sinilah kekeringan seharusnya menjadi pelajaran pembangunan. Air hujan yang melimpah pada musim penghujan tidak cukup hanya dialirkan secepat mungkin ke sungai dan laut. Sebagian harus ditangkap, disimpan dan dikelola agar menjadi cadangan ketika kemarau tiba.
Masyarakat pun bukan sekadar penerima bantuan. Penghematan air, penampungan air hujan, perlindungan sumber dan pengawasan penggunaan air merupakan bagian dari ketahanan bersama. Tetapi tanggung jawab utama menyediakan layanan dasar tetap berada pada negara dan pemerintah daerah.
Dua puluh tiga juta liter air adalah bukti bahwa negara bergerak ketika krisis datang. Tetapi angka itu sekaligus menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang sistem airnya belum cukup tangguh menghadapi kemarau.
Tujuan akhir kebijakan kekeringan bukan membuat mobil tangki terus berjalan. Tujuannya adalah membuat masyarakat semakin jarang membutuhkan mobil tangki.
Sebab ketika mesin truk akhirnya pergi, pertanyaan paling penting justru baru dimulai: dari mana air warga untuk hari esok?
Sumber
(Dwi Taufan Hidayat)

















LEAVE A REPLY